Klaim Anti Vaksin Adalah Hak

Ilustrasi

Oleh : Aliva Sholihat

Awal musim semi 2013, saya membawa anak laki-laki saya yang berusia 18 bulan ke puskesmas kommun untuk imunisasi MMR. Saat itu sebetulnya saya was-was juga. Desas-desus yang ramai di tanah air, kalau vaksin MMR mengandung merkuri yang menyebabkan autisme, terngiang-ngiang di belakang kepala.

Alhamdulillah, vaksin berjalan lancar. Cenderung santai malah. Bidan yang melakukan vaksinasi tidak menunjukkan ekspresi spesial. Tidak berusaha menenangkan saya bahwa kontroversi soal vaksin MMR itu tidak benar misal. (Padahal kegugupan pasti jelas terpamampang di muka saya, di dalam hati banyak-banyak mengucap basmalah). Ia pun tidak memberikan pesan khusus, cuma pepatah standar pasca vaksin, observasi di rumah jika ada demam atau keluhan lainnya.

Setelah itu saya pun baru ngeh. Bahwa ternyata sentimen anti-vaksin bukanlah sesuatu yang populer di Swedia. Desas-desus soal vaksin menyebabkan autisme, konspirasi perusahaan farmasi, alat hegemoni pemerintah dll., bukanlah isu yang seksi di sana. Agak bingung juga saya. Mengapa bisa begitu.

Bukannya orang Swedia sangat tergila-gila gaya hidup hijau ya? Makanan organik, daur ulang sampah, pengobatan holistik dan semacamnya. Tulisan "Ekologiskt" bertebaran di supermarket bahan segar di sana. Mengapa tidak banyak yang protes kalau vaksin ini tidaklah alami?

Bukannya mereka adalah masyarakat yang sangat kritis, super egaliter, menjunjung tinggi demokrasi, kebebasan berekspresi, transparansi. Mengapa tidak banyak yang ribut kalau anjuran vaksin adalah bentuk represi, pengekangan atas hak-hak pribadi?

Saya pun baru ngeh. Mengapa antipati terhadap vaksin tidak terjadi di sana. Upaya vaksin yang berdasar pada teori "herd-immunity" bisa masuk ke dalam selera dan aroma hidup komunal yang dihirupi masyarakatnya.

Swedia terkenal dengan pajak progresifnya yang tinggi. Kelas menengah pekerja biasa saja kena potongan penghasilan sekitar 30%. Apalagi kalau buat orang kaya, masih ditambah 25% lagi. Pajak tinggi supaya pemerintah bisa bikin sekolah untuk semua, layanan kesehatan gratis, tunjangan sosial buat setiap keluarga. Mereka yang berkecukupan, sudah biasa merasa bertanggung jawab untuk membantu yang miskin. Yang kuat ya harus membantu yang lemah. Energi yang menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Swedia.

Maka ketika berurusan dengan vaksinasi. Tidak ada penolakan yang berarti. Kekhawatiran bahwa vaksin bisa menyebabkan anak sendiri terkena autisme (if that's even true) , ternyata terkompensasi oleh rasa tanggung jawab bahwa vaksin diperlukan untuk melindungi anak orang lain dari penyakit mematikan . Anak lain yang memang tidak bisa divaksin karena menderita alergi, autoimun, kanker, atau alasan lainnya. Ada perasaan bahwa mereka punya tanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan keutuhan masyarakatnya. Kemaslahatan bersama. Caranya? Yang kuat ya membantu yang lemah. Sesederhana itu.

Dalam The Nordic Theory of Everything, Anu Partanen - seorang Finlandia yang bersuamikan Amerika - banyak menyajikan pengalamannya hidup di Amerika dari perspektif seseorang yang dibesarkan di negeri utara. Ada sedikit tersirat di sana, mengapa sentimen anti vaksin bisa laku di Amerika, tapi tidak di Finlandia atau Swedia.

Teori "herd-immunity" itu memang pada dasarnya sangat tidak Amerika. Negeri yang jadi kiblat kapitalisme. Tempat di mana kebebasan individu begitu disakralkan. Diriku adalah tanggung jawabku. Dirimu tanggung jawabmu. Aku tak ada urusan denganmu. Susah menyelaraskan sikap individualisme ekstrim dengan konsep "communal diseases", penyakit infeksi yang mudah menular cepat di masyarakat. Ketika kesehatanku kesehatanmu, harus jadi urusan kita bersama.

Maka sebetulnya lucu sekali kalau di Indonesia ini sekelompok oknum mengimpor gerakan anti-vaksin ini dengan berlindung dibalik narasi melawan kapitalisme dan hegemoni perusahaan farmasi. Lawan toghut Amerika! Mbahnya kapitalisme! Negara tempat produsen vaksin besar seperti Pfizer, Merck berasal. Padahal semboyan yang mereka gemborkan, bahwa setiap orang berhak donk sebebas-bebasnya memilih mau vaksin atau tidak, itu justru sangat Amerika dan kapitalis sekali.

Omong-omong pula soal narasi. Teringat salah seorang pegiat anti-vaksin yang menuliskan opininya di media nasional menyematkan "penikmat literasi" di samping namanya. Jujur saya tergelitik. Penikmat literasi tentu paham soal kewajiban menyajikan narasi yang jujur, elegan dan literat. Jujur sulit saya menemukan itu di aneka opini para anti-vaksin yang tersebar, apalagi di media sosial. Banyak berlindung dibalik narasi buram yang menyesatkan.

Padahal bisa saja lho seseorang memilih tidak vaksin secara jujur, elegan dan literat.
Dua sejoli Ceu Dedeh & Kang Jaja mungkin bisa dijadikan contoh. Mereka tidak mengkalim anti-vaksin. Namun pilihan dilakukan secara sadar. Berdasar riset dan pencarian yang menyeluruh. Kalau mereka sampai pada keputusan tidak memvaksin anaknya, itu adalah keputusan pribadi yang serius. Mereka jujur apa adanya, bahwa keputusan itu memang elitis, tidak untuk semua orang, apalagi buat yang marjinal. Mereka jujur, mengakui mereka adalah kalangan spesial. Brahmana yang mungkin sakti mandraguna, yang jelas bukan rakyat jelata. Pun mereka tidak pernah koar-koar di media sosial mengajak anti-vaksin pada yang awam.

Kang Jaja adalah pakar homeopati yang belajar sana sini betulan dari ahlinya. Ceu Dedeh penulis terkenal dan penyanyi kawakan. Kalangan ekonomi atas. Tinggal di "gated-community" , alias komplek elit berklaster yang tidak bisa dimasuki sembarang orang (komplek yang kalau di area BSD masuk klaster A, bahkan punya hutan kota sendiri di dalamnya) . Belanja sayuran selalu di toko Organik Pasar Modern yang lantainya ubin dipel bersih tidak pakai becek. Mengkonsumsi madu Manuka yang harganya sebotol bisa sejuta. Rajin olahraga - berenang metode khusus "total immersion swimming" yang gurunya diimpor dari Singapura. Sehat, bahagia, rupawan paripurna. Kalaupun sampai sakit atau mengalami kegawatan, soal finansial bukanlah masalah. Pun rumah sakit bertaraf internasional, hanya 5-10 menit jaraknya.

Ceu Dedeh & Kang Jaja bersikap elegan karena jujur. Seelegan lagu-lagu Ceu Dedeh yang juga saya nikmati. Tak berusaha menciptakan ilusi: Bahwa anti-vaksin adalah gerakan yang merakyat. Yang membebaskan kaum marjinal dari lilitan kapitalisme perusahaan-perusahaan farmasi. Yang berpihak kepada yang tak berpunya, rakyat miskin yang selama ini diperas dan dimanipulasi oleh komersialisme dunia kesehatan.

Karena kenyataanya, jika sampai terjadi wabah. Yang tidak punya akses kepada makanan bergizi, hidup di lingkungan bersanitasi buruk, jauh dari rumah sakit berfasilitas lengkap. Rakyat miskinlah yang justru jadi korban pertama. Brahmana sakti mandraguna? Mudah saja terbang ke luar negeri, Amerika, Swedia, Finlandia, bebas. Hitung-hitung liburan.

Menurut buku berikut ini, karya Bu Sofie & Bu Tiwik - dua srikandi literasi di Indonesia, literasi bukan cuma soal berpikir kritis, memahami informasi dan semacamnya. Literasi adalah soal relasi kekuasaan. Soal keberpihakan kepada yang lemah. Membebaskan yang terpinggirkan. Maka janganlah membajak literasi untuk gerakan anti-vaksin hanya supaya terdengar seksi dan kekinian. Nampak munafik. Apalagi ketika digali akarnya, ternyata logika anti-vaksin adalah logika elit. Tidak ada urusannya dengan kepentingan marjinal. Ketika pilihan tidak vaksin adalah privilese manusia sakti berstamina tinggi yang sehari-hari menegak madu Manuka. Mereka yang mampu terbang bersauna ke Finlandia jika tetiba wabah besar melanda. Yang mati merana? Ya kami-kami yang jelata...Nasib.

Sumber : Status Facebook Aliva Sholihat dengan judul asli Ketika Gerakan Literasi Yang Seksi Ikut-Ikutan Dibajak

Friday, December 22, 2017 - 15:15
Kategori Rubrik: