Komunis, Ular dan Hantu, Sikap Intoleran dalam Budaya Kita

Ilustrasi

Oleh : Susy Heryawan

 

RedaksiIndonesia - Saat ini ramai lagi soal PKI dan komunis yang secara tidak langsung ada pengadilan HAM di Den Haag Belanda. Peradilan yang tidak jelas karena semua adalah korban sekaligus pelaku kekerasan saat itu. Keluarga PKI yang dikatakan korban namun jangan lupa juga pelaku, meskipun bahwa korban di pihak PKI yang berkepanjangan, selama orba berkuasa, ini bukan Belanda yang melakukan, namun anak bangsa sendiri bisa kalau mau berjiwa besar dan mau mengakui sebagai pelaku dan korban sekaligus. Sejak orba berbicara komunis sama juga komunis dan itu disangkutpautkan dengan ateis yang sangat bertentangan dengan Indonesia yang beragama. Ada kesalahan di sini, bahwa komunis sama dengan ateis padahal tidak sepenuhnya benar. Pembekuan dan pembungkaman mengenai tema-tema tertentu membuat kita salah kira dan langsung bereaksi dengan berlebihan, padahal kalau lebih tahu sedikit saja tidak akan seheboh itu.

Soal komunis/PKI ini makin lama makin banyak saksi hidup yang meninggal, luka ini akan menjadi bagian masa lalu yang membebani tanpa jelas mau dibawa ke mana. Tidak heran ketika generasi ini, mulai bisa menilai secara obyektif ilmiah, dengan melupakan sejarah yang tidak lagi proporsional. Buku-buku aliran kiri makin banyak, sosialis yang dulu pun dicap komunis mulai digilai kaum muda, kalau tidak hati-hati soal ’65 malah berujung sangat jauh dari fakta sejarah yang terjadi. Takut ular atau hantu. Ibu-ibu atau orang tua pada umumnya untuk mengontrol anak agar tidak main-main yang berbahaya atau malam hari, akan menakut-nakuti anak dengan ular atau hantu. Anak itu hingga dewasa akan tetap tajut hantu dan ular, padahal gambaran kedua obyek ketakutan itu sama sekali tidak diketahui. Apa yang ditakuti itu ketakutan turunan karena orang tuanya juga takut dengan obyek yang sama. Hantu itu apa, mengapa takut ular yang sama sekali bukan karena mereka sendiri tahu dengan baik namun begitu mencekam otak dan psikologisnya, yang bisa terbawa hingga dewasa.

Bisa saja bahwa dia sebenarnya suka hewan melata itu namun karena konsep yang tertanam itu buruk, bahaya, ular kecil sekalipun sudah ketakutan berlebihan. Intoleran. Sikap toleransi bisa terpupuk ketika sikap curiga menjauh dan mau melihat ke dalam pihak lain dengan sikap terbuka dan berjiwa besar. Ini bukan soal agama saja, namun juga suku, kepercayaan, lihat bagaimana sengitnya pilpres lalu, karena sikap toleran yang sangat rendah. Berbeda itu salah dan harus dimusuhi, dikatakan sebagai bukan bagian diri, menyuburkan sikap intoleran yang berkaitan dengan sikap terbuka melihat keberagaman. Berbeda ketika mau tahu dan mempelajari keyakinan, kepercayaan, budaya, atau kebiasaan yang lain. Sama sekali tidak akan membuat perubahan iman ataupun kepercayaan.

Diskusi mengenai agama dan budaya bagi saya justru meningkatkan keimanan saya. Asal bukan bertendensi untuk mengalahkan dan mencari salah pihak lain dan hendak menyamakan pihak yang berbeda tersebut. Pengetahuan mengenai “yang lain” itu rendah dengan berbagai sebab, membuat kita seperti katak dalam tempurung merasa paling benar dan hebat. Sikap keluar akhirnya tidak jauh berbeda, pihak lain sebagai rendah dan perlu diperbaiki agar setara. Padahal belum tentu demikian. fanatis itu ke dalam mutlak, namun kalau keluar perlu namanya toleran. Sepakat bahwa komunis tidak sesuai dengan jiwa dan jati diri bangsa, namun alasan itu perlu dikatakan dengan jelas dan apa adanya. Alasan yang jelas bukan seperti takut hantu tersebut.

Sikap demikian tentu akan membantu kaum muda yang tidak mengalami kejadian secara faktual tidak akan lepas dari sejarah yang “menyakitkan” itu. Pilihan akan makin kuat ketika telah mengetahui dengan baik apapun yang ada “di pihak sana” itu, bisa agama, budaya, suku, ataupun ras. Menutup diri rapat-rapat akan apapun selain dirinya, membuat kita hidup dalam pola pikir sendiri dan menilai yang lain buruk dan salah.

Thursday, November 12, 2015 - 23:45
Kategori Rubrik: