Kritik Kriminalisasi Ulama, SBY Lupa Rizieq di Penjara Saat Dia Presiden

Ilustrasi

Oleh : Palti Hutabarat

Maling teriak maling. Itulah sepertinya istilah yang pantas diberikan kepada Ketua Umu Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang menyindir pemerintahan Jokowi yang dinilainya sedikit-sedikit mudah mengkriminalkan, khususnya para ulama. SBY seperti orang yang tidak pernah jadi Presiden dan tidak pernah menjadi seorang muslim.

Mengapa saya mengatakan seperti tidak pernah jadi Presiden?? Karena sebagai seorang Presiden seharusnya memahami makna “mengkriminalkan”. Kata “mengkriminalkan” adalah kata dengan makna sengaja atau seperti ada tujuan tertentu membuat seseorang menjadi seorang kriminal. Padahal sudah jelas bahwa yang salah bukn dikriminalkan, melainkan memang ada bukti dia bersalah.

Bicara tentang status ulama. SBY seharusnya sadar, bahwa untuk mendapatkan gelar ulama itu tidak sembarangan dan bukan juga gelar rendahan yang bisa disematkan kepada siapa saja yang berdakwah. Apakah pantas berdakwah atau berceramah mengumbar kebencian disebut ulama?? Bukankah ulama seharusnya tidak boleh menebarkan kebencian??

Dari dua hal tersebut saja, SBY sudah sangat parah dalam memahami sebuah isu. Meski parah pemahamannya, SBY berhasil memahami cara berpikir kaum micin kencing onta dan kampret yang sedikit-sedikit selalu membawa isu kriminalisasi ulama. Setiap yang ceramah dengan ujaran kebencian dilaporkan, langsung judulnya “kriminalisasi ulama”.

Hebat bukan. Sekarang seseorang bisa disebut seorang ulama bukan karena manfaat hidupnya bagi alam ini, melainkan karena sudah dipanggil polisi dan dijadikan seorang tersangka. Sangat rendahan sekali status ulama tersebut dibuat oleh mereka. Dan SBY dengan sangat baiknya menjadi sama dengan mereka.

Yang paling parah dari pernyataan tersebut adalah SBY lupa pernah di eranya, Rizieq itu ditetapkan menjadi seorang tersangka dan dipenjarakan dengan vonis 1 tahun 6 bulan penjara. Lalu mengapa saat itu dan bahkan sampai sekarang SBY tidak disebut sebagai rezim dan era yang mengkriminalkan ulama?? Apakah karena kemarin melakukan aksi kekerasan dan sekarang cuma perbuatan cabul??

SBY harusnya paham, menjadi seorang mantan itu janganlah resek dan ngesalin. Jadilah mantan yang baik. Sudah tahu tidak banyak prestasi yang dibuat dan hanya terus memelihar keprihatinan, SBY harusnya lebih banyak diam dan tidak perlu mengkritik. Karena setiap mengkritik, maka selalu saja kena kepada dirinya sendiri.

Begitulah pemimpin kalau memimpin dengan tidak benar dan lebih sibuk mengurusi album. Pada akhirnya yang ditinggalkan bukanlah sebuah karya seorang pemimpin, melainkan album yang tidak laku. Rekam jejak buruk yang membuat sekali lagi tidak jadi berguna setiap kritiknya.

Kata orang, teladan berbicara lebih keras daripada perkataan. Dan SBY adalah contoh teladan pemimpin yang buruk sehingga pernyataannya menjadi lemah dan tiada berarti. Sudahlah Pak Mantan. Istirahatlah menimang cucu. Daripada waktumu habis mengkritik orang yang lebih baik daripada dirimu saat jadi Presiden.

Salam Mantan Resek.

Sumber : Indovoice.com

Monday, January 22, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: