Koq Antum Mencla Mencle?

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Seseorang mengirimkan copy 2 tulisan saya yang bertentangan tentang suatu masalah, sambil mempertanyakan,"Kenapa ustadz punya pendapat yang mencla-mencle. Kemarin bilang A dan sekarang bilang B?".

Santai saya jawab begini : Jangankan saya, Al-Quran pun begitu juga. Di Mekkah tidak bilang minuman yang memabukkan itu haram, malah bilang sumber rejeki yang baik.

Dan dari buah pohon kurma dan anggur, kamu bisa membuatnya menjadi minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik (QS. An-Nahl : 67)

Tapi begitu di Madinah, turun ayat yang bilang bahwa khamar itu berdosa besar. Qul fihima itsmun kabirun, melarang orang mabuk mendekati shalat dan menyebut khamar itu najis.

Nabi Muhammad SAW pernah melarang orang ziarah kubur, lalu kemudian membolehkannya.

Al-Imam Asy-Syafi'i sebagai mujtahid mutlak mustaqil pun punya dua qaul yaitu qaul qadim dan jadid.

Apalagi Imam Ahmad bin Hanbal, nyaris di semua masalah selalu muncul riwayat-riwayat Beliau yang saling bertentangan.

ALmarhum Buya HAMKA itu paling anti qunut shubuh semasih mudah usianya. Namun setelah membaca ribuan kitab, Beliau jauh lebih bijaksana.

Jadi kalau sekelas saya kok bisa berubah pandangan, tentu saja itu juga bagian dari dinamika.

Dan bukan hanya dalam masalah yang itu saja sering meralat pendapat saya. Contoh mudahnya misalnya, sejak saya berkenalan dengan seorang ustadz semasa SMA dulu, saya sudah stop tidak qunut Shubuh. Tapi ketika saya kuliah di Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan MAzhab, saya qunut shubuh lagi.

Zaman masih kuliah saya pendukung gerakan haramnya bank konvensional, meski saat itu saya tetap punya akun di bank konvensional.

Hari ini saya tidak bilang bahwa bank konvensional itu halal atau haram, tapi saya bilang bahwa antara yang menghramkan dan yang tidak mengharamkan masing-masing punya hujjah, dan yang saling berbeda pendapat itu bukan kelas ecek-ecek. Mereka adalah para ulama senior yang ilmunya jauh di atas kita.

Berubah cara pandang itu bukan hal yang tabu, juga bukan berarti menurunnya kualitas iman. Tapi semakin matangnya kita dalam mendalami ilmu agama.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, April 3, 2020 - 16:15
Kategori Rubrik: