Komposisi Vaksin dan Penggunaan Sel Manusia

Ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Hoax semacam ini memang gak ada matinya, sekalipun sudah diluruskan berkali-kali. Bahkan sekelas dokter sekaligus influencer bisa terpengaruh hoax tanpa crosscheck. Jangan sekedar lihat gelar, semua pendapat tidak bisa diambil jika tidak berdasar penelitian ilmiah atau referensi shahih.
 

1. Sel manusia jadi komposisi vaksin?

Ini hoax. Sel dipakai hanya sebagai 'lahan' untuk mengembang biakkan virus (virus lalu akan dinon-aktifkan untuk jadi vaksin inaktif). Sama seperti anda ternak ayam lalu di jual di pasar, kandangnya ga ikutan dijual!

Lagipula produksi vaksin melibatkan proses ultrapurifikasi, yaitu pembersihan di tingkat molekul, untuk memastikan hanya partikel virus yang terambil (tidak ada partikel sel). 

Jangankan vaksin, di dunia nyata virus flu babi awalnya mewabah di populasi babi. Virus berkembang biak di sel babi lalu menular masuk ke sel manusia. Ini tidak menjadikan sel babi masuk ke tubuh anda, lantas jadi haram!

Demikian juga virus covid-19 ditenggarai melompat dari hewan (kelelawar, trenggiling), bukan berarti sel hewan ikut pindah ke badan anda.

Pernah lihat polisi bisa melacak DNA pelaku kejahatan hanya dari potongan rambut? Sel itu bentuknya kecil sekali, kira-kira sepertujuh diameter rambut. Virus jauh lebih kecil lagi. Gimana caranya vaksin yang berisi virus kemasukan sel? Ibarat ayam kemasukan kandang ayam?

Sel ginjal yang sangat kecil itu, tidak sama dengan potongan ginjal. Untuk membiakkan vaksin kita tidak butuh mengambil banyak sel dari banyak janin. Satu sel saja bisa digandakan (dibuat membelah diri) di lab untuk memproduksi berton-ton sel. Jadi bikin vaksin jangan dibayangkan kayak penyihir mencacah ginjal bayi lalu dimasukkan ke botol!
.

2. Kenapa produksi vaksin butuh dibiakkan di sel manusia (janin)?

Virus bukan makhluk hidup, tidak bisa menggandakan diri tanpa hinggap di sel makhluk hidup (mirip benalu).

Untuk bisa nyebar ke seluruh dunia, virus membajak sel manusia yang satu dan menular ke sel jutaan manusia yang lain, begitu seterusnya.

Demikian juga memproduksi jutaan vaksin, butuh pembiakan jutaan virus di sel. Bedanya dengan virus alami, pada vaksin virus dibiakkan bukan di sel manusia hidup, bisa sakit parah nanti orangnya buat ternak virus.

Produksi vaksin membiakkan virus di sel janin manusia agar bisa mewakili sel manusia yang sehat (janin belum terpapar macam-macam). Pernah saya tulis di sini:
facebook.com/mila.anasanti/posts/10216278919581967

 

el HEK293 awalnya didapat dari janin hasil aborsi legal di Belanda Tahun 1973. Sel ini bisa bereplikasi tanpa batas (immortal) di Lab sampai kini dan bertahun-tahun ke depan. Aborsinya sekali itu saja.  CATAT !

Janinnya diaborsi bukan demi penelitian vaksin ya, alasan diaborsinya tidak ada hubungan dengan vaksin. Bisa saja karena alasan medis, cacat karena Rubella, membahayakan kondisi ibunya, dll.

Jadi yang dipakai di produksi vaksin saat ini adalah cicit dari cicit sel 50 tahun yang lalu yang dikembang-biakkan di lab, bukan dari sel induk (primer) hasil aborsi janin 50 tahun lalu.
.

3. Apakah pemanfaatan sel manusia haram dan najis?

"Apa yang terpisah dari mayyit manusia hukumnya suci" (syarah Mandzumah ushul fiqih, kaidah ke-60)

Jadi pada asalnya sel manusiapun suci. Apalagi sel tidak masuk
vaksin yang disuntikkan ke tubuh. Virus vaksin pun dihukumi suci. Kalau anda tertular virus flu babi yang sebelumnya berkembang biak di babi, apakah otomatis badan anda menjadi haram karena kemasukan sesuatu yang berasal dari babi? Tiap hari tubuh kita keluar masuk kuman, baik itu virus maupun bakteri. Mereka ini sebelumnya hinggab di mana saja, jika dihukumi najis, maka bisa-bisa tiap detik kita harus mensucikan diri.

Sel untuk membiakkan vaksin tidak ikut masuk tubuh, bahkan kalau dihukumi haram, bagaimana hukumnya dengan transfusi darah? Berapa banyak sel darah merah berpindah via transfusi darah? 

Padahal darah dihukumi haram ada pada 1 ayat dengan keharaman babi:

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah" (Al-baqarah: 173).
.

4. Bagaimana dengan etika penggunaan sel janin manusia?

Pada dasarnya produsen vaksin saat ini tidak terlibat sama sekali dengan aborsi janin yang terjadi 50 tahun lalu (aborsi pengambilan sel hanya sekali itu saja). Sel-sel turunan diperoleh secara halal dari Lab (bukan dari janin).

Ibarat anda beli telur secara halal di pasar, padahal 50 tahun lalu ayam petelur itu hasil turunan ke sekian ayam yang dibeli dengan riba. Tetap telur yang anda beli halal

Bagaimana dengan aborsi? Kaidah yang berlaku:

“Sesuatu yang diharamkan karena usahanya, maka ia haram bagi orang yang mengusahakannya saja, bukan pada yang lainnya yang mengambil dengan jalan yang mubah (boleh)” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 2, Syaikh Utsaimin) 
.

5. Kandungan Aluminum, formaldehyde, thimerosal di vaksin? Bahayakah?

Semua kandungan ini ada dalam asupan kita sehari-hari, bahkan kandungannya jauh lebih besar dalam makanan, bahkan ada dalam ASI. Berbahaya hanya jika dosisnya melampaui batas ambang. 

Kandungan di vaksin jauh lebih kecil dari batas yang diizinkan [lihat gambar kedua, dan link referensi di bawah ini].

Ref :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6027112/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7427994/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7427994/
https://thenativeantigencompany.com/an-early-look-at-vacci…/
https://www.cdc.gov/vaccinesafety/concerns/adjuvants.html
https://www.cdc.gov/…/d…/vacsafe-thimerosal-color-office.pdf

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Sunday, November 29, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: