Konsep Membangun Ala Jokowi Anti Neolib

Ilustrasi

Oleh : Yosep Mohamad Holis

At least ada dua mahzab konsep pengembangan wilayah suatu negara atau daerah.

Pertama adalah yang berpegang pada konsep growth poles (pusat-pusat pertumbuhan) dengan mengembangkan Kawasan yang sudah punya sektor basis seperti pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, pengembangan kawasan industri terpadu Cikarang, pengembangan kawasan komersil di perkotaan dsb. Dan biasanya selalu ditentukan oleh mekanisme pasar, kemauan pasar dan kepentingan pemodal besar. Secara utopis berharap dengan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan akan terjadi trickle down effect (efek menetes) ke daerah hinterlandnya (sekitarnya).

Namun prakteknya ga banyak berhasil, justru menyebabkan kesenjangan makin tinggi. Yang ada konsep growth pole ini banyak digunakan kaum kapitalis (neolib) sebagai mode of production untuk mengkapitalisasi modalnya demi kepentingan sekelompok orang tanpa liat society (tujuan sosial) apalagi tujuan pemerataan.

Nah untuk antithesa dari konsep di atas adalah #Membangun Indonesia dari #Pinggiran (nawacita #3). Dan syaratnya membutuhkan intervensi pemerintah, membutuhkan strong political will dari pemimpinnya dan punya skema pembiayaan sendiri yang tidak selalu tergantung pada swasta karena swasta selalu menghitung kelayakan usaha. Dan konsep membangun dari bawah, dari pinggiran dari daerah terisolir, at least akan didapat 2 keuntungan, yaitu pemerataan pembangunan dan menstimulir kegiatan ekonomi di daerah marginal tersebut sehingga mereka punya kesempatan untuk maju dan berdaya saing. Itulah yang sedang dikerjakan #PemimpinRakyat untuk #IndonesiaCentris.

Sumber : Status Facebook Yosep Mohamad Holis

Sunday, April 15, 2018 - 21:00
Kategori Rubrik: