Kivlan Zen, Permadi Dan 22 Mei People Power Omong Kosong

ilustrasi

Oleh : Ninoy Karundeng

Setelah Quick Count Pilpres 2019, Jokowi menang, saya menulis cepat. Isinya, mengangkat Prabowo. Dia sebagai nasionalis. Tujuannya, rekonsiliasi. Pada saat Prabowo menyeret Sandi pun saya menulis. Dari dapur rumah Sandi. Isinya, Sandi yang berseberangan dengan Prabowo. Publik merasa Sandi tengah playng victim. Namun, sejatinya yang saya tulis benar.

Kalau saat ini dia masih ke sana ke mari bersama Prabowo, mengumandangkan kemenangan palsu, itu karena dia masih menghitung 2024. Dia pikir dengan menggandeng kelompok Islam radikal, khilafah dia akan maju di 2024. Dia menghitung untuk dirinya. Namun, masih dengan gambaran kekerasan dan politik identitas. Dia tidak menghitung 2019-2024 adalah masa pembersihan HTI, khilafah, PKS dan penguatan Pancasila.

Pikiran Sandi limbung. Melihat provokasi Rizieq Shihab, Kivlan Zen, Amien Rais, Martak, dan para pentolan FPI dan Islam garis keras, Sandi masih berpikir Jokowi bisa tumbang. Pikiran delusi dan kegilaan selama Agustus 2018 – April 2019 masih kuat terbangun. Lewat people power. Lewat upaya makar.

Terlebih lagi, sebenarnya Sandi juga percaya dengan seluruh skenario menumbangkan Jokowi. Dengan cara apapun. Maka fitnah jauh hari sudah dimulai. Ratna Sarumpaet, Selangor, Andi Arief, membuat fitnah dan kebohongan. Pilpres belum berlangsung, narasi tipu muslihat menggiring opini digeber. Kalau tidak dicurangi, Prabowo menang.

Saat bersamaan Kivlan Zen, Amien Rais, Permadi terus berkampanye. Mereka memrovokasi rakyat. Mereka berteriak-teriak soal people power. Isinya menghasut rakyat untuk memaksa Jokowi turun. Gambaran yang membuat seolah Prabowo-Sandi kuat, dan Jokowi akan terjungkal. Dalam benak Sandi masih mengiang mimpi delusif itu.

Provokasi itu mengena. Rakyat mulai terprovokasi. Bangunan penggiringan opini seolah Prabowo menang Pilpres makin menjadi. Namun, faktanya adalah perhitungan KPU semakin sama dengan QQ. Prabowo-Sandi pasti kalah. Mulailah jurus mendelegitimasi KPU, Pilpres, makin digeber. Harapannya tekanan itu akan membuat rakyat meragukan hasil Pemilu Serentak 2019.

Minoritas DPR PKS, Gerindra dan PAN berteriak ingin membentuk Pansus Pemilu. Lah katanya Prabowo menang kok malah tidak percaya? Intinya, mereka memaksakan kemenangan. Caranya membohongi rakyat. Rakyat menjadi korban kebohongan kubu Prabowo. Logika waras hendak diganti dengan kegilaan tanpa batas.

Seperti tulisan-tulisan sebelumnya, saya menyebut aksi mereka adalah omong kosong. Mereka tengah memimpikan buih-buih (segelintir orang Islam garis keras seperti FPI dan HTI) akan berubah menjadi ombak (gelombang demonstrasi yang akan memaksa Jokowi turun), lalu junjungan mereka Prabowo-Sandi akan naik.

Ini tindak lanjut dari kegilaan berpikir lewat Ijtima Ulama Gadungan III. Minta KPU mendiskualifikasi Jokowi, karena Jokowi curang. Lah padahal penyelenggaranya KPU. Logika keblinger Prabowo-Sandi.

Nah, upaya people power yang diserukan oleh Kivlan Zen, Amien Rais, Rizieq, Permadi hanyalah omong kosong. Pada 22 Mei 2019 tidak akan terjadi apa-apa. Prabowo-Sandi tetap tidak akan menerima. Mereka mau maju ke Mahkamah Konstitusi (MK), atau kompromi dengan keadaan, karena Negara tidak akan tinggal diam dan akan bertindak tegas jika provokasi semakin menjadi. Jangankan Prabowo, setan gundul pun akan dilibas oleh TNI/Polri, jika kelihatan, hahaha.

Langkah itu sudah dimulai dengan kode yang diberikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa. Peringatan keras yang menjadi semangat dan darah baru bagi Polri untuk tegas bertindak. Manuver macam-macam manusia provokator seperti Rizal Ramli pun akan digebuk. Kini dia mengeret, ciut, tidak bersuara.

Karena SUARA RAKYAT telah membungkam pendukung khilafah, HTI, PKS, FPI. SUARA RAKYAT telah menghempaskan ajaran sesat khilafah yang merusak NKRI. SUARA RAKYAT telah memilih Jokowi-Amin sebagai Presiden dan Wapres RI.

Siapa pun di balik gerakan untuk menghancurkan NKRI dan Pancasila, akan berhadapan dengan RAKYAT, akan dilibas seperti Polri melibas Kivlan Zen dan kawan-kawan. Maka 22 Mei 2019 people power adalah omong kosong. Rusuh, anarkis akan ditembak mati di tempat. Dan, Kivlan Zen pun selain Eggi Sudjana jadi pesakitan. Kivlan digelandang ketika hendak kabur mengikuti Rizieq ke Arab Saudi, mungkin.

Dan, berapapun harga yang harus dibayar untuk memertahankan Pancasila, NKRI, RAKYAT akan berkorban. Apalagi melawan gerakan khilafah, dengan berteriak-teriak jihad palsu, yang berkolaborasi dengan ISIS. Indonesia telah membuktikan kecerdasan rakyatnya, Indonesia menolak ISIS dan Syria II. Tidak ada ruang untuk para begundal politik, juga penjahat kemanusiaan yang berkedok agama. (Penulis: Ninoy N Karundeng).

Sumber : Status Facebook Ninoy Karundeng

Saturday, May 11, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: