Kontradiksi Suriah

Ilustrasi

Oleh : Khoiron Mustafit

Menurut saya, Suriah adalah ladang perjuangan bagi berbagai pihak; baik perjuangan untuk meraih keuntungan finansial (dengan menipu orang lain), juga perjuangan untuk membela tuan besarnya, yaitu AS dan Israel. Bahwa masalah ini dibungkus dengan judul agama, ya memang demikianlah dari Zaman Nabi SAW, para pengkhianat itu selalu membawa-bawa dalil agama untuk menipu orang-orang bodoh.

Ingat tidak saat AS dan PBB menuduh Pemerintah Suriah telah melakukan pembantaian rakyatnya di East Ghouta pada Agustus 2013, dengan foto anak-anak yang mati bergelimpangan? Tuduhan inilah yang membuat AS merasa berhak melakukan intervensi atas pemerintah Suriah. Ndilalah, sebelum AS mengintervensi secara terang-terangan, Jabhat al-Nusra mengklaim telah menemukan pabrik kimia dekat Aleppo pada Desember 2012.

Demikian juga Ikhwanul Muslimin yang beraliansi dengan Inggris, yaitu the Syrian Observatory for Human Rights (yang bermarkas di Inggris dan ditongkrongi oleh hanya satu orang Ikhwanul Muslimin), bersama dengan para aktivis anti pemerintah, mereka menuduh bahwa tentara Suriah telah menggunakan senjata kimia. Tapi apa lacur, setelah pemerintah Suriah protes kepada PBB, ternyata gas sarin itu justru telah digunakan di beberapa pertempuran oleh kelompok pemberontak di Khan al Assal Aleppo Barat. Demikian juga kantor berita SANA, mereka mengabarkan bahwa teroris pernah menembakkan roket berbahan kimia yang telah menewaskan 25 orang dan melukai 86 lainnya, baik tentara maupun sipil. Pada tahun 2014, ternyata Jabhat al-Nusra lah yang terbukti telah mengunakan gas klorin itu.

Tentang Khan al Asal, Bashar al-Ja’fari, Duta Besar Suriah untuk PBB, menyatakan bahwa teroris bersenjata telah menembakkan roket dari Kfar De’il ke Khan al Asal; gumpalan asal tebal telah membuat orang yang menghirupnya tidak sadar, mengakibatkan 25 orang terluka, dan lebih dari 110 rakyat sipil dan tentara dilarikan ke rumah sakit di Aleppo. Setelah itu pemerintah AS, Prancis, dan Inggris (yang mendukung teroris bersenjata) menambahkan serial insiden baru dengan mengklaim bahwa ada senjata kimia di Suriah. Mereka membela para teroris mati-matian bahwa tidak ada bukti mereka yang menembakkan senjata kimia itu.

Ada lagi bukti, Investigator PBB Carla del Ponte, mengatakan bahwa testimoni dari para korban mengatakan bahwa para pemberontaklah yang menembakkan gas sarin (BBC 2013). Pada bulan yang sama, pasukan Turki menemukan 2 kg gas sarin di rumah para pejuang Jabhat al Nusra (RT 2013). Pada bulan Juli, Russia mengumumkan bahwa para pemberontaklah yang membuat gas sarin itu (Al Jazeera 2013).

Masih ingat kejadian gas sarin yang sama di tahun 2017? Seluruh dunia, melalui PBB menyatakan bahwa gas sarin tersebut ditembakkan oleh roket tentara Suriah. Namun, tidak lama keemudian, jurnalis Yoichi Shimatsu membongkar kebohongan berjamaah tentang serangan gas Sarin tersebut. Menurutnya, PBB telah melakukan kebohongan yang hiperbola, karena serangan besar-besaran gas syaraf dengan cara apa pun akan membunuh puluhan ribu korban. Apalagi jika ini dilakukan oleh roket militer. Jika benar rocket militer yang digunakan, maka gas sarin ini pasti telah mengorbankan seluruh penduduk itu secara instan. Menurutnya, yang mungkin adalah gassing (pelepasan gas sarin) dilakukan secara insidental dari kawasan itu sendiri alias tidak dengan serangan roket. Kemungkinan besar gas ini berasal dari gudang senjata para pemberontak.

Pemenang Pulitzer Seymour Hersh menolak klaim Obama–waktu itu–bahwa rezim Bashar al-Assad yang melakukan serangan senjata kimia di Ghouta pada Agustus 2013. Menurutnya, pemerintah AS memiliki pejabat tinggi CIA yag melaporkam bahwa kelompok ekstrim mendapatkan prekursor kimia itu dari Turki dan Saudi. Menurut Hersh al-Nusra-lah yang menjadi dalang gas sarin itu.

Dari dulu sampai sekarang, ini hanyalah masalah kue apam balik yang tak pernah didapat oleh Gedung Putih, Inggris, dan Prancis di Suriah. Mereka pun lalu menawarkan roti-roti busuk kepada para pemberontak dan sebagian dunia agar mereka berhak melakukan intervensi di Suriah. Roti yang sama juga sedang dimainkan di Indonesia dengan issue yang tak kalah busuknya: kebangkitan PKI, isu komunisme mana yang oleh AS selalu digunakan untuk mengadudomba banyak nengara. Karena, sekali lagi, ini hanya masalah cara menyenangkan tuan mereka saja, yaitu AS.

Sumber : Status Facebook Khoiron Mustafit

Thursday, March 8, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: