Koalisi Hoax

Oleh : Guntur Wahyu Nugroho

Katakanlah anda berbohong. Anda menyampaikan sebagai kebenaran padahal anda tahu itu sebuah kebohongan. Anda tidak melakukannya sendiri. Teman-teman anda juga berbohong. Berbohong demi apa ? Demi memuluskan narasi bahwa pihak anda dizalimi. Terjadilah jalinan kebohongan secara kolektif. Lalu ada yang mengatakan apa yang anda sampaikan sebagai kebenaran itu adalah kebohongan sambil menyodorkan segepok data dan bukti untuk menelanjangi kebohongan anda.

Kalau orang waras, ketika ia berbohong dan ia ketahuan berbohong maka ia mengakui kebohongan itu serta meminta maaf sembari berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Orang waras bisa berbohong ? Tentu saja bisa. Jangan dikira hanya KAMPRET yang bisa berbohong. Namun masalahnya sekali lagi mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah sikap dan tindakan orang yang waras. Bagaimana dengan kampret ? Bukannya bersikap dan bertindak sebagaimana orang waras pada umumnya, kampret mengorbankan dan menyalahkan orang lain sembari cuci tangan bahwa mereka adalah korban dari kebohongan tersebut.

Saya rasa kita sepakat bahwa berbohong adalah keburukan moral yang tidak bisa dibenarkan oleh agama manapun atau sistem moral sekuler sekalipun. Karena kebohongan merupakan keburukan moral, maka integritas pribadi pembohong akan ternoda. Makin banyak seseorang berbohong, makin rendahlah kredibilitasnya dan makin omongannya tidak dapat dipegang atau dipercaya.

Maka, kredibilitas dan integritas seseorang akan tergerus dengan parah ketika ia dengan sengaja mengatakan dan menyebarkan kebohongan supaya masyarakat menyakininya sebagai kebenaran. Tentu saja dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh kebohongan macam ini jauh lebih dasyat daripada kebohongan an sich. Kebohongan yg terakhir ini yang secara sengaja dibuat dan disamarkan sebagai kebenaran adalah yang lazimnya disebut HOAX.

Para penyebar HOAX sebenarnya belum selesai dengan dirinya sendiri. Kenapa ? Lihat saja reaksi mereka ketika data dan fakta membongkar dan menelanjangi kebohongan yang mereka produksi. Bukannya mengakui kesalahan, mereka justru ngeles, menyesatkan masyarakat dengan sesat logika mereka dan lagi-lagi menyalahkan pemerintah. Menuduh pemerintah penyebar hoax terbesar dan menuduh Jokowi menyebar hoax karena dinilai ingkar janji. Ini jelas bentuk serangan yang brutal dan ngawur dari pihak yang panik dan kalap karena skenario besar terbongkar dan mereka diperhadapkan pada kemungkinan diproses secara hukum.

Kontestasi pemilu khususnya pilpres selayaknya menjadi sarana pendidikan politik bagi masyarakat supaya masyarakat makin melek politik dan secara kolektif menginternalisasi keberadaban cara-cara berpolitik. Namun nampaknya ada kelompok-kelompok yang menomorsatukan ambisi kekuasaan sehingga menghalalkan cara-cara yang buruk secara moral untuk menjatuhkan lawan politiknya. Kali ini rakyat perlu didorong untuk menjadi pemilih yang cerdas, berprinsip dan berwibawa dengan menggagalkan ambisi orang-orang dari KOALISI HOAX untuk duduk di kursi legislatif maupun merebut kursi kepresidenan. Menolak HOAX dan KAMPANYE HITAM menjadi agenda Nomor 1.

 

Sumber : facebook Guntur Wahyu N

Wednesday, October 10, 2018 - 04:30
Kategori Rubrik: