Komunisme dan Sosialisme Sekarat

ilustrasi

Oleh : Islah Bahrawi

Mengapa komunisme dan sosialisme pada akhirnya sekarat, dan tidak sanggup bertahan seperti kapitalisme? Jawabannya sederhana: karena komunisme dan sosialisme terlalu sibuk dengan doktrin, sementara kapitalisme telah sibuk dalam tataran praktik. Mengapa komunisme di Rusia tidak bertahan lama, sementara di Tiongkok masih bertahan? Jawabannya juga singkat: karena komunisme di Rusia lebih dulu melakukan reformasi politik, sementara China lebih dulu mereformasi ekonomi. Glasnost dan Perestroika di Rusia pada akhirnya tidak sanggup mengendalikan euforia kebebasan ekonomi, dan membunuh komunisme lebih cepat dari seharusnya.

Selama bertahun-tahun sejak zaman Orde Baru, Pancasila selalu dihadirkan dalam ruang doktrin yang baku dan kaku. Ia hanya berupa simulasi tekstual dan kumpulan pertanyaan dari ujian kurikulum sekolah yang kognitif. Selama Orde Baru, Pancasila menjauh dari ruang praktik. Ekonomi dan politik berjalan sepenuhnya dalam kendali otokrasi yang represif. Oligarki pada semua lini saat itu, adalah pilihan "ideologi" yang disengaja. Jadi, jika beberapa pendukung Soeharto mengatakan Orde Baru paling Pancasilais, tentu saja ini satu hal yang konyol dan berbanding terbalik dengan fakta sejarah.

Pasca reformasi, Pancasila kemudian hanya mengandalkan sepenggal frasa stabilitas, berbunyi "Bhinneka Tunggal Ika" - jargon ikonik yang membuat kesaktian Pancasila tidak pernah ingkar janji. Sayang, doktrinnya mulai melemah dan apalagi untuk menuju tataran praktik, Pancasila harus melewati tanjakan yang sangat berat. Pada saat itulah berbagai ideologi berbasis eksklusivisme agama mulai menikam perlahan, ketika Pancasila sedang menarik oksigen setelah terkungkung selama 32 tahun.

Pasca reformasi, Pancasila kemudian hanya mengandalkan sepenggal frasa stabilitas, berbunyi "Bhinneka Tunggal Ika" - jargon ikonik yang membuat kesaktian Pancasila tidak pernah ingkar janji. Sayang, doktrinnya mulai melemah dan apalagi untuk menuju tataran praktik, Pancasila harus melewati tanjakan yang sangat berat. Pada saat itulah berbagai ideologi berbasis eksklusivisme agama mulai menikam perlahan, ketika Pancasila sedang menarik oksigen setelah terkungkung selama 32 tahun.

Sepanjang sejarah Bumi kita memang selalu disibukkan perang ideologi kekuasaan, berbanding lurus dengan geopolitik global. Setelah komunisme tersengal, kapitalisme liberal seolah berjaya tanpa pesaing. Lalu ideologi politik Khilafah yang menunggangi sentimen Islam berusaha naik panggung. Menghipnotis umat seolah tanpa kekuasaan politik, Islam tak berdaya dan tak akan berdiri tegak. Agama dianggap lebih lemah dibanding ideologi politik, dan anehnya banyak umat yang bangga dan mendukungnya.

Sumber : Status Facebook Islah Bahwari

Thursday, July 16, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: