Koewat Soegiarto

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Seri : Pahlawan 75 Tahun Indonesia Merdeka

Deru mesin pesawat Mustang P51 itu demikian familar ditelinga para pejuang.

Terlambat...,suara rentetan tembakan sudah langsung terdengar bahkan sebelum teriakan sang komandan memerintahkan pasukan dan pengikutnya berlindung.

Percikan air bercampur tanah yang berhamburan akibat peluru yang berasal dari pesawat itu seolah terlihat dalam baris teratur dan bergerak sangat cepat seirama dengan suara rentetan yang terdengar.

Kelompok kecil para pejuang yang terdiri dari sekitar 20 orang itu sedang berjalan pulang menuju hutan di balik bukit tak jauh dari tempat mereka sedang diserang.

Tak ada waktu bagi mereka bersembunyi dalam rimbun pohon, mereka sudah terlihat oleh pilot pesawat musuh bersamaan dengan suara rentetan tembakan dari pesawat itu terdengar.

Posisi mereka sangat terbuka. Rombongan itu sudah terlihat sejak memasuki area persawahan yang terletak diantara dua hutan kecil dimana mereka sedang tuju.

Kocar kacir para pejuang lari menyelamatkan diri. Ada yang tiba-tiba berbalik arah, ada pula yang melompat dan tiarap dalam genangan lumpur. Teriak dan aba-aba sang komandan tak lagi mereka dengar.

Belum sempat mereka berpikir, apalagi memperbaiki posisi, pesawat itu sudah berputar balik. Seolah bayangan maut yang datang mengampiri, moncong pesawat itu terlihat semakin besar seiring jarak yang semakin mendekat.

Kali ini suara ledakan bom yang dijatuhkan dengan diselingi suara rentetan senjata otomatis dari pesawat milik tentara Belanda itu sungguh membuat rombongan kecil para pejuang ini tak mampu berbuat apapun selain hanya tiarap dalam genangan lumpur sawah.

Seiring suara pesawat semakin terdengar menjauh, bangkit, lari dan berlindung dalam rimbun pepohonan adalah cara terbaik yang harus segera dilakukan sebelum pesawat itu kembali berputar arah.

Tembakan balasan terdengar hanya sebagai suara rentetan saja tanpa makna. Pesawat itu terlalu cepat. Sementara, pejuang yang menembakpun tidak dalam posisi siap, hanya refleks atas rasa takut.

Suara "kemekelen" tawa geli dan disusul batuk terdengar. Matanya berair namun bukan sedih terpancar, beliau benar-benar menikmati dan tenggelam dalam kisah yang diceritakannya sendiri.

Semua yang mendengarkan cerita itu dalam posisi tegang, namun sang pelantun sekaligus pemilik pengalaman justru tertawa hingga batuk dan air matanya keluar.

Ada bayangan atau peristiwa dari sudut matanya yang mungkin tak dapat diceritakan dengan baik, sehingga bagian lucunya, hanya beliau yang melihatnya.

Apakah pemandangan kocar-kacir diseling dengan teriak kebingungan serta rasa takut itu dianggap sesuatu yang lucu, hanya beliau yang tahu.

Serangan tentara Belanda pada tahun 1948 dan sering kita catat sebagai agresi Belanda yang ke dua menyebabkan para petinggi negara Indonesia di Jogjakarta ditangkap dan di Tahan dalam pengasingan.

Jendral Soedirman menjawab agresi dengan perang gerilya. Jawa tengah dan Jawa timur adalah medan perang. Merebut kembali kota Jogja sebagai ibukota negara saat itu, adalah taktik yang sedang Jendral Soedirman rencanakan.

Serangan pesawat Mustang P51 milik Angkatan Udara Kerajaan Belanda pada para pejuang tadi adalah sebagian kecil dari cerita tentang bagaimana para pejuang menjawab dan menanggapi perintah perang gerilya yang dikumandangkan oleh Jendral Soedirman.

Segera para pejuang dari Jawa Timur yang terdiri dari tentara rakyat dan banyak komponen masyarakat termasuk didalamnya adalah para remaja putri ikut serta melakukan konsolidasi. Mereka bergerak dalam kelompok-kelompok kecil dengan tugas mengganggu dan mengacaukan eksistensi Belanda.

Kembali batuk-batuk kecil terdengar. Badannya yang kurus dengan banyak bayang tulang menonjol pada hampir seluruh tubuhnya tak sedikitpun merubah makna tajam cara matanya memandang sesuatu, meski ramah.

Sorot matanya dalam. Keteguhan, semangat dan cara memandang seperti tatapan seorang ayah yang selalu ingin melindungi tampak jelas disana.

Namun dibalik ketegaran yang ingin ditampilkannya, sekilat sinar redup, seperti suara tentang kegetiran, seperti aura gelap tentang rasa bersalah dan penyesalan mendalam akan suatu peristiwa ada dan tampak disana.

Bayangan itu jelas tampak, meski rasa ingin menyembunyikannya terlihat dengan sangat.

Satu bayangan seolah selaput tipis berwarna gelap yang mengganggu keindahan dan bahkan keagungan sebuah pribadi. Ada satu peristiwa mengganjal dalam hidupnya.

*

Tak sedikitpun terbersit dalam benaknya tentang bagaimana menjadi seorang pahlawan.

Menanggapi sebuah panggilan hidup, adalah tentang bagaimana kebersihan hati dan pikiran dipersiapkan dan dibentuk. Selalu ada proses tarik dan ulur. Disana, kesungguhan hati adalah kunci.

Keriuhan suasana Surabaya dengan pekik, marah, tangis hingga suara tembakan yang diselingi dengan bentakan-bentakan berbahasa asing saling menjalin membentuk harmoni aneh beraura trauma.

Seorang Jendral Inggris yang bertugas melucuti tentara Jepang yang telah menyatakan menyerah kepada sekutu tewas dalam sebuah ledakan. Surabya langsung menjadi lautan api.

Seolah kurang riuh, suara radio tentang pidato bung Tomo yang mencoba mengobarkan api rasa cinta tanah air di setel dengan suara sangat keras disetiap sudut dimanapun warga memiliki radio.

Panggilan bela tanah air di gemakan. Teriakan bela negara dikumandangkan dengan ber api-api. Para pemuda bangkit dalam satu gerakan, menolak kedatangan NICA yang membonceng tentara sekutu dan ingin kembali berkuasa di Indonesia yang sudah memproklamirkan Kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Demikianlah, suara panggilan itu membuatnya tergerak. Dia tinggalkan pekerjaannya di Jawatan Kereta Api Surabaya. Bersama beberapa temannya, mereka mengangkat senjata. Bukan senjata api dia miliki, benda apapun yang dapat dipergunakan sebagai pegangan untuk menyerang dan melindungi diri diambil dan dimaknai sebagai senjata.

Sejak saat itu hidupnya berubah. Perjuangan adalah apa yang selalu dia dengar dan bicarakan dalam setiap perjumpaan dengan siapapun. Perjuangan adalah apa yang dia lakukan demi berpihak pada panggilan bangsa dan rasa cinta tanah air. Perjuangan dan kemudian bergabung dengan sesama pemuda menjadi pejuang adalah tentang menanggapi sebuah panggilan hidup.

"Tolong bantu bapak duduk!" Parau suaranya terdengar lemah meski terlihat ada usaha membuatnya terdengar berwibawa.

Suhu tubuhnya terasa panas. Badan sepuh yang telah terbaring sakit lebih dari dua bulan itu benar-benar tak memiliki bobot lagi. Terlalu kurus bagi seorang yang masih terlihat bersemangat.

Sekali lagi, bayang selaput gelap dimatanya kembali menampakkan diri dalam ketidak sadarannya. Sejenak ingatannya seolah kembali terperangkap dalam peristiwa yang tak pernah mau dia ungkap. Hanya tatapan kosong dan mata berkaca tampak. Bukan cerita yang mudah ditebak.

Mungkinkah kisah itu tak terungkap hingga beliau wafat? Mungkinkah cerita gelap tak muncul itu akan dibawanya dalam gundah hati sepuh yang seharusnya berdamai? Harus ada seseorang yang mampu membuatnya percaya untuk menerima cerita dan bebannya.

BERSAMBUNG
.
.
.
Rahayu
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Thursday, August 13, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: