Krisis Adab di Era Digital

ilustrasi

Oleh: Muhammad Arief Junaydi

Tulisan ini saya tulis dan saya post bukanlah sebuah tulisan ilmiyah akan tetapi hanya sebatas curahan hati yang berasal dari kepedulian hati dan pengalaman pribadi saja terhadap hubungan pelajar dan pengajar di zaman keterbukaan dan melek tekhnologi sekarang ini dimana gebrakan luar biasa tekhnologi informasi dan komunikasi yang seakan memaksa kita untuk ambil bagian didalamnya demi tercapainya sebuah bangsa dan generasinya untuk menjadi bangsa yang tidak tertinggal dengan derasnya siklus perkembangan dan kemajuan global di bidang ini.

Pada sekitar tahun 2000an awal sesuai prediksi atau ramalan orang-orang sepuh dulu di tahun-tahun sebelumnya bahwa di era milenium tahun 2000 ini akan terjadi kemajuan dan persaingan yang luar biasa di segala aspek mulai dari ekonomi, bisnis, pendidikan, politik dan semacamnya, begitupula pergeseran interaksi sosial antar sesama penduduk bumi ini juga akan menghadapi perubahan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dan di awal awal tahun 2000an ini pula alat komunikasi yang namanya telpon genggam (handphone) mulai banyak diperkenalkan dan digunakan tentu dengan fitur-fitur yang apa adanya, akan tetapi sudah lebih canggih dibanding generasi alat komunikasi sebelumnya yang ditemukan Alexander Graham Bell tersebut, dimana kita tak hanya bisa ngobrol berjam-jam tanpa kabel penghubung saja akan tetapi bisa mengirimkan pesan singkat yang disebut (SMS) short message service tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku sebagai pengganti obrolan bagi yang mepet pulsa atau alat bayar komunikasi, di tahun berikutnya dikembangkan tekhnologinya dengan keberadaan fitur (MMS) Multimedia Message Service yang bisa mengirimkan gambar berbagai macam format, dikembangkan lagi dengan Audio dan Video walau masih terbatas dengan durasi selain daripada itu akses wajib untuk bisa terhubung dengan menggunakan (GPRS) General Radio Package Service yang bisa mengakses situs WEB, WAP dan Blog.

Pada tahun 2008 pasca penikahan saya atau katakanlah masih manten baru saya sowan ke guru sekaligus kampung kelahiran saya di Jember, sebagai rasa dan bentuk tasyakur saya atas ilmu yang saya dapatkan dari para guru-guru saya baik guru ngaji al-Qur'an maupun guru madrasah diniyah saya. Meskipun saya mempunyai nomor-nomor telephone beliau tapi saya sungkan untuk nelpon apalagi sms dengan pertimbangan ke-su'ul adab-an saya kepada beliau atau dalam istilah Madura "Cangkolang/Seloroh" jadi kalau tidak sangat penting saya tidak nelpon apalagi sms.

Waktu itu di acara khataman al-Qur'an saya sowan ke beliau duduk di ruang tamu berhadapan beliau, dari dulu hingga setua ini saya kalau sowan dan diajak ngobrol sama guru-guru saya walaupun dari putra-putra beliau yg masih muda dan remaja (Gus/Lora) belum pernah saya angkat kepala akan tetapi terus menundukkan kepala bahkan mau menatap wajah beliaupun terasa kurang ajar bagi saya meski hanya sebatas menatap saja. Berkata pun saya harus hati-hati takut ada salah-salah kata dalam menyampaikan pembicaraan saya.

Saya ingat betul dawuh beliau, ketika santri-santri sibuk dengan persiapan acara khatmil qur'an disana, ada salah satu santri senior yang bebas memegang hp waktu itu, lalu ketika saya lagi bermuwajjahah dengan beliau di ndalem tiba-tiba santri senior ini telpon ke beliau padahal jaraknya dekat antara pondok dan dalem, secara logika kenapa tidak datang langsung tanya sesuatu kepada beliau di ndalem, tapi malah nelpon. Lalu beliau setelah angkat telepon dawuh ke saya "Areyah Cong bidhenah santre lambe' bi' santre sateyah, elmonah la benyak tape tata kramanah la korang" dengan terus tetap menunduk saya hanya bisa terdiam menghayati dawuh-dawuh beliau.

Dari Madura saya sudah mempersiapkan untuk foto-foto bareng dengan teman-teman santri dan mau foto dengan guru-guru saya saat sowan di acara khatmil qur'an, HP yang saya punya kala itu adalah Nokia N73, begitupula rencana saya agar istri saya bisa foto-foto bareng bersama Bu Nyai dan Ning di sana. Akan tetapi meskipun persiapan matang itu sudah saya lakukan, saya mengurungkan niat untuk foto-foto bareng, dan saya tidak menggunakan camera HP itu untuk memoto siapapun termasuk Guru-guru saya, saya berfikir apa iya sich saya sekurang ajar itu terhadap Guru-guru saya yang mau foto-foto seenaknya saja, walaupun beliau pasti tidak akan menolaknya akan tetapi sisi adab atau tata krama kepada Guru saya itulah yang ingin saya pertahankan dengan harapan bisa menjadi contoh bagi yang lain terutama keluarga dan anak-anak saya bahwa adab itu sangatlah penting dan diutamakan.

Memang foto-foto selfie itu tidak ada larangan dalam hukum negara ataupun hukum agama akan tetapi dari segi etika atau tata krama, dan sisi sosial berinteraksi, apa iya kita mau membebaskan diri dari pelajaran adab dan akhlaq dulu ketika masih ngaji hanya gara-gara ingin narsis saja lalu diunggah di akun media sosialnya sembari memberi caption "Bersama Guru Saya Kyai... Ustadz.... Gus...." dan semacamnya. Aaah norak menurut saya walupun beliau mengizinkan sekaligus berfoto-foto itu dengan alasan ta'zhim, tabaruk, rasa cinta dan hak individu, tapi tetap saja menurut saya adalah kurang adab.

Ke-kurang adab-an bahkan ke-tidak beradab-an inilah pada era ini yang mulai marak sehingga nuansa rasa ta'zhim dan takrim kepada guru itu sudah mulai merosot nilainya dalam kacamata tradisi kesantrian dan kepesantrenan. Harapan saya atau bahkan kita semua semoga generasi santri masa kini dan masa depan tidak tergerus dan terkikis nilai adab dan akhlaqul karimah kesantriannya sebagai ciri khas utama pemeluk ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah yang berkembang di Nusantara ini dengan nilai luhur jargon 'Sendiko Dawuh dan Nderek Dawuhe Kyai"

واللّه الموفّق إلى أقوم الطريق، والسّلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته.

Ket. Foto

1. Gus Muwafiq sowan ke Mbah Yai Anwar Manshur PP. Lirboyo, Kediri
2. Gus Muwafiq sowan ke Mbah Yai Ubaidillah Faqih PP. Langitan, Tuban
3. Gus Muwafiq sowan ke Mbah Yai Ali Masyhuri PP. Bumi Shalawat, Sidoarjo

Sungai Buloh, Selangor DE, Malaysia.
10/12/2019

Al-Faqir: Kuli Bangunan, TKI Malaysia

Wednesday, December 11, 2019 - 15:15
Kategori Rubrik: