Kita pun Menjunjung Tinggi Pencitraan

Bu Susi kalau naik motor bebek malu sama tato.

 

Oleh: Alifurrahman S Asyari

 

Ada satu kalimat menarik yang dapat kita baca dari transkrip rekaman percakapan antara Setya Novanto, Reza Chalid dan pihak Freeport. “Freeport jalan, Bapak itu happy, kita ikut happy. Kumpul-kumpul, kita golf, kita beli private jet yang bagus dan representatif,” ucap Reza Chalid.

Saya tertarik dengan kata “representatif.” Mungkin itu artinya bagus, keren dan yang pasti sesuai dengan posisi serta jabatan mereka. Merepresentasikan sebagai pejabat ring satu dan pengusaha nasional.

Beberapa hari yang lalu saya duduk-duduk di warnet dan fotokopi milik teman. Saya sempat membuka album-album kartu undangan pernikahan yang bisa dicetak di tempat tersebut. Ada dua album dengan ketebalan di atas 100 pilihan design per albumnya. Dari dua album ini saya lihat satu-persatu. Ada yang hanya sekilas, banyak juga yang saya keluarkan dan cek bentuknya.

Tidak hanya desain saja yang beragam, tapi ukuran, ukiran timbul, hingga jenis dan tebalnya kertas yang digunakan. Saya sangat menikmati setiap contoh kartu undangan pernikahan tersebut dan coba menanyakan harga beberapa diantaranya. Harga ada di kisaran 700-15.000 rupiah per lembarnya.

Beberapa jenis kertas kartu undangan pernah saya lihat dan terima dari teman-teman. Banyak di kisaran 1,000 rupiah per lembarnya. Ada juga yang persis seperti bentuk kartu seharga 15.000 per lembar. Namun saya juga pernah menerima kartu undangan yang jauh lebih mahal dari semua jenis yang ada di warnet tersebut. Entah berapa harganya, tapi secara ukuran jelas lebih besar dari yang seharga 15.000, corak timbul dan pita di setiap kartu.

Mengetahui harga sebuah kartu undangan ternyata sangat relatif –bisa disebut mahal atau murah– saya jadi teringat teman-teman di Madura saat hendak melangsungkan pernikahan. Kebanyakan dari mereka hanya mencetak menggunakan kertas hvs putih. Isi tulisanya hampir sama seperti ragam kartu undangan yang saya lihat. Harga sekali print kartu undangan model begitu hanya 2.000 rupiah, lalu dicopy yang harga perlembarnya hanya 250 rupiah (kalau tidak salah). Itupun dalam satu kertas hvs kadang memuat 2 atau 4 kartu undangan, dipotong-potong. Sejauh ini saya belum pernah menerima kartu undangan satu kertas hvs penuh. Jadi paling mahalpun mereka hanya akan keluarkan biaya di bawah 50.000 rupiah untuk semua kartu undangan.

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat undangan dari Presiden Jokowi. Malam hari sebelum besoknya berangkat ke Jakarta saya izin ke orang tua. Singkat cerita orang tua keberatan kalau saya ke Jakarta membawa batik yang sudah sehari-hari dipakai. “Itu bukan batik” kata Ayah.

Malam itu saya diam saja. Dalam pikiran saya, yang penting batik, terserah meski sudah agak lusuh karena tidak baru lagi. Esok paginya (agak siang) setelah saya sarapan dan beres-beres memasukkan pakaian dan perlengkapan perjalanan, Ayah masuk ke dalam kamar dan memberikan baju batik baru. “Pakai yang itu ntar, ketemu Presiden harus rapi.” Ucapnya. Waktu itu saya hanya tertawa.

Trus ditanya lagi “nanti naik apa?”

“Kereta”

“Lho kok nggak naik pesawat?”

Saya pun menjelaskan bahwa lokasi istana negara itu dekat dengan stasiun Gambir. Kalau menggunakan pesawat, naik bus masih jauh. Penat juga. Semetara di kereta saya bisa istirahat semalam dan sesampainya di Gambir bisa nyantai jalan kaki ke Istana atau hotel.

Ayah yang sudah 3 kali keluar masuk istana –Soeharto sekali dan SBY dua kali– hanya bisa mengingat-ngingat. Dulu beliau memang selalu menggunakan pesawat, dan bisa menerima penjelasan saya.

“Tapi masa jalan kaki? naik taksi lah” selorohnya.

“Di Monas nggak ada taksi.” jawab saya sekenanya.

Lihatlah dari serangkaian cerita dari paragraf awal artikel ini. Setiap orang sebenarnya memang sedang mencitrakan diri semaksimal mungkin. Teman-teman di Madura, sekalipun mereka hanya mencetak kartu undangan dengan kertas hvs, tetap saja itu pencitraan maksimal. Sebab dulunya (sekitar tahun 2000) undangan hanya dengan ucapan langsung dari utusan keluarga, tanpa kertas apa pun.

Apalagi beberapa teman yang pernah mengirimkan kartu undangan seharga 15,000 rupiah tadi, jelas pencitraan yang sempurna. Padahal tujuanya sama seperti yang menggunakan hvs, isi tulisannya pun hampir sama.

Begitu juga dengan undangan Presiden Jokowi, tidak ada aturan harus mengenakan batik yang bagus dan baru, yang penting batik. Apalagi aturan harus naik pesawat, tidak ada sama sekali. Point pentingnya hanya sampai tepat waktu di lokasi, itu saja.

Mungkin kita memang sama saja seperti Setya Novanto atau Riza Chalid. Selalu berusaha menunjukkan kelas. Bahkan mungkin andai orang tua saya lebih ilmiah, beliau akan bilang “pake batik ini aja, sedikit lebih representatif.”

Atau saat saya candai teman karena kartu undangan pernikahannya sangat bagus dan mahal “ini undangan apa kerajinan tangan bro? Pake pita segala.”

“Eh, itu undangan lebih mahal ongkos kirimnya ya!” Nada ngomel ala emak-emak.

Saat mengingat beberapa memori tersebut saya jadi berpikir, kalau menikah nanti, kira-kira saya akan menggunakan kartu undangan yang mana? Kalau menggunakan kertas hvs pasti ditolak mentah-mentah sama orang tua. Orang-orangpun akan berpikir “pelimat amat?!” Kalau menggunakan yang seharga 15.000 rupiah perkartu, sepertinya saya yang akan menolak. Ah, calon belum ada saja sudah kepikiran yang mau ‘berantem’ soal kartu undangan.

Sedang asyik senyam-senyum sendiri, seorang teman datang menunjukkan pesan di layar smartphonennya. Jelas tertulis, “Mas, minggu depan ke Jakarta. Kita ketemu dengan Mr X. Bawa mobil ya, sebab saya pakai motor.”

Membaca pesan tersebut saya tertawa kecil. Kenyataannya kita memang sangat butuh pencitraan. Di balik baju, kendaraan, rumah, dan segala yang kita gunakan harus nampak maksimal. Semakin bagus jenis mobil yang kita bawa –terlepas apakah itu pinjaman– mungkin akan sangat berpengaruh untuk meyakinkan lawan bicara kita. Atau minimal kita tidak akan terlihat memprihatinkan.

Wajar rasanya kalau seorang Setya Novanto dan Riza Chalid bicara soal jet pribadi, karena level mereka sudah sampai di situ. Tidak berlebihan. Hanya kita saja yang masih jauh di bawahnya, jadi jangankan jet pribadi, melihat Jaguarnya parkir di senayan saja kita sudah ribut. Tapi pencitraan tersebut menjadi tidak etis jika dilakukan oleh pejabat negara yang seharusnya menunjukkan kesederhanaan. Mungkin masalahnya di situ. Andai Setya Novanto bukan ketua DPR, hanya rakyat biasa seperti saya, malah bisa berbalik disanjung karena kesuksesannya.

Jadi daripada memprotes Setya Novanto dan orangnya badung, sebaiknya kita yang memperbaiki kualitas diri. Semoga nantinya bisa sampai di level mencari harga promo jet pribadi yang representatif. Sehingga dengan begitu kita akan merasa biasa saja tanpa rasa iri dan tersinggung. Toh diakui atau tidak, kita pun sama-sama menjunjung tinggi pencitraan pada banyak kesempatan.

 

(Sumber: www.seword.com)

 
Monday, November 30, 2015 - 11:15
Kategori Rubrik: