Kontekstual dan Tekstual

Oleh : Damar Wicaksono

"Mereka-mereka itu tak bersyukur dengan nikmat Allah dengan datangnya bulan Ramadhan. Masanya taraweh di mesjid ya brhenti jualan dulu. Kan bisa nanti jualan lagi jam 8an! Sesungguhnya mereka tergolong merugi. Yang di jalan juga segera pulang. Kan jam kantor udah lebh siang, jam 3 atau 4 udah pulang"

Demikian isi kultum taraweh semalem di sebuah mesjid besar di bilangan Buncit. Tentu saja gaya ceramah (dakwah) yang mengancam itu begitu mengejutkan saya. Begitu mengurangi konsentrasi saat kemudian taraweh dilakukan

Datangnya dari seorang pemuka yang tentu saja punya pengikut. Yang sebagian akan menelan mentah-mentah. Dan sebagian jemaah pun tersenyum simpul, seolah tak menyadari.

Tak heran ceramah yang jauh lebih provokatif terus punya pengikut. Sungguh menyedihkan bukan?

Di depan mesjid besar itu, ada laundry dan tukang kebab langganan. Di samping kiri mesjid ada warteg mungil dan tukang cukur. Beliau-beliau yang sebagian konsumennya adalah kaum pekerja yang baru pulang sore sampai malem

**

Apakah penceramah itu tak tahu bahwa pedagang-pedagang kecil itu: tukang kebab, mbak laundry, mas warteg, cak pecel lele, mang cilok, kang bakso dan lain-lain, tak punya pilihan lain selain meraup rejeki pada malam hari? Termasuk pada jamnya taraweh di mesjid?

Apakah penceramah kultum itu tak tahu kalo taraweh bisa saja dilakukan di rumah pada dini hari?

Apakah penceramah kultum itu tak tahu jika taraweh itu ibadah sunah, sedangkan berdagang demi anak istri adalah wajib?

Jikapun para pencari rejeki itu lalu pulang dini hari dan terlelap kelelahan, bahkan tak sempat sahur, saya yakin Allah akan mengerti.

Kata mbah kyai, Islam agama yang mudah. Walo tak juga lalu dimudah-mudahkan

Terus semangat para pejuang keluarga!

Semoga Allah meridhoi perjuangan njenengan semua.

Tabik tabik tabik

Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan untuk sedulur semua

Dari saya yang mantan penjual jasa konter hape dan pulsa, yang dulu harus berjualan 15 jam sampai jam 11 malam. **

Sumber : facebook Damar Wicaksono

Friday, June 9, 2017 - 12:30
Kategori Rubrik: