Komunikasi Ndeso Jokowi di KTT G20 Terbukti Sukses

Ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Ada yang merendahkan Presiden Jokowi karena dia membaca teks bahasa Inggris ketika berbicara berdua dengan Presiden Trump.

Bahkan dikatakan kalau bicara bahasa Indonesia saja terbata-bata apalagi bahasa Inggris. Dan lebih konyol, hal itu disindirnya sebagai "tak tahu diri."

Ada yang bilang 'sebagai orang Indonesia, saya malu.' Orang ini lupa jika ulahnya selama ini bukan cuma malu-maluin, tapi bahkan memuakkan - sampai pernah diusir ketika berjunjung ke sebuah daerah.

Sebagai rakyat, saya tersinggung. Terlepas bahwa cara komunikasi Jokowi itu tak lazim, karena baca 'kepekan' ketika berhadapan dengan Trump - tapi bagi saya - itu adalah upaya untuk menghargai Trump.

Dan yang ingin saya sampaikan, gaya komunikasi masing-masing pemimpin itu berbeda-beda. Jokowi tak mahir berkomunikasi lisan, tapi dia berkomunikasi melalui karya dan tindakan (simbol). Untuk gaya komunikasi ini, dia sangat piawai.

Mantan presiden sebelumnya sebaliknya. Dia piawai berkomunikasi lisan, termasuk bahasa Inggris dan bahasa tubuhnya. Tapi soal komunikasi karya, Jokowi jauh lebih unggul.

Mana yang akan kalian pilih ? Saya memilih pemimpin yang piawai berkomunikasi melalui karya dan tindakan. Rakyat dan bangsa ini lebih membutuhkannya.

Keindahan komunikasi lisan memang perlu, tapi sering berhenti pada kegembiraan kuping rakyat semata.

Jika Ahok melahirkan filsafat melalui perbuatannya (kata M. Sobary), maka Jokowi menciptakan komunikasinya melalui karya. Gaya komunikasi 'ndeso' : melalui karya-karya dahsyat.

Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono

Wednesday, July 12, 2017 - 22:30
Kategori Rubrik: