KPK dan Ikan Bandeng

Oleh: Denny Siregar

 

Saya jadi ingat film Chow Yun Fat..

Di film berjudul The Corruptor itu, Chow berperan sebagai polisi. Ia banyak menangkap penjahat dan anggota mafia. Karena prestasinya itu, Chow dianugerahi prestasi sebagai polisi terbaik. Dan dimata polisi lainnya, ia polisi teladan.

Tapi ternyata, penangkapan itu hanyalah pencitraan belaka. Chow hanya bertugas melindungi mafia lain yang ingin berkuasa. Ia mendapat informasi dari kelompok mafia itu untuk menangkap mafia lawannya. Dengan begitu kelompok mafia yang bekerjasama dengan Chow bisa mengendalikan daerah kekuasaannya.

 

Meskipun tidak begitu mirip, tetapi apa yang dikatakan salah satu Capim KPK, Jasman Panjaitan, yang mantan Jaksa mengungkap apa yang selama ini dilakukan KPK dan dielukan banyak orang terhadap OTT atau Operasi Tangkap Tangan KPK.

Kata Jasman, KPK sekarang ini hanya mengandalkan OTT. Itu menunjukkan kelemahan mereka karena mereka tidak mampu mengungkap kerugian di instansi nasional. Kata Jasman, penindakan melalui OTT dampaknya sangat kecil mengembalikan kerugian negara. 

KPK memang sekarang banyak mengandalkan OTT. Yang berhasil dihadang KPK hanya berkisar penyuapan diangka 150 juta sampai 2 miliaran. Penangkapan ini yang digembor-gemborkan KPK melalui media untuk membangun citra mereka.

Padahal kerugian negara karena korupsi jauh lebih besar daripada sekedar tangkap tangan karena penyuapan. Apalagi dana operasional KPK saja mencapai hampir 1 triliun rupiah di tahun 2016.

OTT yang banyak dilakukan KPK jadi mirip sinetron daripada perang terhadap korupsi sungguhan. Lebih besar berita di medianya daripada hasil tangkapannya. 

Ini yang membuat KPK sekarang menjadi tidak efektif, hanya sekedar pamer-pamer tanpa hasil tangkapan "ikan kakap". Masak yang ditangkap bandeng lagi bandeng lagi. Padahal nangkepnya pake perahu mahal dengan teknologi tinggi.

Sebagai contoh, penerbitan IMB reklamasi di Jakarta seperti tidak menggugah KPK untuk sekedar curiga saja. Padahal jaman Ahok ia ingin menarik kontribusi 15 persen dari pengembang yang kalau ditotal nilainya bisa mencapai puluhan triliun rupiah itu. Dan KPK pernah diajak hitung-hitungan oleh Ahok. 

Kemana KPK ?? Ya, lagi sibuk menangkap bandeng lagi bandeng lagi..

Jadi bagaimana mau "Save KPK " kalau yang di save banyak pemain sinetronnya ??

Mending KPK diganti semua seorang-orang dalamnya. Disana ada orang yang sudah 12 tahun bekerja dan menguasai KPK tanpa pernah diganti meski komisioner datang dan pergi.

Itu baru namanya "Save KPK"... 

Seruput dulu ah...

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Thursday, August 29, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: