Kristenisasi

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Menjadi orang Kristen di Indonesia harus diakui memang sulit. Bukan saja harus mengemis-ngemis izin beribadah, tetapi juga apa-apa yang dilakukan dicurigai. Memberikan bantuan korban banjir dituduh kristenisasi. Menolong anak fakir yatim-piatu dituduh kristenisasi. Sepertinya untuk berpindah ke agama Kristen itu semudah memasak mi kejap (instant noodles). Mengucap syahadat kemudian dibaptis. Tidak semudah dan sesederhana itu.

Baptis itu simbol, yang berbeda dari tanda. KBBI yang menjadi kitab suci para polisi bahasa tidak murad membedakan antara simbol dan tanda. Tanda (Latin signum) dipahami sebagai sesuatu yang menjadi alamat atau menyatakan keadaan, gejala, bukti, pengenal, lambang, atau petunjuk. Simbol (Grika symbolon) merupakan sesuatu yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. Tanda dan simbol memiliki ciri pokok yang sama.

Dalam ranah teologis simbol bukan sekadar tanda. Empat ciri pokok simbol (lih. E. Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja, 31-32):

(1) Tanda yang bukan sekadar suatu ungkapan bahasa kosong belaka, tetapi tanda yang menunjuk suatu realitas atau tindakan nyata. Misal, janji pernikahan.
(2) Suatu realitas yang mengatasi hal inderawi. Lampu merah, misalnya, tidak ada tafsir apa pun selain itu perintah kepada pengendara untuk menghentikan kendaraannya. Di sini lampu merah bukan simbol. Air baptisan itu simbol karena menunjuk makna pembersihan atau pengampunan dosa dan penganugerahan hidup baru oleh Allah.
(3) Simbol selalu ada dalam konteks masyarakat atau kebersamaan. Tanpa masyarakat suatu simbol tak bermakna apa pun. Bendera merah-putih tidak bermakna apu pun untuk orang asing, namun sangat bermakna sebagai simbol jatidiri bangsa Indonesia.
(4) Simbol bukan sekadar ada dalam tataran rasional, melainkan menyapa dan menyentuh seluruh diri manusia. Sebuah foto tidak berarti apa pun bagi orang lain. Namun foto seorang ayah atau ibu kita tercinta akan cepat mengingatkan kita akan diri mereka, kasih dan perhatian mereka, dan bahkan tidak jarang orang segera menitikkan air mata. Foto menjadi simbol.

Pada setiap awal tahun akademik baru perguruan tinggi menyelenggarakan acara penyambutan mahasiswa baru. Mereka diberikan orientasi kampus. Tentu yang dimaksud di sini adalah orientasi akademik. Mahasiswa baru mengikuti serangkaian ceramah, diskusi kelompok, pengenalan atat tertib, pelatihan penggunaan fasilitas studi, dlsb. Setelah mengikuti serangkaian orientasi, mahasiswa baru diberi ilmu selama waktu tertentu sesuai SKS yang dibutuhkan. Mereka mengikuti rangkaian perkuliahan, ujian, praktik, ujian akhir, dan pada akhirnya mereka diwisuda. Saat itulah mereka resmi menjadi sarjana dan masuk ke dalam keluarga besar alumni perguruan tinggi tersebut.

Demikian juga halnya untuk menjadi seorang pemeluk agama Kristen. Gereja sebagai bagian komunitas umat manusia juga memiliki tradisi inisiasi. Inisiasi berasal dari kata Latin inire atau initiare, yang berarti memasuki, bergabung ke dalam suatu kelompok. Apabila seseorang hendak menjadi warga gereja, ia harus menjalani tahap-tahap inisiasi yang ditetapkan dan dituntut oleh gereja. Dalam proses inisiasi ini calon baptis juga diberi pengetahuan akademik tentang iman Kristen yang masanya bisa beberapa bulan, setahun, atau dua tahun. Dalam tahapan itu ia juga menempuh semacam ujian lewat percakapan pribadi dengan pejabat gerejawi. Setelah mengikuti rangkaian proses inisiasi, calon baptis kemudian melakukan pengakuan atau professus di hadapan jemaat sebelum dibaptis. Ia mengakui akan kebenaran dan akan menjalani hidupnya sesuai dengan nilai-nilai atau standar moral yang ditetapkan oleh jemaat/gereja. Ia kemudian dibaptis dan resmi menjadi seorang pemeluk agama Kristen dan sekaligus keluarga besar gereja yang menerima anugerah keselamatan dari Allah melalui Yesus Kristus. Dari kata professus itu kemudian dikenal kata profesi, profesional, dan profesor (lih. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=133085707734315&id=100030986591668).

Di perguruan tinggi tidak semua mahasiwa baru pada akhirnya lulus dan diwisuda. Ada beraneka alasan mengapa ada yang tidak bisa lulus. Demikian halnya untuk menjadi seorang pemeluk Kristen. Dalam proses inisiasi tidak semua orang pada akhirnya dibaptis dengan beraneka alasan juga. Menjadi Kristen tidak semudah dan sesederhana seperti dalam tuduhan kristenisasi.

Minggu ini diperingati sebagai Hari Pembaptisan Kristus. Itu sebabnya secara ekumenis bacaan diambil dari Injil Matius 3:13-17. Kisah Pembaptisan Yesus lebih merupakan refleksi teologis penulis Injil Matius ketimbang suatu laporan historis mengenai bagaimana Yesus dibaptis. Refleksi teologis itu diperikan (described) seolah-olah terjadi secara fisik dengan menggunakan dunia bahasa yang dikenal pada masa itu. Langit atau surga merupakan tempat kediaman Allah sehingga sebelum Roh Allah turun dari Surga “langit terbuka” lebih dahulu. Saat turun dari langit atau surga Roh Allah itu diperikan seperti “burung merpati” yang memiliki sayap untuk terbang. Suara Allah dari surga juga diperikan seperti suara manusia yang bisa didengar oleh telinga manusia.

Metafora “suara Allah” seakan-akan Allah memiliki mulut yang dapatmengeluarkan suara seperti mulut manusia. Roh Allah turun dan terdengar suara Allah adalah pemerian (description) teologis mengenai penyataan (bukan pernyataan) Allah atau penampakan Allah (Epifani atau Teofani). Kedua pemerian itu tampaknya bersumber dari Alkitab Ibrani (PL) yang dibaca oleh penulis Injil Matius dalam terjemahan Grika Septuaginta.

Itulah simbol yang bergawai menjembatani umat masa kini dan umat masa lalu di segala abad. Pada peringatan Pembaptisan Kristus ini kita diajak merenungkan “Apa sebenarnya arti baptis bagiku? Apakah aku masih mengakui kebenaran dan menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai atau standar moral kristiani?”

Quote of the day:
“Why is "bra" singular and "panties" plural?”

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Saturday, January 11, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: