"Kritik" dan Indeks Demokrasi di Indonesia

ilustrasi
Oleh : Meilani Buitenzorgy
Indeks demokrasi Indonesia menurun. Apa benar karena kritik terhadap pemerintah diberangus, seperti sabda para pengamat?
Seingat gw, Indeks Demokrasi Indonesia terjun bebas gara-gara peristiwa Ahok. Yang kemudian diikuti oleh persekusi besar-besaran terhadap kelompok moderat yang menyuarakan pendapat mengkritisi politisasi agama di sosial media. Dari kalangan dokter saja paling tidak ada 2 korban. Dokter

yang kemudian harus mendekam di penjara.

Satu lagi dokter Fiera Lovita yang hanya menanggapi soal kaburnya MRS di medsos, lalu diteror dan diintimidasi kelompok keagamaan tertentu (you know lah siapaaaa) hingga ia terpaksa mengungsi keluar dari Sumatra Barat.
Dari kalangan dosen juga ada yang dipersekusi kelompok alumni pasukan negara api, cuma gara-gara si dosen menulis status mengkritisi tokoh idola negara api.
Kalau dari pihak negara api, yang dipolisikan dan dipenjara adalah mereka yang menyebarkan hoax. Lha kalo nyebar hoax ya jatuhnya kriminal dong. Sedangkan dalam Islam aja, hoax/fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.
Jadi, menurut hipotesis gw, indeks demokrasi Indonesia turun lebih karena kasus-kasus pembungkaman dan persekusi terhadap kelompok moderat oleh pasukan negara api. Tolong kasitau SJW, mereka tuh suka pura-pura lupa. Lha ya mosok indeks demokrasi turun gara-gara para penyebar hoax ditangkepin. Lu kira para ahli yang men-develop indeks demokrasi sebego itu apah?
Anyway, tolong kasitau gw kalau beneran ada kasus pihak yang di-penjara gara-gara meng-KRITIK pemerintah secara WARAS. Bisa jadi juga emang gw kurang info yekan.
Sumber : Status Facebook Meilani Buitenzorgy
Saturday, February 20, 2021 - 11:45
Kategori Rubrik: