Korupsi di Partai Tua Stadium 4

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Orang-orang kebakaran jenggot dengan pidato Grace Natalie. Mereka ingin membuktikan partai mereka bersih. Tetapi Tuhan maha adil (itu kalau sampeyan percaya Tuhan). Baru saja ketua partai tua dicokok KPK. Bukan hanya kader, apalagi simpatisan, tapi ketua umumnya.

Itu artinya, partai tua memang bermasalah. Romy misalnya, di permukaan dia tampak alim. Seorang Gus, yang tentu saja anak seorang ulama besar. Nyatanya maling juga. P3 ini dulu salah satu partai yang ngotot, menolak Mahfud. Mereka ingin mengajukan Romy. Maling yang ditangkap KPK barusan.

 

 

Yang orang banyak tidak tahu, di Kemenag itu isinya orang-orang Romy. Jadi bukan hanya PKS yang suka jualan agama. Salah satu dari tiga partai tertua itu juga sama. Agama itu komoditas yang menjanjikan. Orang-orang gak mikir lagi kalau sudah urusan keimanan.

Pidato Grace dan tertangkapnya Romy adalah tamparan keras. Bedanya, Grace dari partai baru. Pidatonya dicemooh. Kata orang belum berpengalaman. Ini kalimat orang bodoh, dipercaya orang dungu.

Jadi wakil rakyat tak perlu pengalaman, tapi kejujuran. Kalau pemerintah ya, harus yang pengalaman. Karena ia yang merumuskan kebijakan. Tugas legislatif hanya menyetujui dan mengawasi. Keponakan saya yang baru lulus SMA juga bisa.

Memilih calon legislatif itu yang penting jujur. Soal kecerdasan nomor 128. Tak ada urusan dengan pengalaman. Justru yang pengalaman itu pinter main anggaran. Bahaya.

Partai-partai tua itu boroknya banyak sekali. Hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama. Ini kalau bicara soal kecerdasan. Saya percaya situ bukan keledai.

Kalau ada yang mengatakan, "Mending milih partai A atau B yang jelas punya suara, agar tak tercecer. Soalnya mereka menentukan voting di DPR nanti."

Tolong lempar asbak ke mukanya. Dia sedang membodohimu dengan trik kuno banget. Di DPR, satu atau dua partai saja tak bisa meloloskan keputusan. Itu makanya ada koalisi. Yang perlu dicatat, partai-partai gaek itu pasti mau berkoalisi. Gak usah dipaksa. Soalnya mereka dapat jatah menteri.

Partai-partai tua itu tidak sedang mendukung Jokowi. Tapi mengamankan kursi menterinya. Paham Son? Tidak ada urusan dengan loyalitas.

Jadi, kalaupun ente milih PSI atau PDIP, ukuran keloyalan itu dilihat dari porsi yang didapatkan. Selain itu bullshit.

Kita memaklumi tradisi jelek seperti itu. Karena hukum di manapun ya jalannya gitu. Kami dapat apa? Yang penting sebenarnya, mereka tidak korupsi saja sudah bagus. Itu standar paling bego di dunia. Tapi faktanya Indonesia belum bisa.

Omong-kosong yang beredar di WA untuk memilih partai tertentu, karena hitungan suaranya menguntungkan Jokowi, itu hoax banget. Gerindra dan PKS itu sebenarnya mau gabung ke koalisi Jokowi. Tapi Jokowinya yang gak butuh.

Itu karena Gerindra-PKS butuh kursi menteri juga. Koalisi-oposisi itu omong-kosong politik, Cuk. Di belakang itu yang ada hanya kepentingan. Kalau ada bumbu etikanya, itu hanya pemanis buatan. Gak korupsi aja dah top.

Sekarang sudah jelas, koruptor di partai tua itu gila-gilaan. Sudah mengakar. P3 contohnya, gak kapok Ketumnya dicokok KPK. Memilih partai baru seperti fenomena di Perancis dan India bisa dijadikan pilihan. Tidak mesti PSI lho. Tapi yang jelas bersih dari kader koruptor ya baru PSI. Mau ngomong apa ente?

Sekarang silakan mengukur kecerdasan masing-masing. Jangan mau dicuci otakmu sama kepentingan terselubung. Kalau personnya baik ya pilih saja. Mikir sendiri. Mosok berpikir saja harus diajari...

(Sumber: facebook Kajitow Elkayeni)

Saturday, March 16, 2019 - 15:45
Kategori Rubrik: