Komunisme Beralih Bentuk

ilustrasi

Oleh : Rowie Sujudi

Soeharto mendata keluarga para mantan anggota PKI, lalu menyematkan tanda tapol pada mereka. Memimpin sebuah rezim dengan mengucilkan tujuh turunan yg terduga komunis. Mencabut segala hak warga negara yg wajib dilindungi bahkan hak sebagai manusia untuk hidup tenang.

Donald Trump meregister pemeluk agama Islam di Amerika, mempersempit ruang kebebasan dan melarang muslim dari negara tertentu masuk ke negaranya. Persis yg dilakukan PKI ketika melenyapkan para Kyai.

Jika Anda muslim silakan marah. Namun saya pastikan bahwa apa yg dilakukan Trump dan Soeharto sama saja. Sebab, sikap ini berasal dari logika serupa, cuma dikeluarkan oleh pihak yg berbeda.

Mereka sama-sama memelihara embrio kebencian yg kelak melahirkan trauma bagi peradaban manusia yg bernama ketidakadilan.

Jika masyarakat Amerika ingin membentengi diri dari sejarah kelam isu rasial seperti di Indonesia, disini Soeharto didaulat menjadi pahlawan. Rizieq Shihab diangkat menjadi imam besar ; membuat spanduk Ganyang Cina, Usir Cina dan Anti Kristen. HTI dipuja para bigot yg membenci dan memusuhi kelompok lain, bahkan berencana merobohkan Pancasila dan menggatikannya dengan sistem yg berdarah-darah.

Mereka meninggalkan kesadaran bahwa ras yg mereka hina itu sudah ada sejak zaman Sriwijaya. Sedangkan pribuminya hanya ras Papua - yg dari dulu juga dihina, hingga sekarang. Hingga hari ini.

Keadilan adalah ketika Abu Bakar Ba'asyir menjadi sponsor bom Bali, tapi keluarganya tak pernah di jadikan tapol oleh Jokowi.

Amerika harus belajar berdemokrasi pada bangsa ini.

Sumber : Status Facebook Rowie Sujudi

Tuesday, October 8, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: