Klaim 212 Perjuangkan Islam

Ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

T: mas kok orang-orang masih sibuk membicarakan kegiatan itu? kami yang melakukan sudah nggak mempermasalahkan. Kan kami tidak merugikan kalian , kenapa nyinyir terus?
M: lha Presiden membangun jalan, jembatan, jalan tol, bandara, pembangkit listrik, pelabuhan, yang jelas bermanfaat saja kalian nyinyirin, apalagi kegiatan kalian yang tidak bermanfaat.

T: tapi kami kan tidak merugikan kalian? pakai uang kami sendiri, tenaga kami
M: kamu bilang nggak merugikan ya nampaknya begitu tapi ya nggak benar juga. Kalian memakai ruang publik, pada hari Minggu. Artinya kesempatan orang untuk menggunakan jalan dan kawasan Monas jadi hilang karena kalian pakai. Jalan-jalan ditutup, kalian nggak mikir warga Jakarta butuh jalan itu, tapi kalian padati. Jadi kalian harus mau dikiritik karena menggunakan fasilitas publik. Kecuali ngumpulnya di kebun salah satu jamaah 212.

T: terus?
M: kegiatan itu berpotensi rusuh, jadi pemerintah mengerahkan tenaga keamanan, berbiaya tinggi. Itu uang APBN, pajak dari rakyat. Bisa untuk yang lain, jika kalian nggak grudag-grudug kayak gitu.
T: salah sendiri ngapain dijaga, wong kami tertib, tidak melakukan kerusuhan.
M: nah itu yang kamu nggak pikirkan. Kamu tertib, kamu mau mencari ridho Allah. Tapi kamu nggak mikir to kalau ada penyusup, ada yang memprovokasi, lalu ribut. Gitu mikirnya aparat keamanan. Kalau rusuh lalu diliput media asing, tahu kan akibatnya?

T: kita nggak butuh orang asing.
M: lha itu..wong dari bangun tidur sampai mau tidur, semua yang kau pakai berbau asing kok. Odol sampai HP yang kau uyel-uyel itu semua bikinan asing. Kalau asing nggak mau invest di negara kita, ekonomi macet, kita yang rugi. Tapi kalau asing datang kalian juga nyinyir, katanya negara dijual. Salah meneh. Padahal kalian ikut menikmati. Tapi nggak tahu juga kalau memang ada yang sebenarnya memancing kerusuhan, lalu bilang pemerintah tidak bisa menjaga keamanan.

T: terus apa lagi salah kami?
M: kamu nggak salah, cuma kurang mikir panjang. Kamu kumpul-kumpul bawa nama agama. Penganut agama itu besar , puluhan hingga ratusan juta. Tidak semua setuju dengan gerakan atau tindakan kalian. Kalau kamu bergerak bawa nama partai atau kelompok tertentu malah aman, nggak bawa agama Islam. Banyak orang Islam yang berpendapat lain. Jadi pantas kalau kami nyinyir.

T: kami memperjuangkan Islam, harusnya kalian seneng.
M: semua juga berjuang demi Islam , demi kedamaian, demi keselamatan, tapi caranya tidak harus begitu. Bisa dengan cara damai seperti arti kata Islam itu.
T: kami kan damai tertib..
M:lho balik lagi, kamu nggak mikir panjang, kalau ada penyusup, ada provokator...kamu bisa terpancing..bisa juga kamu jadi korban aparat keamanan kalau ada kerusuhan.

T: itu aparat dholim
M: kamu mikirnya pendek dan untuk kalian sendiri. Ini negara milik bersama. Nggak cuma kalian yang punya negara ini.
Semua pingin aman , damai. Lalu apa hasil pul kumpulmu itu?
T: menunjukkan pada masyarakat kami solid, bersatu, kuat.
M: terus kalau masyarakat tahu itu apa untungnya?
T: ya mereka musuh-musuh kami tidak akan berani menekan.

M: menekan gimana? wong kamu ngapa-ngapain bebas, demo bebas. Bukannya kamu yang justru suka menekan ? Orang yang kalian anggap salah didemo biar dipenjara. Sudah dipenjara kalian masih ribut, pakai reuni lagi. 
T: ulama kami di kriminalisasi.
M: sebut nama...
T: siapa ya..Sugi..
M: Rizieq? Jadi mayoritas itu mbok melindungi, mengayomi. Kalau mayoritas kalah kuat, itu soal kualitas. Kalian harus kerja keras, telaten, sabar, cerdas agar bisa bersaing dengan yang lain. Bukan teriak-teriak, ngumpul-ngumpul. Kapan kerjanya. Kapan bisa kuat bersaing secara ekonomi, belajar ilmu pengetahuan, kuasai teknologi. Jangan belajar hafalan saja, pikir dunia ini, jangan mikir akherat terus. Kalian itu aslinya minder, inferior. Terus cari cara biar eksis, biar kelihatan kuat.
T: wah mau curhat malah diceramahi...

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Friday, December 7, 2018 - 11:00
Kategori Rubrik: