Korban Perempuan Dan Bencana Ekologis Banjir Samarinda

ilustrasi
Oleh : Merah Johansyah Ismail
 
Herlina (32 tahun) dan Asmah (70 tahun) adalah dua korban tewas ditengah-tengah tragedi Banjir Samarinda saat ini yang sudah menyebabkan korban pengungsi sosial ekologis sebanyak 10.300 jiwa.
 
Keduanya adalah perempuan meski beda usia. Ya perempuan adalah kelompok paling rentan dari bencana ekologis seperti banjir samarinda. Herlina meninggal dunia setelah mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan bayi mungilnya, sayang ia tak selamat, kesulitan dilarikan ke rumah sakit karena mobil ambulans yg mereka gunakan terhadang arus banjir, jenazahnya pun harus menggunakan perahu karet menerjang banjir besar ini.
 
Pun begitu Asmah, perempuan lansia ini setelah dari rumah sakit, jenazahnya tak bisa dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan karena rumah yg ingin dituju tenggelam akibat banjir, tempat kemudian dipindah, begitu pula keluarga mencari pemakaman yg bebas dari kawasan banjir.
Perempuan terus menjadi kelompok korban yang rentan, namun banjir samarinda juga terus diatasi dengan resep yg keliru, pengerukan sungai, perbaikan drainase, proyek pembelian alat-alat canggih utk menekan banjir dan pembangunan folder, semua itu tidak akan efektif jika 32 ribu hektar cakupan DAS Karang Mumus tidak bebas dari beban alih fungsi untuk tambang dan bangunan perumahan yg serampangan, apalagi sebagian cakupan ini di hulunya juga bersisian dengan sebagian wilayah administrasi kabupaten Kutai Kartanegara dimana gangguan macam konsesi tambang batubara juga masih bercokol, wajar saja jika 70 persen isi dari benanga—ujung dari hulu das karang mumus berisi sedimentasi yg meluncur masuk dari wilayah cakupan sekitarnya.
 
Tanpa mengubah Mindset pembangunan dengan mengikuti logika yg ramah pada sungai dan air, pembangunan infrastruktur samarinda hanya akan makin menenggelamkan dan makin membunuh kelompok rentan seperti kaum perempuan, seperti tragedi yg terjadi pada Herlina dan Asmah hari ini, Innalillahi wa innailaihi rojiun, semoga pemimpin kita dapat memetik pelajaran dari semua ini.
 
Sebarluaskan.
 
Sumber : Status Facebook Merah Johansyah Ismail
Monday, June 10, 2019 - 19:30
Kategori Rubrik: