Komunikasi

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Semua pakar komunikasi pasti mempostulatkan bahwa dalam komunikasi, message itu harus disampaikan dengan jelas. Sejelas-jelasnya. Tanpa multi tafsir. Tapi seorang tuan baru saja mengajarkan sebaliknya: message itu bisa dibungkus dalam bentuk sedemikian sehingga dia bisa melayani beberapa tujuan.

Bentuk pertama adalah bungkus luar. Bungkus luar ini jangan terlalu jelas, kasih sikit sikit lah aroma multi tafsir. Jadi waktu diserang orang, mudah mengelaknya: ah kamu, baca dong dari awal, khan jelas itu konteksnya jaman Belanda. Belanda gak pernah terlihat di pelosok, cuma di Jakarta aja yang jelas kelihatan penjajahan oleh Belanda. (Lalu semua mendapati pernyataan ini membingungkan. Bukannya di Jakarta, seperti Minke menceritakannya di tetralogi Bumi Manusia, setiap dia berkereta dari Buitenzorgh ke Batavia, menemui Belanda di tempat-tempat pertemuan macam kamar bola? Lobby-lobby, debat-debat dan meeting-meeting. Gak ada Belanda memegang pecut di Batavia, Tuan, adanya justru di perkebunan-perkebunan rodi di pelosok sana).

Once khalayak baperan (seperti saya ini) meributkan itu si bungkus, keributan ini ibarat malah membuka itu si bungkus, dan pesan di dalemnya meluncur dengan mulus ke telinga-telinga yang memang dituju. Bunyinya sederhana, macam kode: ready ya, 2019, ini lho tujuan perangnya. Siapp..ndann!

Ahh kamu, makanya pahami dong..beda antara tuan terpelajar yang makan sekolahan tinggi sampai ke Amerika, bicara itu santun dan dipikir bener-bener (=distrategikan). Jangan bicara itu asal njeplak kayak sapa itu kemaren, yang suka bilang: saya itu emang tipe bicara duluan (apa adanya), lalu baru dipikir belakangan..

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Saturday, October 21, 2017 - 19:00
Kategori Rubrik: