Komplotan Penjahat yang Ingin Berkuasa

Oleh: Ricky Apriansyah

 
Menjelang Pilpres, makin dahsyat serangan untuk petahana. Fitnah makin brutal, aneka isu dimainkan lawan dan ujung-ujungnya untuk menyerang. Dibayarnya orang-orang untuk bicara ngawur dan membalik fakta di dunia nyata, di TV-TV dan di media sosial. Maklum saja, dana mereka tak terbatas. Kekayaan pasangan saja sudah triliunan rupiah. Belum ditambah dari saudara si capres yang masuk jajaran orang terkaya versi Forbes. Dan masih ada dari pendukung-pendukung, khususnya keluarga Orde Baru yang hartanya tak akan habis tujuh turunan.
 

Orang lugu akan percaya bahwa itu dana halal dari bisnis dan kerja keras. Tapi faktanya di balik semua itu ada kong kalikong, katebelece, bahkan regulasi sampai tingkat undang-undang yang diatur untuk memuluskan bisnis. Sudah puluhan tahun sejak rezim Orba berkuasa, budaya itu berlangsung. Proyek-proyek pembangunan yang ada dikerjakan pihak keluarga dan kroni untuk memperkaya diri.

 

.

 

Sedangkan Capres sekarang dulu bertugas membungkam mulut siapapun yang berani mengkritik itu semua. Apapun dilakukan hingga harus menghilangkan nyawa orang. Sudah menjadi rahasia umum soal siapa dalang  penculikan dan penghilangan aktivis mahasiswa 1998. Tak hanya itu, dia juga bertanggungjawab atas kejahatan HAM di Timor Leste. Maka bila orang ini yang jadi presiden RI, jangan harap kebebasan berpendapat dilindungi. Siap-siap saja kalau hari ini mengkritik, nyawa lenyap esok harinya.

Walau sudah bercerai dari isterinya yang anak eks penguasa negeri, kini serombongan keluarga besar berdiri di belakang sang Capres. Di antaranya ada si anak bungsu yang tak lain eks napi yang terbukti melakukan pembunuhan terhadap hakim Syafiuddin Kartasasmita untuk membungkam mulutnya.  Aparat penegak hukum saja dia teror dan bunuh ketika mengganggu urusannya. Selama hidup fulusnya lancar karena sang ayah tega menyuruhnya memonopoli cengkeh dan kasih dia pegang protek mobil nsional, dan masih banyak lagi.

Tak lupa juga sulungnya Cendana yang sudah terkenal melakukan monopoli & oligarki. Stasiun-stasiun TV Indonesia dulu juga sasaran monopoli keluarga besar yang culas ini. Begitu juga dengan proyek-proyek jalan tol. Bila mereka kembali berkuasa, tak ada lagi kesempatan bagi pengusaha lain untuk berbisnis karena semuanya diambi keluarga dan trah Cendana.

Masih dari klan Cendana, masih ada lagi si cucu eks penguasan yang jadi raja narkotika dan sudah tertangkap berkali-kali. Dialah yang memasok narkotik ke Indonesia dan membuat banyak anak muda Indonesia mati di tahun 90-an karena putaw, sabu-sabu dan narkotika lainnya. Bila sang paman menjadi penguasa negeri, maka bisnisnya akan menggurita. Dan jangan harap SDM Indonesia maju, kalau anak muda kita akan menjadi pecandu narkoba.

Sedangkan orang dari partai matahari biru yang getol menemani Cawapres kampanye kemana-mana, tak lain eks menteri kehutanan yang gagal. Kebakaran hutan merajalela di eranya, penebangan liar dimana-mana, akibat kongkalikongnya dengan mafia hutan. Tiga saudara kandungnya yang menjabat kepala daerah kini tersangkut korupsi. Maka bila dia ikut di lingkaran kekuasaan, siap-siap saja dia lanjutkan aksinya tanpa peduli nasib ekosistem hutan dan ekses lainnya. Hutan Indonesia akan kembali dijual ke mafia.  Hutan akan gundul, longsor dimana-mana dan hewan langka menjadi punah.

Lebih dari itu, ngomong soal punah, Capres dan gerombolannya memang suka membalik kenyataan. Padahal sudah jelas kemungkinan Indonesia punah ini hanya bila gerombolan penjahat ini yang berkuasa.

Friday, December 21, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: