Kita Menentukan Masa Depan Bangsa

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Malam menjelang dini hari aku kebangun. Aku sudah menduga di group WA yang aku ikuti pasti sudah bertebaran Ajakan tahajud. Ya benar begitu. Tapi aku terbangun bukan untuk itu. Kalau aku tahajud, nggak akan aku cerita. Kalau bisa malah istrikupun nggak lihat. 

Aku merasakan perut lapar. Tapi tidak sakit,hanya lapar. Tetangga saya yang tidur kekenyangan bisa tidak masuk surga gara-gara ini: tidur kekenyangan sementara tetangganya kelaparan. Bukan, aku tidak kelaparan, hanya lapar. Mungkin aku yang terlalu sering tidur kekenyangan, sementara banyak orang tidur dalam kondisi lapar.

Tapi aku nggak pernah bilang rakyat semakin miskin. Kenyataanya warung dan resto selalu ramai. Tetangga saya yang dulu mobilnya satu dan bekas, sekarang tiap rumah minimal 2 mobil dan baru-baru.

Aku baru sadar mengapa lapar. Aku berangkat mengajar jam 12.00. Belum makan siang.Perjalanan hampir 2,5 jam termasuk menunggu taksi online. Badanku nggak enak. Untung sopir memutar lagu2 Rhoma Irama yang dinyanyikan Ridho. Suara halus mirip cewek.Cukup menghibur. Di tengah jalan baca WA kalau sudah ditunggu. Karena ada yang harus pulang ke Padang jam 18,30. Tukang taksi kartu tolnya kosong. Mencoba mengisi di beberapa toko tidak berhasil. Kami lewat jalan biasa, menuju Gresik.

Di Gedung Semen Gresik mahasiswa sudah menunggu. Datang kira-kira jam 14.40, langsung mulai. Badan agak enak setelah nyrutup kopi tanpa gula. Meski perut kosong, kopi anget tanpa gula tetap aman.

Kelas menyenangkan para pekerja Semen menikmati mata kuliah Operations Research. Aku pun bersemangat. Perut lapar tidak terasa. Honor juga nggak terpikir. Sholat ashar kujamak di Surabaya. Untung kujamak karena waktu mepet untuk perjalanan dan berbagi ilmu. Dengan menjamak aku merasa lega. Semoga Tuhan yang Maha Penyayang paham kondisiku.

Curahan kopi tanpa gula ke perut cukup meningkatkan stamina. Kira2 jam 17.15 kelas usai. Kutunggu sebentar adzan maghrib. Maghrib sebentar selesai. Aku segera jalan menuju seberang wisma semen. Melihat beberapa warung. Kutemukan Sate Padang. Iya mana yang cepat, perut sudah perih meminta jatah siang yang digabung dengan makan malam.

Makan sate Padang yang pedes dengan sedikit kupat. Menu yang tidak mengenyangkan. Tapi lumayan membuat perut lega lagi.

Lalu aku memesan go car. Kira-kira 30 menit datang. Suguhan classic rock, Whiter Shade of Pale dari Procol Harum dan tembang rock lawas yang lain, membuat semangat. Badan masih belum pulih. Kepala nyut nyutan.Perjalanan cukup lancar. Sampai di rumah sengaja aku tidak makan lagi. Cukup makan jeruk 2 biji. Meski lapar tapi gelontoran kopi siang tadi membuat nafsu makan hilang. 

Kunikmati bola Jepang vs Korea. 
Ya Korea bekas jajahan Jepang , main lebih bagus. Korea menang. Semangat mengalahkan bekas penjajahnya sangat tinggi. Para pemainnya bebas dari wajib militer itulah hadiahnya. Sungguh event AG 2018 membawa banyak berkah. 

Aku bermimpi Indonesia bisa mengalahkan Jepang dan Belanda, mantan penjajahnya, suatu saat nanti. Bisa? Bisa, asal negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang tidak korup. Tidak korup! Korupsi merusak mental hingga ke ketua PSSI dan para pemain. Merusak setiap orang dalam birokrasi. Korbannya adalah rakyat yang baik-baik.
Di tangan pemimpin bersih, prestasi olahraga 250juta orang bisa melejit.Kita tidak butuh pemimpin yang tentara atau orang yang beriman. Kita butuh pemimpin yang jujur dan tidak korup. Itu saja. Beriman biar urusan dirinya.

Selama kita masih mengurusi iman orang, berarti kebodohan masih mendera. Tak akan bisa kita mengalahkan Jepang atau Belanda. Carilah kriteria2 yang terukur dan tangible untuk seorang pemimpin.
Perut ini masih lapar tapi nyaman...tidak sakit.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Monday, September 2, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: