Kris Atau Khianat?

Oleh: Satria Dharma

 

Ketika ada tiga orang dosen ITS yang dikenai sanksi oleh rektornya karena dianggap terlibat pada gerakan organisasi pengkhianat bangsa HTI, tiba-tiba muncul pembelaan dan protes bahwa sikap kritis telah dibungkam. Sikap kritis…?! Gimme a break…! 

Tiba-tiba saya teringat pada kisah hidup saya dulu ketika masih muda dan gagah (sebetulnya dulu saya kurus kering tapi hanya merasa gagah karepku dewe). 

 

Pada awal tahun 80-an Soeharto masih berkuasa dengan Golkarnya dan semua guru PNS dipaksa untuk masuk Golkar (dan berbaiat pada Soeharto tentunya). Waktu itu saya baru lulus sarjana pendidikan dan masih PNS dengan golongan II/b dan mengajar di sebuah SMAN di Surabaya. Ketika itu datang sebuah formulir bagi semua guru agar mendaftar menjadi anggota Golkar. Saya menolak. Pada jaman itu pun saya sudah waras dan berpendapat bahwa tidak selayaknya guru berpihak pada sebuah organisasi politik. Guru itu harus jadi pinandito alias masuk golongan pendeta atau ulama yang tidak boleh partisan dengan ikut partai politik mana pun. Politik guru adalah pendidikan dan bukan kekuasaan. Guru itu hanya mengabdi pada bangsa dan negara dan bukan pada partai politik yang berkuasa. Kalau guru atau ulama sudah berpolitik praktis bisa bubrah negara ini. Jadi guru dan masuk Golkar itu jelas partisan dan merusak tatanan negara. Tapi Golkar mengelak dan mengatakan bahwa mereka bukanlah organisasi politik melainkan ‘golongan’. Mau akal-akalan sama saya? Yo tak guyu. 

Karena tetap menolak akhirnya saya dipanggil oleh pimpinan Disdikprov Jatim waktu itu, diinterogasi dan diancam. Kalau tidak mau masuk Golkar akan kena sanksi. Saya bersikeras menolak. Dia membentak dan menggebrak meja lalu saya balas dengan bentakan yang sama dan gebrakan di meja yang sama. Biar pun kurus kering saya masih berani menggebrak meja. Toh gak bakal melawan balik. 
Bagi saya seorang guru PNS hanya wajib berbakti pada negara dan tidak pada organisasi politik, meski berbaju ‘golongan’. Saya tidak takut dipecat karena masih bujangan dan optimis dengan hidup saya. 

Akhirnya saya ditendang dari sekolah saya mengajar dan dikucilkan di sebuah kantor dinas kecamatan. Terserah mau ngapain di sana. Tidak dikeluarkan juga sebagai PNS sih. That’s the price for being a rebel. Pada akhirnya saya memang keluar dari PNS dan jadi guru internasional. Saya anggap itu sebagai kenaikan derajat. Tentu saja tak seorang pun yang membela saya atau bilang bahwa saya seorang guru yang idealis dan kritis. Kritis ndasmu. Nek pingin dipecat ojok ajak-ajak rek!  Saya juga samasekali tidak merasa heroik karena sedang memperjuangkan sesuatu. Dan Anda juga belum kenal saya waktu itu, kan? 

Tapi apa yang menjadi pandangan saya pada waktu itu akhirnya menjadi kebijakan pemerintah sekarang. PNS atau ASN tidak boleh berpolitik atau ikut partai politik mana pun dan Golkar mau tidak mau harus melepaskan bulu dombanya dan menyatakan diri sebagai partai politik. Soeharto ditumbangkan dan dikenang sebagai pemimpin yang korup meski tidak pernah diadili. Such a pity…! 

Jadi sejak muda keberpihakan saya memang sudah tegas, yaitu pada negara. Dan itu yang membuat saya keras dan tegas sekali menentang organisasi politik impor dari Timur Tengah yang bernama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena jelas sekali bahwa HT ini adalah organisasi pengkhianat bangsa. Di manapun organisasi ini berada ia akan berupaya untuk membujuk umat Islam mengkhianati negara mereka dengan berupaya mendirikan negara kekhilafahan. Sejak awal tahun 2000-an saya sudah menentang organisasi ini dan mendebat para anggota dan simpatisannya, baik di dunia nyata mau pun di dunia maya. Saya pernah mengajak mereka berdebat di masjid di mana mereka biasa berkumpul dan saya hadapi sendirian saja. Lha wong pancen gak duwe bolo. 

Tapi pada umumnya saya berdebat dengan simpatisan HTI di medsos sampai sekarang. Teman karib saya Mas Nanang sampai geleng-geleng kepala melihat stamina (maksudnya kengeyelan) saya menghadapi mereka. Dia sendiri wis males menghadapi kebebalan mereka. Tapi justru itu yang membuat saya berpikir bahwa saya tidak boleh berhenti. I should not quit, especially when everybody feels so hopeless.

Alhamdulillah sekarang HTI sudah resmi dilarang dan dibubarkan, meski sebenarnya agak terlambat. Kerusakan yang dibuatnya sudah cukup parah. Sudah sangat banyak anak-anak muda muslim yang berhasil diracuninya dan bahkan banyak PNS/ASN yang sudah terlanjur menjadi bagian dari organisasi pengkhianat bangsa ini. Dan pemulihannya itu sungguh tidak mudah. 

Yang saya heran sebenarnya adalah mengapa para petinggi bangsa ini tidak melihat dan tidak menyadari betapa berbahayanya organisasi ini sejak dulu? Padahal sangat banyak bukti dan contoh dari negara lain atas sikap berkhianat dari organisasi ini dan mereka juga sudah terang-terangan memproklamirkan diri untuk mendirikan khilafah di Indonesia. Mereka bahkan sudah berupaya untuk mengajak militer untuk ikut agenda mereka. Kok ya para petinggi negara tenang-tenang saja. Terus terang saya sangat gregetan. It was so obvious but why couldn’t you see it?

Yang juga mengherankan saya adalah banyaknya akademisi muslim cemerlang yang justru ikut terperosok pada agenda organisasi politik transnasional yang bahkan di negara asalnya saja ditendang tapi di Indonesia malah dipuja-pujanya. What’s wrong with you, guys? Can’t you see how destructive and dangerous their agenda to our nation?

Ada yang bertanya pada saya bagaimana pendapat saya pada beberapa ulama dan tokoh nasional yang membela HTI. Jawab saya bisa dilihat pada banyak artikel yang saya tulis tentang HTI ini. Siapa pun yang membela HTI maka pada dasarnya mereka adalah pengkhianat bangsa. Organisasi ini sudah begitu mengancam bangsa ini sehingga Indonesia yang semula aman, tentram, dan damai akhirnya menjadi kacau dengan datangnya organisasi politik ini. Semua umat Islam diprovokasi untuk menentang pemerintahnya dan diajak untuk mengkhianati bangsa dan negaranya. Banyak kyai dan pesantren yang berteriak mengingatkan pemerintah bahwa semestinya organisasi ini dilarang sejak awal. Organisasi ini begitu menyimpang dan berbahayanya sehingga akhirnya :

1. Mentri Agama menganggap HTI wajib dibubarkan. Seorang Mentri Agama jelas telah paham mengapa ia harus mengeluarkan pernyataan untuk membubarkan organisasi berbahaya ini. http://news.liputan6.com/…/menag-bubarkan-hti-pemerintah-bu…

2. Kapolri menganggap keberadaan HTI ini membahayakan. http://nasional.republika.co.id/…/opmlxh330-kapolri-anggap-…

3. PBNU menyatakan HTI wajib dibubarkan. Wajib lho ya! Bukan anjuran. http://nasional.republika.co.id/…/opmsgw354-pbnu-dukung-sik…

4. Jika Anda masih meragukan kredibilitas Mentri Agama, Kapolri, dan PBNU, maka itu artinya Anda juga meragukan kredibilitas Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena MUI sendiri bahkan telah mengeluarkan pernyataan yang lebih keras, yaitu HTI WAJIB DIPERANGI! http://nasional.kompas.com/…/mui.siapa.pun.yang.ingin.ubah.….

Jadi coba pikir bagaimana mungkin masih ada pejabat dan akademisi yang membela HTI dengan mengatasnamakan sikap kritis dan kebebasan berpendapat? Ini bukan lagi soal sikap kritis dan kebebasan berpendapat. Ini soal apakah Anda mau membela bangsa ini atau mau menyerahkan bangsa ini pada ideologi partai politik transnasional yang sudah terbukti mengacau dan dibubarkan di berbagai negara. Tidak peduli rektor, pejabat, kiai, atau dosen sekali pun, kalau ia membiarkan, apalagi mendorong, mahasiswa Indonesia untuk berikrar utk menegakkan atau bersumpah setia pada sistem khilafah ala HTI maka ia adalah pemimpin sesat yang ingin mengkhianati perjuangan bangsanya sendiri. Orang-orang seperti ini kalau di Turki oleh Erdogan telah disikat habis. Untungnya Indonesia ini selalu pakai soft approach and power dan tidak pernah mau main keras.

Bagaimana mungkin mahasiswa penerus generasi bangsa dibiarkan untuk menukar kesetiaannya pada bangsanya kepada sistem khilafah ala HTI? Semua pemimpin yang waras akan berupaya sekuat tenaga agar generasi penerusnya setia kepada bangsa dan negaranya, bukannya membiarkan mereka tertipu dan berikrar pada sistem kekhalifahan ala HTI. Seorang pemimpin umat mau pun bangsa tidak akan mungkin membiarkan umat Islam dan generasi bangsa digerus kesetiaannya pada bangsanya dan menjadi pengkhianat. Setia pada bangsa dan negara adalah kewajiban bagi umat dan warga. Bayangkan…! Ketika berbagai bangsa dan negara lain telah dengan secara tegas membubarkan organisasi Hizbut Tahrir di negara mereka, baik itu negara Islam atau pun bukan, dan bahkan dengan tegas menangkapi anggotanya tanpa perlu bikin Perppu segala, sebagian dari kita malah ada yang membelanya.Di negara-negara lain HT dibubarkan dan dilarang dan anggotanya ditangkapi dan dijebloskan ke penjara dengan alasan keamanan dan tidak ada gejolak tapi di negara kita pemerintah justru dituding menjadi diktator padahal belum ada satu pun anggota HTI yang ditangkap. What’s going on with you, guys?

Melalui tulisan ini saya hendak mengajak kepada umat Islam yang sudah terlanjur menjadi anggota atau simpatisan organisasi politik transnasional ini. Saya hendak mengajak agar kembali mencintai bangsa dan negara ini. Jangan menjadi pengkhianat bangsa dan negara dengan berupaya mengubah dasar negara kita. Marilah kita mensyukuri semua nikmat Tuhan yang telah diberikannya pada kita dengan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan nyawa dan harta para pejuang kemerdekaan. Marilah kita mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan menegakkan kesetiaan pada Pancasila dan UUD 1945 dengan prinsip demokrasi bangsa yang telah kita tenun selama 72 tahun ini.

Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”.

Jangan menjadi pengkhianat bangsa. Jadilah pembela bangsa dan negara dengan semua kemampuan Anda. Ingatlah bahwa membela negara adalah sebuah kewajiban dan itu mutlak disepakati oleh para ulama. Bela negara merupakan salah satu perwujudan berukhuwah dalam Islam, yakni ukhuwah wathoniyah yang berarti mencintai dan bersaudara dengan yang sebangsa dan setanah air.

Wallahu a’lam bisshowab

Surabaya, 16 Mei 2018

 

(Sumber: Facebook Satria Dharma)

Wednesday, May 16, 2018 - 09:00
Kategori Rubrik: