Kristen Sesat? WTF!

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Sepekan kemarin gentayangan meme, celetukan, tulisan pendek--juga panjang, yang kembali membahas teologi seorang "hamba Tuhan" (gua ikutin aja deh istilah bego ini). HT tersebut berpemahaman bahwa Yesus adalah Ho Theos, bukan Theos. Sang Allah, bukan Allah.

Bedanya? Karena menggunakan article (terpaksa saya tulis dengan istilah Prancis) Ho, Le, The, Sang, Si, maka Yesus bukan Allah yang kekal, bukan Allah yang mutlak, tapi Sang Allah--sekelas dengan Sang Pesulap, Sang Raja, Sang Presiden. Siapa saja, asal memenuhi syarat, bisa menjadi Sang Allah.

Theos cuma satu. Kata tanpa article ini hanya bisa disematkan kepada Allah. Untuk Pak Ali Anda harus menambahkan "seorang" di depan atributnya: Pak Ali adalah SEORANG guru. Anda tidak bisa menulis Pak Ali adalah guru, atau Pak Ali adalah Sopir, tapi Pak Ali adalah sopir Bu Dina, atau Pak ALI ADALAH GURU KELAS IVA SDN 102. Pak Ali tidak bisa secara mutlak merepresentasikan profesi Guru.

Kalau Pak Ali seorang guru yang istimewa dan utama buat orang-orang di sekelilingnya, maka Anda bisa menyebut Pak Ali adalah Sang Guru.

Meski berkelas utama dan istimewa, Pak Ali bukan satu-satunya Sang Guru. Dia disebut Sang Guru ketika dibandingkan dengan guru-guru lain.

Karuan HT Perkantas ngamuk, ngirim surat ke mana-mana, menyebut ajaran HT ES sesat, keliru, salah, dan lain-lain.

Saya bingung. Serius. Lieur. Kepingin minggat dari planet bumi.

HT ES menyandang gelar akademik doktor teologi dari Sekolah Teologi terhormat di Indonesia. Dia punya kerangka dasar berpikir ketika menyodor argumen atau teologinya.

Orang-orang di mimbar akademik harusnya tenang dan rileks ketika mengunyah aneka kajian baru. Yang mereka periksa pasti asumsinya, lalu sekumpulan teori yang dipeluknya, kemudian metodologi persilangan teori tersebut, dan berakhir dengan konklusi yang ditarik dari persilangan berdasarkan asumsi dasar.

Selama hal-hal tersebut sahih dan bertemali, kesimpulan akhir bisa diterima--entah seberapa ekstrim pun perbedaannya ketika dibandingkan dengan teologi terdahulu. Diterima bukan berarti dipercaya.

Ketika Einstein mengumandangkan hukum relativitas, gak ada yang bilang dia sesat karena telah berkhianat dari "teologi" Newton yang dipeluk seisi umat manusia. Demikian juga ketika Max Planck mengemukakan teorinya tentang Energi Kuanta (quantum energy).

Padahal Planck berkhianat dari Einstein, dan Einstein berkhianat dari Newton.

Karena itu, berkali-kali saya nyemprot di FB: teologi itu mahluk apa sih?

Kristen perdana di abad ke IV sepakat merumuskan bahwa Yesus adalah Tuhan, satu dari tiga oknum Tritunggal. Apakah itu kesepakatan mati? Apakah itu kesepakatan yang tidak boleh diteliti-ulang? Apakah kajian-kajian sesudahnya, yang bertentangan dengan kredo rasuli, harus dianggap sesat, makar, subversif?

Kalau kemudian seseorang menerima Yesus sebagai guru agung, memoroskan hidupnya kepada ajaran-ajaran Yesus tanpa harus berdevosi bahwa Yesus adalah Tuhan, tak layakkah dia tetap disebut orang Kristen? Bukankah Kristen adalah sebutan bagi pengikut Yesus?

Bedanya Newton-Einstein-Planck dengan para teologiman pukimak adalah bahwa mereka melandaskan teorinya pada sebuah pembuktian terukur. Dan karena terbukti, gak ada yang berantem atau angkat parang.

Para teologiman menyusun bangunan teologinya dengan menggunakan gagasan-gagasan abstrak namun teruji konsistensinya. Medan pembuktiannya adalah konsistensi. Terbukti secara fisik? TIDAK.

Itu barangkali yang bikin para teologiman doyan menyesat-nyesatkan atau mengkofar-kafirkan sesamanya. Gak ada yang bisa dibuktikan secara inderawi. Semua cuma klaim.

Mereka bebas berkelahi, saling mempermalukan diri, menuding jidat kiri-kanan, mendaku cuma teologinya yang benar, selain itu sesat.

Pas ditanya, apa yang bikin Anda yakin bahwa teologi Anda yang benar? Jawabannya klasik: sesuai Alkitab.

Lalu ketika didebat: ada ribuan tafsir terhadap Alkitab, mereka mendongak kasar: TIDAK, Firman Allah Ya dan Amin. Apa yang tertulis, begitulah yang kita pahami.

Kamu sudah mejual semua harta milikmu dan membagikannya kepada orang-orang miskin? Mereka menyalak tegas: itu pengandaian.

Perhatikan dengan saksama: itu adab orang utan, adab para anjing, para macan, para beruang, para srigala, para bangsat.

Kok yang kayak gitu kalian puja dan agungkan?

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Monday, February 10, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: