KPAI, Please Jangan Lebay!

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Ada seorang anak yang meminta Ridwan Kamil tidak memblokir game. Permintaan ini lucu, karena pemblokiran itu bukan wewenang walikota. Tapi dari permintaan itu, ada poin penting yang luput diperhatikan. Ini bukan soal aksi lucu si anak, tapi atas perjuangannya untuk bisa bermain. Game baginya adalah kebutuhan hidup. Dan ia sedang memperjuangkan itu.

Orang-orang tua (termasuk generasi saya) selalu mengklaim, masa kecil mereka lebih bahagia dari anak sekarang. Dengan bangga mereka menunjukkan game jadul di media sosial. Dan mereka menganggap semua itu lebih baik. Berani bertaruh? Jaman kalian, di saat Soeharto masih berkuasa itu tidak ada apa-apanya dengan jaman sekarang. Dulu orang ditakut-takuti soal gerhana saja mereka nurut. Generasi sekarang jauh lebih kaya. Imajinasi mereka jauh lebih subur. Game yang mereka mainkan tak mampu dimainkan oleh generasi jadul tadi. Ada tingkat kerumitan yang tak mereka mengerti.

Orang-orang tua hanya punya masa lalu. Dengan itu mereka menganggap generasi sekarang amoral, melenceng, rusak. Mereka tidak mengakui satu hal, generasi sekarang jauh lebih kritis. Padahal seperti kata Gibran, anakmu bukan milikmu, mereka putra putri sang hidup yang rindu diri mereka sendiri...

KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) konon mendesak Kemdikbud untuk memblokir 15 games atas tuduhan adanya unsur kekerasan di dalamnya. Game dianggap sama berbahayanya dengan film porno atau narkotika. KPAI harus punya alasan kuat, bukan karena adanya satu-dua kasus kekerasan. Harus ada penelitian menyeluruh, dengan menyertakan banyak variabel. Sinetron dan berita kekerasan berkeliaran dengan bebas. Tradisi amok dan kekerasan sosial terus diajarkan. Kebencian pada etnis, atau keyakinan berbeda terus dicontohkan. Lalu mereka menyalahkan game. Bijaksana sekali generasi tua ini.

Menggunakan game secara berlebihan memang tidak baik. Tapi berbuat adillah sedikit. Memangnya hal berlebihan apa yang baik di dunia ini? Seks berlebihan juga buruk. Makan minum, bahkan beribadah jika berlebihan juga buruk. Apa ada sesuatu yang dilakukan secara berlebihan itu baik? Game juga dalam aras pemahaman yang sama. Jika ia dilakukan secara berlebihan tentu ada akibat buruk. Tapi tidak serta-merta game itu buruk.

Saya sadar sepenuhnya, ada hal-hal berbeda dari generasi sekarang. Mereka seolah sulit dikendalikan. Tapi berbicara soal kenakalan, memang generasi sebelumnya tidak nakal? Saya punya senior di sekolah yang jadi mucikari teman sekolahnya sendiri. Di usia sekolah itu saya besar di terminal dan bergaul dengan pengedar dan pemabok. Saya juga belajar cara hidup preman. Sayangnya, saya gagal dan berbelok. Lalu dengan kenyataan itu, apakah kita mengklaim lebih bermoral dari generasi sekarang?

Generasi sekarang hidup di jaman berbeda, dengan cara pandang berbeda. Orang-orang tua tidak mungkin memaksakan gaya hidup dan pendidikan anak, sebagaimana waktu mereka kecil. Harus ada pendekatan berbeda. Kita sedang menghadapi anak-anak kritis yang ditunjang segala teknologi instan. Mengajari mereka diktat kuno dan keras justru akan melahirkan pemberontakan. Mereka memang harus dibatasi dari hal-hal buruk, tapi dengan cara cerdas.

Game generasi sekarang bukan hal buruk. Sebagaimana permainan tradisional masa kecil generasi tua. Keduanya memiliki fungsi dan akibat yang sama. Memahami game generasi sekarang dengan logika orang-orang jadul jelas tak sinkron. Jika ada unsur kekerasan, seperti yang dikambing-hitamkan KPAI, mestinya usia anak yang perlu dibatasi. Mereka harus diawasi, mereka harus menggunakan game sesuai batas umur yang disepakati hukum internasional.

Generasi saya juga sering berkelahi, bukan hanya gara-gara game, tapi karena ajaran kekerasan ada di mana-mana. Termasuk pelajaran berkelahi langsung yang kami lihat dari orang tua. Masih ingat Soeharto yang mewajibkan menonton film mengerikan G 30/S PKI? Generasi sebelumnya jauh lebih berbahaya. Mereka didoktrin oleh militer untuk menghalalkan pembunuhan ribuan manusia. Mereka diajarkan bagaimana membenci, mendendam, mengabadikan permusuhan. Mereka dipaksa untuk menghapal kalimat, "Darah itu merah Jenderal!"

Lalu generasi berdarah dingin ini menganggap dirinya lebih baik dari generasi sekarang?

Jika generasi sebelumnya ingin menghitung dosa, dosa kalian lebih banyak dari dosa generasi gamers sekarang. Jadi, KPAI please jangan lebay. Kalian dibayar mahal bukan untuk membuat kebijakan konyol seperti ini. Atau jangan-jangan, kalian masih hidup dalam doktrin Orde Baru? Segala hal yang berbeda dan tak kalian pahami akan kalian berangus? Kalian masih saja jadi orang tua kuno dari generasi terbaru. Kalian tidak juga belajar? KPAI, please jangan lebay!

 

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Tuesday, May 3, 2016 - 13:15
Kategori Rubrik: