Kompor Sampah

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Mahasiswa dimana-mana bagaikan kompor. Siapa yang menggoreng itulah yang menginjak kepala mereka untuk naik ke panggung kekuasaan. Situasi negara yang genting di tahun 1998, membuat kompor mahasiswa laku keras dipakai menggoreng oleh para politisi.

Namun sekarang? Ingin itu di ulang ?

Hanya orang mabok saja berangan demikian. Dan itu milik aksi unjuk rasa Universitas Islam Riau. Mereka sedemikian brutalnya hingga membakar mayat yang dipersonifikasikan sebagai mayatnya Jokowi. Kelakuan yang sama sekali mencerminkan orang-orang yang sedang mendalami Islam.

Mereka berteriak ketika membakar pocong Jokowi , “ matilah kau Jokowi. Hidup Mahasiswa.” Dan mereka bersorak histeris manakala pocong itu terbakar. Mereka menuding nuding pocong terbakar lengkap dengan kemarahan dan kebencian dengan berulang ulang mencaci dan menyebut nama Jokodok.

Histeria “rezim Jokodok turun sekarang juga “ sempat diwarnai dengan tendangan seorang mahasiswa yang bodoh ke arah pocong yang terbakar. Untung tidak kena. Jika kena, maka mahasiswa disekitarnya pasti akan kena bara apinya.

Anehnya HMI ingin aksi-aksi brutal itu dilakukan di berbagai daerah. Gerakan Pemuda Islam bahkan mendesak mahasiswa melakukan gerakan massif dengan aksi serupa menjatuhkan Jokowi.

Tuntutan mundur merupakan bagian dari kemerdekaan berpendapat. Namun cara brutal menunjukkan kelas berfikir pada mahasiswa itu. Kelas comberan. Mereka tidak sadar bahwa kepala mereka sama sekali tidak berharga ketika diinjak para politisi yang memanfaatkannya. Ditinggal sendirian ketika politisi berkuasa. Dan tidak ada yang menolong mereka ketika lamaran mereka langsung dibuang ke tong sampah para HRD hingga susah cari kerja.

Kelakuan sampah mereka akan terbawa dan menjadi pecundang saat tua.

Merana sepanjang masa.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Friday, September 14, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: