Kritisisme

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Dalam segala hal saya mencoba kukuh bersikap kritis, termasuk beragama dan memilih presiden.

Saya tak segan melayangkan kecaman terhadap protestantisme atau sikap umatnya.

Saya juga tak ewuh menaikkan protes kepada beberapa hal yang saya anggap keliru dari Joko Widodo.

Tapi kalau karena itu beberapa orang kemudian menawarkan buku bacaan Islam sembari mengajak saya memeluk agama Islam, kalian tak paham apa yang dimaksud bersikap kritis.

Dan juga kalau ternyata ada lebih dari 10 grup berwawasan Prabowo-Sandi dengan seenaknya memasukkan saya ke tengah mereka, dunia kalian memang cuma terdiri dari 2 warna: hitam-putih.

Padahal dunia saya true-color, hi definition. Saya mencintai Protestan sembari tiap hari mengecamnya. Saya berpihak kepada Jokowi sambil tak lupa mencubitnya di sini-sana. Saya mencintai Muna dan anak-anak sembari tak lalai menegur dan menjewer.

Apa itu sulit dipahami?

Saya tak mau meladeni buku-buku agama yang kalian kirim. Repot jadinya kalau nanti kalian malah masuk Kristen.

Saya juga tak bersedia terlibat dalam grup diskusi atau perbincangan Prabowo-Sandi. Percuma. Yang saya tengok, kalian membutakan diri dari berbagai info terkini.

Kasus bendera di belakang rumah HRS (dia berstatus terperiksa, maka layak saya sebut namanya dengan akronim) di Riyadh sebetulnya sudah cukup untuk membuka mata kalian.

Tapi kalau kalian masih doyan main di lumpur hoax, saya mulai curiga bahwa itu memang habitus sejati kalian.

Hentikan.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian.

Friday, November 9, 2018 - 18:15
Kategori Rubrik: