Koruptor itu Keren di Hari Lebaran Merengek-rengek

Oleh : Thamrin Sonata

Kupikir, ya. Koruptor itu keren. Sejak sebelum ditetapkan sebagai tersangka, ketika kena operasi tangkap tangan dan saat melewati kerumunan awak media di pintu masuk KPK, mereka selalu tampil percaya diri. Yang laki-laki persolek, dan yang wanita bergincu moblong-moblong!

Bandingkan dengan pencuri motor, setelah ia didor kakinya – yang kata Polisi ia atau mereka hendak melarikan diri dan berusaha melawan aparat – jalan terpincang-pincang dengan wajah memelas bagai maling masuk got. Ya, padahal, koruptor pun maling-maling juga. Jalannya tidak pincang, namun gagah tegap. Dan yang wanita masih membusungkan dadanya. Sebab, mereka tidak pernah ditempiling aparat keamanan. Jangan lagi dipukul kepalanya alias ditempiling! Plus kelak menjalani tahanan cumalah empat tahun! Harta masih berlebih untuk menyuapi mulut-mulut di rumah, karena tak pernah dibangkrutkan!

Apakah di hari lebaran para koruptor masih keren?

Kupikir, ya. Setidaknya merengek-rengek minta keringanan toh ndak salah-salah amat. Apa yang membuatnya malu? Sedangkan ketika menjadi pejabat dan korupsi besar-sasaran sebelum ditangkap dan diadili, tak pernah malu. Hanya menyingkirkan uang-uangnya ke bank-bank asing atau atas nama adik, kakak, anak, istri/suami. Bagi yang apes, ya paling cengar-cengir: Oh, adikku lain. Oh, istriku ndak pernah main. Buktinya ia masih bisa menjabat. Dan seterusnya. Kereeeen!

Mereka tetap korupsi. Menggaruk uang Negara (baca: rakyat) tanpa ampun. Itu sebab, mereka kadang kakak-adik sama-sama menggangsir uang tak hanya selembar. Berlembar-lembar, dan boleh jadi dengan dollar. Sama-sama tak kenal malu. Berjamaah bersama saudaranya dalam status yang sama: koruptor.

Pikiran koruptor apakah memajukan Negara? Oya. Itu kalau ada pertanyaan diajukan awak media, dan sebelum dicokok sebagai pemakai baju orangenya KPK. Itu sebab, mereka umumnya tampil dengan topeng dobel-dobel. Wajahnya sendiri sudah tak dikenali oleh tangannya yang pegal membukai topeng-topengnya yang berlapis-lapis.

Kalau saja koruptor di hari lebaran tak merengek-rengek minta keringanan untuk bertemu keluarga lebih banyak: agar bisa makan opor special lebaran! Plus kalau teringat tidak bisa memeluk tubuh lawan jenisnya (dan bisa bukan muhrimnya ketika masih berstatus pejabat) setiap saat, tentulah itu sebuah permintaan yang disodorkan atas nama kemanusiaan.

 Bah! Lebaran, mungkin, momentum bagus bagi maling berdasi ini.**

Sumber : kompasiana.com

Wednesday, July 13, 2016 - 15:00
Kategori Rubrik: