Korona dan Masjid

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Judul di atas artinya "kalau berani ya jangan takut, kalau takut ya jangan bergaya berani". Setahu saya, dahulu para kiai kampung dan para pendekar sering menyampaikan seperti itu.

Saya mencoba membawa petuah di atas untuk masalah corona dimana ada dua "mazhab" terkait dengan pergi ke masjid untuk jumatan maupun untuk jamaah. Sampai pagi ini masih berseliweran pendapat ulama yang saling berhadapan terkait pergi ke masjid.
****

Bagi yang tidak pergi ke masjid karena pertimbangan medis (maaf saya tidak menyebut pertimbangan logis), maka lebih baik ya tidak ke masjid. Namun sebelumnya pertimbangan tidak ke masjidnya harus diolah secara nalar kritis baik dg dikomparasi antar argumen maupun cek lapangan. Kalau belum melakukan hal tersebut, dan ujug-ujug tidak berani, artinya anda penakut yg akut, khawatir yang "keplintir", paranoid yang amit-amit.

Bagi yang ke masjid karena pertimbangan seruan ulama anda (maaf saya tidak menyebut pertimbangan ilahiah), ya silakan saja. Namun tetap harus ditimbang secara akal waras, apakah anda sehat, apakah protokol ke masjid sudah memenuhi standar kesehatan. Dan yang paling penting, jangan sampai pergi ke masjidnya punya niatan agar dianggap soleh, alim, hanya takut kepada Allah, atau ketakutan mati karena cinta dunia yang kebacut.

Dalam pandangan saya, Gusti Pengeran akan menilai seseorang sesuai dengan kemantapan yang berangkat dari ketulusan atau keikhlasan dan akal sehatnya.

Kalau masih bingung:
1. Coba tanya rumput yang bergoyang (tafakur), kalau masih bingung lagi,

2. Nangis malam hari minta petunjuk (tahajud). Kalau masih tetap bingung,

3. Ikut pendapat MAYORITAS KIAI dan ULAMA serta PAKAR yang ada di NKRI saja, dan tentu ulil amri. Agar mantap hati. Kemantapan itu penting dalam segala lini kehidupan.

Semisal dalam lini kependekaran, saya banyak teman penggembleng kekebalan tubuh. Biasanya saat mau dites dibacok pedang setelah sebelumnya ada lelakon entah puasa atau wiridan, si penggembleng akan memegang dada anaknya untuk dilihat kesiapan batiniahnya. Kalau tidak siap ya tidak jadi dites, karena bisa sobek. Tentu seperti ini cara tes individual dan relatif sulit diukur oleh pihak lain. Boleh percaya boleh tidak, tapi mantap adalah penting.
****

Foto kiri ibu saya usia 87. Kanan Budhe saya usia 90 tahun yang harus ngopeni tiga anaknya yang kebetulan mengalami kemunduran mental dalam kondisi hidup sedang. Tapi beliau mantap dan tabah, setiap hari hanya ngaji al Quran dan kalau saya sambangi senang dan bilang sudah ketemu ayah saya yang sudah almarhum.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Wednesday, April 1, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: