Koran Tempo Tidak Enak Dibaca dan Tidak Perlu

Oleh: Alexander Sakura

 

Koran Tempo terbit hari ini 1 Juni 2020, dengan Headline Republik Daripada Indonesia, mengatakan Di Republik Indonesia Pemerintah yg anti kritik telah tumbang 22 tahun lalu. 

Tapi belakangan ini pembungkaman mereka yg kritis terhadap pemerintah terus berulang. Yang terakhir ancaman pembunuhan meneror mahasiswa hukum UGM. Bersembunyi dibalik kecanggihan teknologi informasi, pelakunya kian tersamarkan.

 

Judul di atas saya pilih karena judul ini menurut saya sudah mencerminkan apa yang terjadi pada KORAN TEMPO sekarang. KORAN TEMPO yang sekarang sudah lagi tidak enak dibaca dan sudah pula tidak diperlukan. KORAN TEMPO menurut pendapat saya sekarang sudah bukan lagi koran dengan kualitas pemberitaan yang premium. Ia sekarang sudah menjadi koran sekelas Obor Rakyat.

Mari Kita Kupas Tuduhan Koran Tempo

Sekarang lagi tren narasi ancaman pembunuhan dan teror terhadap mereka yang berpendapat. Dari yang kemarin teror terhadap SJW, ancaman pembunuhan terhadap jurnalis Detikcom sampai teror dan ancaman pembunuhan terhadap panitia pelaksana dan pembicara diskusi pemberhentian presiden.

Menariknya, polanya selalu sama. Yang diteror itu pasti orang-orang atau kelompok yang dianggap garang mengkritik pemerintahan atau rezim. Tuduhannya pun selalu saja mengarah pada rezim, sementara penerornya anonim atau tidak diketahui. 

Setelah diteror, yang bersangkutan bukannya langsung melapor ke polisi, tetapi terlebih dahulu ribut di media sosial. Setelah itu rame deh teror terhadap pendapat dan lain sebagainya. Narasi rezim peneror itu pun tersebar begitu masifnya dan langsung disambut para pejabat tingkat elite. 

Kemudian begitu cepat beredar dan terbangun narasi seperti yg ditulis Koran Tempo, Pemerintah anti kritik, Jokowi represif, pemerintah meneror pengkritik dan pemberhentian presiden? Apakah ini memang reaksi alami, terencana atau dikondisikan demikian oleh Koran Tempo, agar tampak alami dengan tujuan menimbulkan kegaduhan. 

Sikap pemerintah, yang diwakilkan Mahfud MD, sudah sangat tepat sekali. Pemerintah tidak melarang atau meneror diskusi. Kalau suatu diskusi gagal, semata itu karena pembatalan sepihak oleh panitia pelaksana. Kalau kemudian ada ancaman dan teror, silakan lapor ke kepolisian. Soal teror dan ancaman, itu urusan polisi.

Jadi polanya sudah terbacalah. Mereka buat kegiatan kontroversial agar viral. Setelah itu dibatalkan sendiri dengan alasan teror agar lebih viral lagi sambil bangun narasi tambahan yang mendiskreditkan penguasa. Setelah viral, bermunculanlah kegiatan yang sama dengan narasi yang seirama. 

Yang diteror sengaja tidak melapor dengan narasi tidak percaya penegak hukum. Tambah lagi narasi pemantik kegaduhan. Begitu terus polanya sampai lebaran kuda.

Dari 260-an juta rakyat Indonesia, sebagian besarnya adalah pendukung Jokowi. Kalau kalian mau menghantam Presiden Jokowi, maka pendukung Jokowi juga berhak untuk melindungi presidennya dari orang-orang kurang ajar seperti kalian. 

Rakyat waras seperti saya tidak akan tinggal diam kalau mereka mau mengganggu pemerintah yang sedang fokus menghadapi pandemi covid-19.

Bagi saya, mereka ini adalah manusia biadab sebab di tengah negara ini menghadapi pandemi covid-19, mereka sibuk membahas pemberhentian presiden. Bahkan koran sekelas Tempo tak ubahnya Obor Rakyat, hanya mengejar jumlah pembacanya melalui cover yang sensational, judul yang klik bait dan ulasan yang heboh. 

Semua ini mungkin KORAN TEMPO lakukan untuk mengejar profit. Jadi tidak heran jika KORAN TEMPO tidak segan-segan berlaku seperti portal opini murahan. Ia sudah tidak lagi menyuarakan kebenaran. Kenaikkan oplah lah dan jumlah viewer lah yang sekarang ia kejar.

Bukannya membantu menyelesaikan masalah, malah menambah masalah. Tak mungkin kami pendukung Presiden Jokowi tinggal diam membiarkan manusia-manusia biadab seperti kalian.

(Sumber: DDB/Alexander Sakura)

Tuesday, June 2, 2020 - 15:30
Kategori Rubrik: