Kita Sibuk Mencaci Kerja Pemerintah

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Tadi malam usai mengajar, saya meluncur ke Kediri untuk suatu kepentingan disetiri anak sulung saya. Hujan mengiringi perjalanan kami. Lewat tol, Surabaya-Kertosono cukup ditempuh kurang lebih 1 jam. Karena hujan, saya kurang menikmati perjalanan berangkat ini.

Kami pulang dari Kediri sekitar jam 24.00. Baru pas pulang saya menikmati perjalanan langka ini. Bulan sabit menghias langit, udara mulai berkabut, malam sepi, kami meluncur cepat. Sempat juga membayangkan cerita2 horor di group Alumni ITB Garis Lucu (AIGL) melihat susana malam sepi di jalan2 kampung. Setelah melewati jalan dusun mengikuti petunjuk 'kitab suci baru' Google, lalu sampailah ke jalan tol trans Jawa penggalan Kertosono-Surabaya.

Kembali saya kagum hasil kerja Jokowi ini.Dia yang nekat mewujudkan prasarana peningkatan kualitas hidup kita, meski nggak enak dimakan. Dia tegar di tengah kritikan banyak pihak (tidak mudah jadi orang baik). Hampir 200 tahun sejak Daendels membangun jalan Raya Anyer-Panarukan dalam waktu kurang dari 3 tahun, (1808-1811), baru kini ada Pemimpin Indonesia yang punya tekad begitu besar (juga Gus Dur). Bahkan dia melebihi Daendels, karena tol Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua juga dibangun pada waktu yang sama. Bukan cuma tol, bendungan, embung, pelabuhan, bandara, rel kereta, jalan non tol juga.

Jokowi tidak kalah dengan administrator ulung Belanda yang hebat itu. Pribumi mampu mengalahkan orang Eropa!

Saya merenunginya lagi. Seandainya tidak ada jalan tol ini, perjalanan kami ini tidak dimungkinkan. Nggak mungkin 4 jam perjalanan pulang pergi Surabaya-Kediri.

Melintasi jalan lurus hampir 100 km, saya melihat pemandangan seperti hihgway di daratan US beberapa tahun silam. Di tengah sorot redup bulan sabit yang terhalang kabut, saya melihat beberapa bagian, kanan kiri jalan ada SPBU, rest area, beberapa mini-market. Meluncur bis2 malam dan bis pariwisata yang kerlap kerlip warna-warni hiasan lampu belakangnya cukup indah. Bisa nyetir dengan kecepatan di atas 100km per jam tanpa capai berlebihan. Inilah hasil nyata pembangunan. Ini nggak akan terjadi jika pemimpin kita hanya sibuk memikirkan kepentingan sendiri. Ini nggak akan terjadi jika elit politik, dan elemen tertentu sibuk soal hukum poligami, hukum pakai jilbab,hukum pertunjukan wayang kulit, nanti di kubur ditanya pakai bahasa apa,dst.

Di dunia lain, negara2 berlomba membangun kereta cepat, mengolah air laut untuk air minum, mencari alternatif sumber energi baru. Kita nggak beranjak, bahkan mundur. Sibuk ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan khilafah (konsep yang tidak jelas), bicara persiapan menyambut hidup sesudah mati lupa memikirkan dimana kita hidup sekarang. Saya lalu ingat tulisan Thomas Friedman di New York Times 2008, 7 tahun sejak China menjadi tuan rumah Olimpiade Beijing 2001, 2 bulan sebelum serangan teroris 9/11 di New York. Saya kutipkan sedikit intinya.

Dia menulis: "Ketika saya duduk di kursi stadion Tiongkok dan menikmati pertunjukan ajaib dari ribuan penari Cina, penabuh drum, penyanyi, dan akrobat panggung, saya bisa menuliskan lagi tujuh tahun terakhir, pengalaman berbeda di Amerika Serikat dan China.

China sibuk dengan berbagai proyek infrastruktur, dan kita(AS) sibuk berurusan dengan al-Qaeda (teroris); mereka telah membangun stadion, kereta bawah tanah, bandara, jalan, dan taman yang lebih baik, dan kita telah mengerjakan pembangunan detektor logam yang lebih baik, kendaraan militer Hummer, dan drone .

Perbedaan sudah mulai terlihat. Anda dapat membandingkan Bandara LaGuardia tua yang kotor di kota New York dan bandara internasional berbentuk sangat indah di Shanghai. Saat Anda berkendara ke Manhattan, Anda akan mengetahui seberapa buruk infrastruktur yang ada di sepanjang jalan. Nikmati kereta maglev Shanghai dengan kecepatan hingga 220 mil per jam. Ia menggunakan propulsi elektromagnetik bukan roda baja dan trek biasa. Anda sudah tiba di Shanghai. Kemudian tanyakan pada diri sendiri: Siapa yang tinggal di negara dunia ketiga? (sindiran halus bagi orang Barat yang sering menyebut China sebagai negara dunia ketiga).

Saya pikir: Sebagai negara modern, China telah menerima konsep utama kedaulatan nasional modern dan hak asasi manusia (dulu China sering dianggap banyak melanggar HAM, terutama saat peristiwa Tiananmen 1989). Namun, berbagai kualitas peradaban China membuatnya unik. Salah satu karakteristik model pembangunan China adalah bahwa efek skala dari pembelajaran + inovasi + populasi besar mempengaruhi Cina dan dunia. Banyak perusahaan asing yang berinvestasi di China memiliki slogan. Jika mereka dapat mencapai yang pertama di China, mereka akan dapat mencapai yang terbaik di dunia.

Dengan kebangkitan Cina, tren ini mulai meluas ke lebih banyak bidang seperti pariwisata, penerbangan, film dan televisi, olahraga, pendidikan, energi baru, model modernisasi, dan kereta api berkecepatan tinggi.

Orang sering khawatir rakyat China tidak punya perasaan relijius. Tapi kalau kita belajar sejarah, perang tak berkesudahan justru disebabkan konflik relijius. Bisa karena dominasi antar agama atau dalam agama, Kristen/katolik- Islam, Islam dan Islam sendiri. Setidaknya China tidak pernah terlibat perang karena masalah relijius.

Sumber : Status facebook Budi Santoso Purwokartiko

Thursday, February 20, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: