#Kitatidaktakut Shake It Out

Oleh: Sahat Siagian

 

It’s hard to dance with the devil on your back, kata sepenggal syair lagu Irlandia. Sebagai mantan penari, saya terkesan sungguh dengan baris tersebut. Tak ada keindahan tari lahir dari ketegangan tubuh—entah semahir apapun si penari. Tak ada karya sejati meruap dari sesal berkepanjangan.

Setiap saat keluasan alam semesta bertambah besar. Tak ada yang tahu apakah itu terjadi setiap detik, setiap hari, atau setiap kali pengamatan dilakukan, yang pasti ia bertambah besar. Sebagian mistikus (bedakan dengan klenik—jauh banget) berkata, kitalah yang membuat alam raya bertambah luas. Pikiran kita yang memekarkannya.

 

 

Fisika mengajar kita bahwa saban berjumpa diamond of decision, alam semesta lain tercipta. Maksudnya begini. Katakanlah Anda sedang berlari ke dalam stasiun KRL Cikini. Anda menaiki tangga dengan cepat, berburu perjalanan ke Depok. Saat menjejakkan kaki di pelataran tunggu Anda lihat sebuah kereta sedang menunggu penumpang. Pintunya terbuka.

Tapi Anda bimbang, apakah jarak yang bersisa 15 meter masih bisa direngkuh untuk sisa waktu entah berapa lama. Anda diliputi keraguan. Kuatir sesuatu yang buruk terjadi, Anda putuskan menunggu kereta berikutnya. Beberapa detik kemudian pintu kereta tertutup.

Ada 2 alam semesta sekarang. Yang pertama alam semesta yang Anda jalani dengan menunggu kereta berikutnya. Yang kedua alam semesta hipotetikal yang tercipta dari persimpangan keputusan andai Anda berlari kencang, melompat ke dalam kereta. Meski buat kita ia berstatus hipotetikal, alam raya tersebut ada, eksis, dalam kualitas serupa dengan yang Anda alami di alam semesta tempat Anda menunggu kereta berikutnya.

Di alam semesta hipotetikal itu Anda jumpa seorang lelaki tampan, salah satu penumpang kereta. Kalian berkenalan, sama-sama turun di stasiun UI. Berikutnya pertukaran nomor telepon terjadi, kalian melangkah lebih jauh. Enam tahun kemudian seorang anak lahir dari rahim Anda, tumbuh, mekar, cerdas, bijak bestari, dan kelak memimpin Indonesia, menjadi presiden terbaik yang membawa negeri ini berdiri di depan memimpin dunia.

Sekali lagi, menurut matematika, alam semesta hipotetikal tersebut tidak hipotetikal. Ia eksis, nyata, menjadi tingkap berikutnya dalam strings universe. Di alam semesta paralel, Indonesia 46 tahun dari sekarang dipimpin puteri Anda memasuki kegemilangan. Sebuah keputusan di stasiun Cikini membedakannya dari alam semesta yang Anda alami karena tidak melompat ke dalam kereta.

Kita berkuasa mencipta alam semesta. Tapi kita tenggelam dalam gelisah berkepanjangan oleh rasa sakit patah hati. Kita kuatir akan apa yang kita makan besok. Kita gemetar berhadapan dengan kaos #GantiPresiden. So, shake it out, kata Florence and The Machine.

Meski sama-sama mengguncang sesuatu, shake it out berbeda dari shake it off. Saat hendak melarutkan kopi dengan krimer dan gula dalam sebuah tabung tertutup, you shake it off. Tapi ketika bermaksud melepaskan sesuatu yang menggelayut di punggung, kertas yang nyangkut di rambut, you shake it out.

Dan itulah yang dilakukan Susi Ferawati saat dirubung puluhan lelaki berpenis kecil di acara Car Free Day hari Minggu pagi kemarin. Semula saya mengira hanya beberapa lelaki, paling banyak belasan. Tapi gambar tersua memperlihatkan data jauh lebih besar.

Saya menolak menggunakan kata “banci" buat para lelaki itu. Banyak banci bermental baik, pemberani, dan tidak melakukan perisakan terhadap perempuan. Banyak, banyak sekali, jangan-jangan malah melebihi jumlah para lelaki baik.

Mereka para pecundang yang tak berani berhadapan dalam pertandingan sejati, memilih untuk menakuti para petarung sesungguh dengan kekerasan, dengan kerumunan, dengan keroyokan. Fadli Zon boleh saja berkilah bahwa mereka bukan dari Gerindra, tapi satu tak bisa dielak: mereka adalah bagian dari pendukung Prabowo, pendukung Gerindra, pendukung PKS.

Dan itulah yang kita saksikan bersama. Itulah gambaran sesungguh seorang bakal capres beserta 2 partai pendukungnya: sekelompok orang sakit tak tahu diri yang mengira pantas memimpin Indonesia bermodal kebohongan dan ancaman.

Kita benar, kita tidak takut, kata Susi Ferawati. She shakes them out, menggetarkan jagad dengan teriakannya. Lalu ia menyembur kalimat sakti mandraguna: Islam apaan kalian ini?

Persis di situ harapan saya kepada Islam Indonesia mekar kembali, tumbuh, bersiap menuju ketinggian tertinggi. Susi Ferawati telah memperlihatkan kepada kita Islam Nusantara, Islam yang memuja kesejatian, keberanian bersuara, tangguh, adil, penuh cinta, dan berkeluasan hati merangkul seisi alam semesta.

"Kita benar, kita tidak takut" memberi Joko Widodo modal segunung untuk memasuki pertarungan Agustus-April. Seorang perempuan, seorang Ibu, telah memproklamasikan kepada dunia tentang Islam yang diajarkan para moyang Nusantara.

It’s always darkest before the dawn, kata anak-anak dari Capital Children's Choir. Jangan takut, memang selalu begitu. Kegelapan tergelap ini adalah intro bagi fajar gemilang yang sebentar lagi datang.

Jika hidupmu pahit, gemetar, gelisah berkepanjangan, lihatlah kembali gambar di bawah ini. Kekuatan yang ditimbulkannya melebihi kedahsyatan khutbah ulama mana pun. Ia menghangatkamu, memandumu masuk ke kesejatian.

Hentikan sesalmu. Masuki hari baru. Segala di depanmu gilang-gemilang. Jika ada kerikil, ia bagian dari keindahan hidupmu. Juga sebongkah batu raksasa di jalanmu. Jika suamimu pergi ke pelukan perempuan lain, jika pacarmu lebih hina daripada anjing doyan kawin, kalau keputusan salah di masa lalu membawamu ke kesedihan tak berujung, let me tell you this: guncang-hempaskan mereka ke keranjang sampah.

Sebab, ingatlah selalu: jangankan untuk membayar cicilan rumah bulan depan, kamu bahkan berkuasa mencipta alam semesta.

So shake it out

Regrets collect like old friends
Here to relive your darkest moments
I can see no way, I can see no way
And all of the ghouls come out to play
And every demon wants his pound of flesh
But I like to keep some things to myself
I like to keep my issues strong
It's always darkest before the dawn
https://www.youtube.com/watch?v=Gj-ntawOBw4

 
(Sumber: Facebook Sahat Siagian)
Thursday, May 3, 2018 - 08:15
Kategori Rubrik: