Kompas dan Kenangan Masa Remaja

ilustrasi

Oleh : Suratno Muchoeri

Saya mulai mengenal koran KOMPAS sekitar tahun 1988. Saat itu saya kelas 1 di SMPN 1 Nusawungu. Beruntung, rumah gubuk saya di pinggir sungai di desa saya Danasri, dari Korea eh Kroya-Cilacap ke timur sekitar 5 km, tidak jauh dari kontrakan bapak2 guru muda sekolah saya. Satu rumah di kontrak oleh sekitar 4-5 bapak guru yang masih single. (Pak Huji, Pak Kusdadi, Pak Wasni, Pak Aziz dll).

Oleh karena itu saya dulu memberanikan diri untuk kadang2 main ke kontrakan mereka. Tidak untuk belajar, tapi tujuan utamanya untuk numpang baca koran yakni KOMPAS & BOLA. Kebetulan kontrakan bapak2 guru saya berlangganan kedua koran itu (kompas harian, sementara bola dulu terbit tiap jum'at).

Waktu itu mungkin saya masih terlalu kecil. Sebagai anak kampung pergaulan dan pengetahuan masih terbatas. Saya tahunya pelajaran sekolah, pelajaran ngaji di pesantren dan terutama dunia olah raga (karena baca koran BOLA dulu bagi saya lebih mudah dipahami). Jadi dulu saya belum tahu manfaatnya baca koran KOMPAS yang terlalu berat dan susah dipahami bagi saya kecuali sekedar alasan bahwa saya meniyatkan diri untuk hobi membaca.

Tapi bahkan plesetan teman saya di pesantren klo kompas itu (maaf) komando-pastur dan menganggap itu koran Kristen serta ada muatan misionarisnya tidak membuat saya berhenti membaca koran KOMPAS. Tentu karena selain hobi kembaca, juga saya melihat tuduhan itu tidak benar dan tidak sesuai kenyataaanya.

Memang koran KOMPAS terlalu berat bagi saya. Berita ekonomi saya baca, banyak istilah yang tidak paham. Saya tidak bisa memahami utuh isi beritanya. Tapi tetap saya baca. Kadang nggak selesai bacanya hehe.

Jadi yang saya baca yang sampai tuntas itu seperti berita2 politik nasional dan internasional. Selain itu, rubrik sosial, pendidikan, budaya dan sejenisnya juga menarik hati saya. Selain suka baca ulasan olah-raga di koran KOMPAS (yang beda dengan koran BOLA), saya juga suka rubrik sastra di akhir pekan: baik cerpen, puisi maupun kolom. Hasilnya, saya sedikit paham isinya dan itu pelan2 membuka cakrawala pengetahuan dan wawasan saya.

Oiya, saya juga suka dengan TTS/teka-teki silang koran KOMPAS. Tapi saya tidal berani mengisinya karena itu koran pinjaman. Sebagai pembaca (bukan pertama), ketika saya baca korannya biasanya kolom TTS sudah di isi pak guru (terutama Pak Hujianto guru matematika yang memang juga hobi TTS seperti saya hehe). Kadang sudah diisi penuh, kadang belum. Tapi apapun itu, tetap saya cek antara pertanyaan dan jawaban TTS-nya. Selain belajar sesuatu, mengisi TTS dulu terasa menyenangkan bagi saya.

Dulu prinsip saya, pokoknya baca aja. Belum paham nggak apa2. Dan begitulah lambat laun koran KOMPAS membuka cakrawala pengetahuan dan wawasan saya. Buktinya dulu klo ngobrol dengan teman2 sebaya saya, mereka bilang wawasan saya luas hehe...ge-er hehe

Lebih dari itu, pengalaman membaca koran KOMPAS memberi saya tentang visi melihat dunia. Hari ini saya sedih salah satu pendirinya, bapak Jakob Oetama wafat. Rest in peace ya pak, makasih atas jasa2mu yang tiada terkira..

Danke

Sumber : Status Facebook Suratno Muchoeri

Saturday, September 12, 2020 - 17:45
Kategori Rubrik: