Kitalah yang Perlu Minta Maaf pada Ahok

Oleh : Omri L Toruan

Siapa yang tidak kenal dengan Mpok Minah, salah satu pemeran dalam sinetron Bajaj Bajuri yang pernah ditayangkan di salah satu televisi swasta. Mpok Minah dikenal dengan ciri khasnya yang selalu mengucapkan  kata maaf sebagai pembuka setiap dialog yang diperankannya. Kata  maaf tidak pernah alpa dari mulut Mpok Minah.

Tidak peduli, apakah ia melakukan kesalahan atau tidak, ia wajib dan harus minta maaf. Entahlah, apa yang ada di benak penulis skenario dengan ciri khas pemeran yang satu ini. Apakah ia mau menggambarkan Mpok Minah sebagai seorang sosok  yang takut berbuat salah, takut membuat perasaan orang lain terluka, atau  karena lingkungan di mana ia ada memang selalu menuntut  kata maaf?

Demikian juga halnya dengan  Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang baru-baru ini dengan kegiatannya di Pulau Seribu. Ketika rekaman videonya sengaja dipotong, lalu disebarkan dan ditambah dengan tuduhan bahwa Ahok telah menistakan Al Quran.

Publik tersentak karena massifnya penyebaran video ini lewat media sosial, ditambah petisi yang ditandatangani oleh puluhan ribu orang, serta  pelaporan oleh berbagai pihak yang merasa telah menjadi 'korban' dengan adanya video ini.

Mereka tersinggung karena merasa agamanya dinista, mereka marah karena Ahok bermain SARA, mereka melaporkan Ahok ke polisi karena telah membuat pernyataan yang meresahkan umat. Tidak hanya sampai di situ, berbagai pihak juga menuntut supaya Ahok meminta maaf, tidak terkecuali dengan tokoh agama,  komisioner Komnas HAM, hingga pesaing Ahok di Pilkada DKI, menyebut pernyataan Ahok masuk kategori penistaan agama dan tidak patut.

Terlepas dari niat sebenarnya dari  orang yang membuat dan menyebarkan video editan itu, dan juga kepentingan yang berada di balik aksi tersebut,  ada perlunya kita mempertanyakan untuk apa mereka menuntut  kata maaf dari Ahok? Sedemikian pentingkah maaf dari Ahok  bagi mereka?

Juga sebenarnya,  bila kita mau jujur, Ahok adalah orang yang paling banyak dikorbankan melalui tindakan berbagai pihak dengan menggunakan isu agama dan etnis. Namun, di mana orang-orang ini ketika Ahok diperlakukan demikian?

Forum RT RW DKI Jakarta yang mengkampanyekan agar tidak memilih Ahok dengan sentimen etnis-agama. Demikian juga Bamus Betawi yang ikut-ikutan bermain isu etnis. Hingga video mahasiswa Universitas Indonesia dan UNJ yang menyerukan tolak Ahok karena kafir. Ada seruan menolak Ahok melalui Risalah Istiqlal, khususnya poin 1, 4, dan 9.

Dimana mereka? Kenapa selama ini tidak bersuara, kenapa baru sekarang muncul?

Dan itu juga hanya berdasarkan video editan, sangat berbeda dengan poin risalah yang dibuat terang-terangan di Istiqlal. Lalu, apakah Ahok perlu minta maaf kepada mereka ?  Untuk apa?

Dengan meminta maaf, maka Ahok telah mengakui bahwa ia bersalah. Mereka menginginkan itu dari Ahok sehingga mereka menjadi benar, karena Ahok sudah mengakui kesalahannya dan itulah yang membenarkan mereka, permintaan maaf dari Ahok.

Begitulah yang terjadi selama ini, banyak hal diselesaikan dengan maaf-maafan. Tidak peduli apakah yang minta maaf bersalah atau tidak, yang penting ia sudah minta maaf. Dengan demikian, pihak yang menuntut maaf bisa terbukti benar, karena dengan meminta maaf itu menjadi bukti bahwa pemohon memang salah, kalau tidak kenapa minta maaf?

Padahal, merekalah yang menuntut permintaan maaf. Jika tidak, maka urusan bisa bertambah runyam, dan dengan minta maaf maka urusan menjadi selesai dan tidak lagi diperpanjang.

Kira-kira demikianlah  prosedur atau tatacara menyelesaikan masalah yang menyangkut  isu-isu sensitif, khususnya yang berbau SARA selama ini.  Kita tidak pernah menyelesaikannya, dan kita memang tidak ada niat untuk menuntaskannya. Kita membiarkan hal itu terus berada di wilayah abu-abu, sehingga kapanpun bila diperlukan, maka itu bisa digunakan sebagai senjata psikologis untuk menekan pihak-pihak yang tidak sejalan dengan kepentingan kita, khusunya minoritas. Oleh karenanya, dikotomi mayoritas dan minoritas selalu dipelihara, karena itu bisa menguntungkan.

Jika kita mau jujur, tentulah kita tidak perlu  maaf dari Ahok karena pernyataannya itu. Semua orang yant berniat baik dan bersikap jujur pasti tahu bahwa yang dimaksud Ahok adalah ada orang yang berbohong dengan sengaja menggunakan ayat Al Maidah sebagai alat agitasi dan kampanye yang mendiskreditkan. 

Hal ini juga terkonfirmasi, dimana masyarakat Kepulauan Seribu  yang hadir di tempat, tidak ada yang keberatan dan tersinggung dengan ucapan Ahok , padahal merekalah yang seharusnya  duluan tersinggung dan marah, jika benar Ahok melakukan apa yang dituduhkan.

Lalu untuk apa Ahok harus minta maaf? Siapa yang memerlukan maaf dari Ahok?

Tentu Ahok tidak perlu minta maaf, karena tidak ada yang perlu dimaafkan. Dan juga, masyarakat Kepulauan Seribu sebagai audiens langsung Ahok saat memberi pernyataan itu tidak ada yang menuntut maaf dari Ahok. Lalu, kenapa pihak-pihak yang tidak ada urusan dengan kegiatan Ahok di Kepulauan Seribu merasa jadi korban dan menuntut Ahok harus minta maaf? Siapa memangnya mereka? Untuk apa Ahok meminta maaf kepada mereka.

Pernyataan Ahok di Pulau Seribu sangat jelas merupakan bentuk edukasi politik yang dilakukan oleh Ahok kepada warga di sana. Dan ini bisa digolongkan sebagai  tindakan jenius dan tepat sasaran guna membongkar tabu yang selama ini kita pelihara, dan terus kita hindari untuk diluruskan.

Hal ini tentu memerlukan keberanian dan kejujuran, dan itulah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan politisi kita, termasuk pejabat yang seharusnya melepaskan diri dari jerat partisan ketika ia menjabat. Ia harus menjadi pemimpin untuk semua golongan, bukan hanya pemimpin kelompoknya, atau golongan darimana ia berasal.

Sikap seperti inilah yang tidak dimiliki oleh mayoritas pemimpin dan politisi kita, sehingga ketika berhadapan dengam isu-isu sensitif menyangkut SARA, mereka memilih menghindar. Mereka terlihat gamang dan tidak tahu bersikap. Berbeda dengan Ahok yang hanya berpijak kepada konstitusi sebagai landasan bertindak dam bersikap, sehingga ia tidak ragu dalam memutuskan sesuatu.

Termasuk bagaimana menyikapi politisasi agama dalam Pilkada DKI yang sangat jelas begitu intens digunakan. Bukan hanya sebagai alat diskriminasi, namun juga sebagai alat pembodohan masyarakat demi kepentingan pihak-pihak yang sudah merasa kalah duluan, sehingga mereka  perlu bantuan politisasi agama dan etnis untuk bisa mengalahkan Ahok.

Demikianlah apa yang dilakukan Ahok di Kepulauan Seribu, ia bukan hanya mengedukasi warga, akan tetapi ia menyampaikan pesan kepada kita semua. Ia memberi teladan dan pembelajaran kepada politisi dan pemimpin kita, bagaimana seharusnya mengelola negara dan pemerintahan. Tidak ada patokan yang lebih tinggi dan wajib dituruti selain konstitusi.

Dan terbukti, warga yang mendengar dan juga semua pihak yang ada di tempat tidak merasa  bahwa Ahok telah berbuat salah atau menista agama mereka dengan pernyataannya,  sehingga ia perlu meminta maaf.

Berbeda dengan pernyataannya yang telah dipolitisasi, bahkan dengan sengaja mengedit video rekaman pernyataan Ahok untuk suatu maksud. Lalu kemudian,orang beramai-ramai mengecam Ahok dan menuntutnya untuk minta maaf.

Kembali ke soal meminta maaf, tentu  kita perlu meminta maaf jika telah melakukan kesalahan, Dengan meminta maaf, berarti kita menyadari bahwa kita telah berbuat salah terhadap pihak lain atau mungkin kita tidak dapat memenuhi harapan mereka, atau kita belum dapat sepenuhnya melakukan apa yang menjadi tanggungjawab kita dengan baik.

Namun tidak dengan pernyataan Ahok. Ia tidak perlu meminta maaf dengan pernyataannya. Ia justru menyatakan apa yang benar, kebenaran yang selama ini kita tutup-tutupi, dan kita menghindar untuk menyatakannya dengan terus terang. Kita gamang, kita takut akan timbul konflik, sehingga kita memilih menghindar, karena kita terjebak dengan dikotomi mayoritas-minoritas.

Dan untuk keberanian dan kejujuran Ahok menyatakan ini, kita harus berterima kasih. Kita perlu meminta maaf kepada Ahok karena selama ini kita salah, kita  beranggapan bahwa kita benar dengan apa yang kita lakukan selama ini dalam mengelola isu yang sangat sensitif ini, sehingga kita terus tersandera olehnya.

Untunglah ada Gubernur Ahok, yang dengan berani dan jujur menyatakan apa yang benar, tidak peduli bila ia kemudian dikecam karena hal itu. Bahkan, kita harus berani mengakui bahwa kita terlalu takut mengambil resiko kehilangan jabatan, kehilangan dukungan, bahkan kehilangan ketenangan dan kenyamanan kita dengan menyatakan dan melakukan  apa yang benar, berbeda dengan Ahok yang nothing to lose.

Kitalah yang seharusnya meminta maaf kepada Ahok, bukan sebaliknya. **

Sumber: qureta

Sunday, April 9, 2017 - 19:15
Kategori Rubrik: