"Korban Massal" Bom Medan

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Memperhatikan reaksi khalayak terutama di jagad medsos memang rata-rata menghujat pelaku bom bunuh diri Polrestabes Medan. Namun saya melihat begitu banyak yang menjadi "korban" akibat teror bom ini. Terutama bagi pemeluk Islam. Umat Muslim Indonesia seolah mendapat "penghakiman" dan dipaksa mengakui bahwa pelaku teror beragama Islam.

Menurut saya ini bisa jadi adalah salah satu tujuan perancang teror itu. Yaitu memberikan efek psikologis ketidaknyamanan (minder) dalam beragama khususnya Islam. Sekaligus berusaha menyematkan label bahwa Agama (Islam) itu identik dengan kekerasan.

Mengapa saya katakan demikian? Otak (perancang) teror itu seperti sengaja memilih martir yang memiliki nama yang kental nuansa Islamnya. Nama Rabbial Muslim Nasution sontak menjadi "sorot panggung" bagi media dan khalayak.

Inilah sebenarnya yang dinamakan dengan pendulum teror radikalisme. Bukan hanya Radikalisme Agama dari sisi pelaku. Radikalisme Sekuler menjadi tumbuh dan seolah menjadi reaksi balik atas teror yang dilakukan kelompok Radikalis Agama. Akibatnya, hujatan dan cibiran terus menghujam Agama, terutama dari kelompok sekuler. Meskipun dari pemeluk Agama sendiri banyak yang latah dan ikut-ikutan.

Di sisi lain para pemeluk Agama seakan tak mampu membela diri karena harus mengakui bahwa itu adalah "fakta". Agama seolah mewakili kekerasan. Dan para Penghujat Agama itu seakan mewakili Kemanusiaan. Padahal sejatinya, dalam Agama juga terkandung Nilai Kemanusiaan. Pelaku teror dan para Penghujat Agama itulah yang telah memisahkan antara keduanya. Dan semoga kita tidak berada pada salah satunya. Sebagai Peneror Kemanusiaan yang bertopeng Agama atau sebagai Peneror Agama yang bertopeng Kemanusiaan.

"Jika ada anggota keluarga kita yang sakit, maka sembuhkanlah yang sakit dan lawan penyakitnya. Jangan mengatakan bahwa kita adalah Keluarga Penyakitan. Apalagi ikut-ikutan menjadi sakit. Begitu pula dalam menyikapi Radikalisme Agama."

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Thursday, November 14, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: