Komentar Konyol Ustad Felix Siaw

Ilustrasi

Eyang kasitau deh kenapa eyang tanggapi statemen Felix Siauw yang terlampir dlm bentuk screenshot di status ini pake judul kayak gitu..

1. Perempuan mana ada yang bekerja di kantor sebagai karyawan? Kalau ada, itu bukan karyawan namanya tapi karyawati.

2. Kalau mmg yg dimaksud Felix adalah karyawati, baiklah eyang lanjutkan pembahasannya. Perempuan yang berperan sebagai ibu lalu bekerja sebagai karyawati di kantor itu sah-sah saja kalau keadaan mendukung, terutama jika suami mengijinkan. Tujuan perempuan bekerja di kantor 8 jam mmg macam2, kita bahas saja yg positif2 spt mencukupi kebutuhan hidup keluarga, menyiapkan bekal untuk masa depan anak-anak, dll. Ada perempuan jadi guru, pegawai rumah sakit, pabrik-pabrik, restaurant, real estate, show room kendaraan, notaris, Pegawai bank, kepolisian, kementerian, dll.

Semua itu tdk hanya bisa dikaitkan dgn urusan kebutuhan rumah tangga saja tapi juga masuk ke urusan perekonomian bangsa, dimana setiap warga negara perempuan yg berperan sebagai ibu yang bisa bekerja di bidang tertentu akan lebih baik bekerja sesuai dgn bidangnya masing-masing drpd meninggalkannya hanya karena takut dibilang Felix bukan seorang ibu. Alangkah naifnya jika seorang ustad yg tdk paham ttg perekonomian bangsa tapi dengan seenaknya berkomentar negatif kpd ibu2 yg bekerja sbg karyawati bahkan ada unsur mentertawakan di komentarnya. Pengangguran itu masalah negara.

Semakin banyak pengangguran tentu smkn menghambat negara untuk bisa makmur dan mandiri. Apa jadinya sekian banyak ibu yang bekerja di kantor disuruh berhenti bekerja supaya bisa lebih banyak waktu bersama anaknya di rumah? 

Perekonomian negara akan ambruk. Banyak barang2 dan jasa yg seharusnya bisa dibeli jadi menumpuk karena penghematan besar2an akibat para ibu kehilangan mata pencahariannya. Kondisi spt ini malah mengganggu para produsen, pengecer, toko2, warung2, dll mencari nafkah. Dalam sistem manajemen berlaku the right man on the right job. Apakah ibu2 yang berkompeten di kantor harus diganti dengan sembarang pria yg belum tentu berkompeten?

Apakah ini tidak mempersulit perusahaan? Apa ga malah riskan gagal buat perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidup usahanya? Jika perempuan-perempuan potensial bekerja semuanya memilih keluar dari kantor, apakah tidak mengurangi pendapatan negara besar-besaran di sektor pajak?

Karena si Felix ini mengklaim diri sebagai ustad, ada pertanyaan lain yg tdk kalah penting untuk disimak. Tahu darimana kalau Allah menilai seorang ibu yang punya anak yang berprofesi sebagai karyawati adalah seorang ibu yang sulit mendapat ridha dari Allah dalam menjalani hidup sebagai hamba Allah? Jika tdk bisa memastikan jawabannya, bukankah si Felix ini sudah berbicara mendahului kehendak Allah dalam menilai keyakinan agama sebagian muslimah? Apa manfaatnya si Felix menilai rendah keputusan ibu-ibu muslimah untuk menjadi karyawati?

Kenapa si Felix tidak minta MUI mengeluarkan fatwa yang sesuai dengan pikiran naifnya itu? Apakah Felix tidak percaya sama MUI? Atau Felix sudah sadar kalau komentarnya itu memang tidak layak diajarkan kepada umat islam khususnya para pengikutnya?

Sumber : Status Facebook Judiarsi Kurniawan

Saturday, March 10, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: