Koalisi Toko Sebelah

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Politik hanyalah soal kepentingan, begitu sering diucapkan, bahkan oleh para pelakunya. Bagaimana dengan koalisi parpol kubu Prabowo? Seberapa besar kemanfaatannya mendukung capres pilihan? Pemilu serentak (pilpres dan pileg), memang menjadi blunder tersendiri. Koalisi di kubu oposisi, mempunyai problim yang lebih berat. Tidak berada dalam ikatan kerja yang solid, membuat kebersamaan kepentingan berantakan. Meski PKS selalu menyebut mitra sehidup-semati Gerindra, apalagi soal Pilpres, hal itu tak terbukti dalam menyelesaikan masalah wagub pengganti Sandiaga Uno di DKI Jakarta, sejak Sandiaga mundur untuk nyawapres. Hingga PKS pernah mengancam, jika posisi wagub tak diberikan kadernya, mereka akan memboikot Prabowo dalam Pilpres 2019.

Menyelesaikan masalah sepele kayak gitu saja nggak bisa, bagaimana dengan masalah pembagian kue negara? Yang pasti jauh lebih gede, tinimbang ‘cuma’ duit Rp 70 trilyun pertahun di DKI Jakarta? Buktinya, enam bulan lebih, partai yang oleh Prabowo disebut bukan hanya sekutu (tapi segajah) itu, tak kunjung kelar. Bahkan kini, mungkin karena was-was hasil pileg, M. Taufik sebagai Ketua DPD Gerindra Jakarta, kembali tergoda mengincar kursi wagub. Karena meski PKS telah lolos dari lubang jarum Gerindra, dalam menyodorkan dua cawagub pengganti, toh keputusan terakhir ditentukan anggota DPRD? Dan dalam politik, duit sering lebih kejam dari fitnah.

 

 

Beberapa waktu lalu, dalam pidato politik yang tak jelas, AHY sebagai putra mahkota SBY, memilih kata-kata aman. Merekomendasikan untuk Presiden mendatang, tanpa menyebut nama Prabowo, capres dukungan Demokrat. Itu menunjukkan dilema berat, meski terkesan oportunistik. SBY bukan strateg ulung sebagaimana dibangga-banggakan RG. Menyodorkan AHY sebagai cawapres Jokowi tak diterima (hanya dapat tawaran menteri), menyeberang ke Prabowo hanya mendapatkan harapan palsu, dengan munculnya Sandiaga Uno. Maka lahir istilah ‘Jenderal Kardus’ dari yang kemarin ketangkep nyabu.

Sakitnya Ani Yudhoyono, agaknya jadi penyelamat muka SBY, untuk abstain dalam tanda petik. Sementara koalisi capres Prabowo dari PAN? Tak sangat penting peranannya. Jenis kelaminnya tak jelas di bawah besan Amien Rais. Ini partai ahistoris, jika melihat sejarah pendeklarasiannya dulu. Apalagi kita tahu, Amien Rais selain Ketua Dewan Kehormatan PAN, adalah juga Ketua Dewan Penasehat PA-212 yang bermitra dengan Rizieq Shihab. Kesannya, partai ini hanya mendompleng, bukan menguatkan. Jadi, pertanyaannya, siapa yang mendukung dagangan toko sebelah?

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tuesday, March 12, 2019 - 16:45
Kategori Rubrik: