Kualitas Iman

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Kualitas seseorang dalam beragama tidak cukup ditentukan dengan kualitas formal..., fisik..., atau ucapan semata...; melainkan perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku nyata dalam kehidupan..., yang ditandai dengan...: keharmonisan..., toleransi..., saling bantu membantu..., dan saling menghargai satu dengan lainnya.

Dalam hal hal tertentu..., masih banyak di antara manusia yang secara formal pantas dikatakan orang yang beragama..., tetapi secara substansi belum layak dikatakan beragama.

Secara bahasa..., mudah sekali membedakan antara ciri orang yang beragama dengan orang yang tidak beragama.

Orang yang beragama..., berarti menyakini/mengimani adanya Tuhan Yang Maha Esa/Allah SWT.

Sedangkan orang yang tidak beragama..., sama sekali tidak mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Performance kehidupan sehari-hari antara orang yang beragama dengan orang yang tidak beragama pasti berbeda.

Persoalannya...; apakah dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara..., orang yang beragama benar-benar mampu melaksanakan ciri yang ideal sebagai orang yang beragama... ?

Karakteristik orang yang beragama..., dalam hal ini Islam..., jelas diatur dalam alqur’an surah al mukminuun 1-10..., antara lain...:

(a) Khusyu’ dalam sholat;

(b) Menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna;

(c) Memiliki kepekaan sosial..., yang dilambangkan dengan rajin menunaikan zakat;

(d) Selalu menjaga harga dirinya dengan cara yang baik;

(e) Selalu berusaha melaksanakan dan menjaga amanah yang diberikan;

(f) Menjaga atau memelihara ibadah sholatnya;

(g) Tidak merasa dirinya paling unggul alias tawadlu’;

(h) Selalu merasa memiliki kesalahan..., sehingga tidak mudah menuduh orang lain bersalah.

Rasulullah SAW memberikan batas minimal bagi seorang yang disebut beragama atau muslim...; yaitu...:

Disebut muslim itu..., apabila muslim-muslim lain merasa aman dari lidah dan tangannya. (HR. Muslim).

Tidak jarang pula Nabi SAW menganjurkan dengan cara peringatan..., seperti...:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya..., hendaknya dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.
(HR. Bukhari).

Substansi orang yang beragama..., terletak pada kesadaran dan kemampuan secara integratif antara peran vertical (hablum minallah) dan horizontal (hablum minannas).

Orang yang hanya mementingkan hablum minallah saja..., sama dengan orang “Sok Islam”.

Sedangkan orang yang hanya mementingkan hamlum minannas saja..., dapat dikategorikan sebagai sekuler.

Konsekuensi dari kualitas hablum minallah (taat kepada Allah swt)..., harus diejawantahkan ke dalam kualitas perilaku dengan sesama manusia dan lingkungan.

Oleh sebab itu..., orang yang beragama selain berkualitas ketaatan kepada Allah swt.. , pasti juga berkualitas dalam melakukan komunikasi atau mejalani kehidupan dengan sesama manusia.

Jadi..., profil orang yang beragama yang benar adalah...:

1. Tidak akan dengan mudah menjelek-jelekkan..., menyalahkan..., dan merasa paling benar sendiri.

2. Tidak akan pernah menyerang kelompok lain..., yang dianggap bersalah dalam pandangan dirinya sendiri.

3. Tidak akan mencaci maki orang lain..., hanya gara-gara dendam kesumat ataupun iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain.

4. Tidak egois (mementingakan diri sendiri) di tengah kesulitan dan penderitaan orang lain.

5. Tidak akan berfoya-foya di atas kesulitan orang lain.

Bangsa Indonesia dikenal bangsa yang taat beragama..., tetapi sampai hari ini masih terasa hidup tidak berada di lingkungan beragama.

Banyak fenomena yang menunjukkan kecenderungan suasana yang bertentangan dengan hal tersebut di atas..., antara lain...:

* Begitu mudahnya kelompok satu menyalahkan..., bahkan menyerang kelompok lain...; hanya karena dianggap sesat menurut pikiran dan pemahaman mereka yang sempit atau picik.

Di tanah air kita tercinta..., banyak dan seringkali terjadi kerusuhan atau konflik hanya gara gara salah paham.

* Begitu mudahnya seseorang menghabisi nyawa orang lain..., dengan alasan alasan yang tidak bisa diterima oleh nilai2 kemanusiaan..., nilai2 agama..., dan sosial.

Sangat tidak masuk di akal..., jika ada bom bunuh diri dengan alasan jihad atau ingin mati sahid.

* Maraknya aksi pengrusakan/anarkis di berbagai wilayah..., dengan alasan menyampaikan aspirasi..., demokrasi..., dan reformasi.

* Para elitpun tidak memiliki sensitivitas sosial..., di tengah tengah masyarakat sangat membutuhkan anggaran..., tetapi para wakil rakyat justru berfoya-foya dengan menggunakan anggaran yang tidak penting bagi kepentingan rakyat.

Uang rakyat puluhan milyar hanya untuk merenovasi ruang rapat..., renovasi toilet..., untuk mencetak kalender...; sementara masih banyak gedung sekolah yang tidak layak pakai..., rumah rumah penduduk yang tidak layak huni..., WC yang tidak sesuai dengan standard kebersihan dan kesehatan.

Secara formal masyarakat memang beragama..., tetapi secara substansi sangat jauh dari pesan dan nilai nilai agamanya.

Sebagai bahan perenungan...:

"Sampai kapan bangsa Indoensia berada dalam situasi seperti ini..., dan siapa yang harus memulai untuk merubah menjadi karakter orang yang beragama dalam artian yang sebenarnya...?

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Thursday, August 13, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: