Kritik Terhadap Buku Anak

ilustrasi

Oleh : Ade Kumalasari

Di timeline saya ramai postingan yang mengkritik (dalam bahasa Ruwi Meita, merenungi) kritik dewan juri Sayembara Novel Anak DKJ 2019. Yang dikritik terutama pertanggungjawaban juri yang menyatakan bahwa 'penulisan buku anak diserahkan pada penulis yg tidak cakap, penulis bagus tidak ada yang menulis buku anak.' Di sini masalahnya. Menurut Dian Kristiani, juri terlalu menggeneralisasi SEMUA penulis buku anak tidak ada yang cakap, dan penulis bagus (di genre lain, menurut dewan juri) tidak ada yang mau menulis buku anak. Akan lain ceritanya kalau juri hanya membatasi pernyataannya tentang naskah buku anak yang diikutkan sayembara tahun ini. Karena sebenarnya kita punya penulis buku anak yang cakap, terutama untuk buku-buku bergambar (picture books) yang semakin bagus kualitas cerita dan ilustrasinya. Untuk novel anak pun, kita punya penulis bagus, setidaknya ada Clara Ng dan Okky Madasari. Meski menurut saya, pilihan bacaan novel anak untuk usia 9-12 tahun masih sangat kurang.

Ingatan saya melayang ke tahun 2000-an, ketika banyak sekali kritik tajam untuk Dewi Lestari yang menerbitkan novel perdananya, Supernova. Para kritikus sastra berpolemik berhari-hari di koran nasional, membahas apakah karya anak bau kencur seperti Dewi Lestari (waktu itu usia 25 tahun, cmiiw) patut dipertimbangkan sebagai karya sastra.

Lalu di tahun 2004, muncul lagi kritikan terhadap novel-novel teenlit, yang dipelopori Dealova. Kritikannya cukup pedas untuk penulis-penulis remaja ini, menganggap karya mereka seperti novel sampah, karena memakai bahasa gaul dan prokem. Namun ada satu begawan sastra yang membela genre ini, terima kasih Pak Budi Darma idolaque Beliau mengatakan, biar lah anak-anak remaja membaca bacaan yang cocok untuk usianya. Sekarang, genre teenlit ini sudah semakin berkembang dan mulai mapan dengan penulis-penulis yang semakin bagus kualitasnya.

Tentang buku untuk anak-anak, tulisan Ayesha (putri Mbak Maya Lestari Gf) mengingatkan kita semua bahwa tidak apple to apple kalau membandingkan kualitas naskah kita dengan buku-buku anak terbitan luar negeri yang sudah mapan budaya literasinya. Ini yang secara tidak sadar saya lakukan (diam-diam) ketika saya kembali dari Australia tahun 2012, dan merasa susah sekali menemukan buku anak yang 'bagus.' Tentu saja, kurangnya buku anak dengan kualitas bagus bukan hanya salah penulis. Ekosistem buku anak belum mendukung. Itu zaman ketika penerbit belum mau menerbitkan naskah yang 'tidak ada moral ceritanya.' Penerbit masih takut kalau orang tua calon pembeli buku protes, sudah keluar banyak uang kok bukunya hanya gambar-gambar saja, nggak ada teks-nya. Ini sungguh-sungguh terjadi.

Tapi pelan-pelan genre buku bergambar ini mulai menggeliat. Masyarakat mulai mau mengeluarkan uang untuk buku-buku yang lebih banyak gambarnya daripada teks-nya Tema-tema yang diangkat pun semakin beragam, bahkan tema-tema sensitif seperti pendidikan seks untuk anak.

Mungkin tahun ini merupakan tahun 'babat alas' untuk penulis novel anak (chapter book). Para penulis finalis DKJ ini membuka jalan untuk naskah-naskah yang lebih berwarna-warni ke depannya.

Kabar baiknya, dari semua huru-hara ini adalah: tahun depan (2020) kita bakalan bisa membeli dan membaca SEMBILAN novel anak, dari penulis yang 'menarik perhatian juri' DKJ. Aku bakalan beli semua karya dan membujuk anakku untuk ikut membaca dan menanggapi. Biar lah anak-anak yang akan menjadi juri finalnya.

Salam sayang untuk semua penulis buku anak yang sudah mencurahkan segenap tenaga dan kreativitas mereka untuk menulis buku anak yang bagus dan menarik: Clara Ng, Watiek IdeoOkky MadasariDian KristianiTria Ayu KMaya Lestari Gf'Dini' Dian Kusuma WardhaniRuwi MeitaNindia NurmayasariNabila Azzahra Syahbani

Tetap semangat berkarya ya.

Foto: ulasan Lil A (then 7 yo) yang tanpa beban mengkritik Roald Dahl agar menulis dengan lebih 'nicer' 

Sumber : Status Facebook Ade Kumalasari

Saturday, December 14, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: