Kualitas Oposan Kita

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Sampai kapan kaum oposan hadir dalam dunia kekuasaan? Selama kata dan praktik kekuasaan itu ada. Dari sejak Ken Arok hingga kini. Oposan ibarat minyak dalam air. Selalu di atas karena selalu merasa lebih pintar dan benar, dibanding pemerintah. Itu fitrah keberadaannya, untuk revanche, mengubah kekalahannya.

Yang dimaksud bukan hanya partai oposisi di parlemen. Bahkan lebih sengit dari itu, apa yang terjadi pada akar-rumput. Masyalat terbelah dalam dua kelompok. Dan tak bisa dicairkan biar pun yang menang telah resmi dilantik berdasar konstitusi, dan sang pecundang tetap meyakini dialah pemimpin yang sejati, yang tercurangi.

 

 

Dalam dunia politik, oposisi berarti partai penentang di dewan perwakilan, yang menentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa. Tapi bias yang terjadi karena praktik politik kita, politik kemudian sebagaimana halnya agama. Apalagi, jika kedua hal tersebut jadi satu, politik dan agama. Dari sudut mana pun bacaannya tidak indah, seperti politik keagamaan atau pun agama yang dipolitisasi.

Oposisi kemudian lebih dimaknai dalam logika pertentangan antara dua pernyataan, atas dasar pengolahan term yang sama. Pertentangan diartikan juga dengan hubungan logis, yang di dalamnya terkandung suatu penilaian benar atau salah terhadap dua pernyataan yang diperbandingkan.

Tapi dalam konteks masa kini, terasa lebih rumit lagi. Apalagi menjadi oposan lebih sebagai taktik, untuk menjatuhkan lawan yang berkuasa. Bukan lagi pada peran serta dalam proses pemikiran, untuk sama-sama bergotong royong dengan pemerintahan yang sah.

Dalam tingkat oposisi yang lebih kompleks, oposisi berupa hubungan logis antara dua pernyataan, atas dasar dua term yang sama sebagai subyek dan predikat, tetapi beda dalam kuantitas atau kualitasnya.

Kompleksitasnya lebih karena niatan. Makna oposisi di Indonesia lebih merupakan cerminan peradaban purba kita. Bukan pengritik yang awas, melainkan sebagai si wts alias waton sulaya dalam rangka mencuri panggung. Apalagi menjadi oposan karena kekecewaan mengalami kekalahan. Energy kekecewaan pun disalurkan untuk menaikkan level persaingan menjadi permusuhan.

PKS juara dalam hal ini, disusul Gerindra. Sementara Demokrat, sangat tergantung mood SBY. Asal nggak baper, Demokrat anteng. AHY selaku dan anak muda, membiasakan hal baik. Menyampaikan kritik cukup strategis, berkait revolusi mental. Apakah Fadli Zond an Fahri Hamzah (ini tak jelas mewakili siapa), bisa meniru AHY? Pasti gengsi.

Akan halnya PAN dan PKB, yang menyatakan berada di kubu pemerintah? Partai dengan karakter keduanya, bisa jadi bernasib malang karena alay dan jablai.

Kritik oposan cenderung tendesius. Tak pernah berdasar kajian empiris, apalagi akademik (padahal mereka punya tim ahli dan staf khusus). Maka wajar jika kritik mereka jadi tendensius. Apalagi yang hanya bertaraf curhatan di permukaan. Makin tak berharga oposannya, jika kemudian lebih mementingkan impresi, dan dampak ke publik. Sumbangan pemikiran politik nyaris tak terdengar, karena sekedar sibuk politicking.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Thursday, June 14, 2018 - 05:30
Kategori Rubrik: