Kita Kosongkan Ciliwung

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Berbilang bulan, 2 tahun lebih, warga DKI Jakarta, paling tidak saya, harus bersabar hati dengan tingkah polah para Pemangku Kuasa-nya.

Dari 'salah ketik', 'salah tebang', 'salah urus', sampai 'salah omong' . . .

Di awal.Februari, neski banjir berkali-kali, masih ndak punya malu klaim telah tangani dengan baik. Padahal jika BPPT tidak jadi 'Pawang Hujan', sepanjang Januari lalu, Jakarta sudah berulang kali juga akan 'terendam' banjir

Ndak ngerti dan ndak tau 'terima kasih' . . .

Mungkin BPPT nggondhog, lalu berhenti me-rekayasa cuaca. Ndak enak juga sama kita2 yang mbayar operasinya dengan 'uang pajak' kita orang.

Area cakupan operasinya luas, Jabodetabek. Ndak cukup cuma Jakarta. Karena, misal, Bogor suka kirim air lewat Katulampa-nya.

Tapi mereka stop, mungkin juga karena sang Pemangku Kuasa omong juga sudah siap 'kosong'kan Ciliwung. Untuk tampung 'kiriman' itu.

Caranya ? Ya, dipompa ke laut. Air laut sedang 'rata', katanya . . .

Pertama, apa memang bisa dan mampu ? Wong pompa air banjir wilayah sekitar Jakarta Timur ke Banjir Kanal Timur, yang jaraknya cuma 'sak jengkal'.saja ndak 'ènthos'

Kedua, apa itu ndak nlanggar 'Sunatullah' ? Yang dulu jadi bahan rencana 'debat' dengan pak Basuki, Menteri PU ?

Ya begitulah. Suka-suka. Suka-suka, sak karêp-nya, suka lupa kata . . .

Kalau 'inspeksi' banjir, selalu ngeyel tunjukkan, wilayah yang bukan daerah aliran sungai, DAS, juga banjir. Maksudnya mau ngeyel bahwa yang buru-buru, urjên, dikerjakan itu adalah 'naturalisasi' bukan normalisasi.

Maksudnya lagi, air 'hanya' perlu diresapkan ke dalam tanah, termasuk dengan cara 'drainase vertikal'. Sunnah-nya begitu.

Dikerjakan ? Ya ndak juga. Sampai sekarang 'sumur resapan' tak lebih dari 3000 buah. Jaman Pemangku yang 'dulu' sudah lebih banyak bikin, tapi ndak gembar-gembor, karena memang itu bukan ''cara utama'. Yang utama ya normalisasi..

Tahu ndak targetnya ? Satu juta, Cing ! Berarti kurangnya memang ndak banyak, cuma sekitar 997.000 lagi . . .

Malah bikin contoh buruk yang 'kecil'. Pohon2 Lapangan Monas ditebangi. Jalan paving batu ditimpa aspal. Lalu dengan gagah omong, air hujan bisa meresap lewat aspal itu, lalu masuk ke tanah. Ini aspal akrab lingkungan . . .

Omongan ini setara dan sekelas omongan KPAI, orang bisa hamil karena berenang . . .

Pokoknya, adaaaa saja alasannya . . .

 

Banjir kemaren, Minggu 23 Februari, katanya ada hujan 'ekstrem'. Banjir yang lalu, bukan banjir, cuma air 'antri'. Banjir yang lalu lagi, itu kiriman Bogor. Banjir yang lain lagi itu kiriman Tuhan, 'berkah' . . .

Ndak konsisten, suka lupa, kerja seenaknya, males, suka berdebat, bahkan 'ingkar sunnah', itulah 'resume' tingkah polah Para Pemangku Kuasa DKI.Jakarta selama ini.

Nurut saya, ya cuma nurut saya, 'Mereka' termasuk para 'pendukung'nya, sudah masuk kategori' Menista Agama', Islam ! Kenapa ?

Karena bikin orang sak 'dunia dan akherat' salah persepsi. Dikira 'Orang Islam' itu semua goblog-goblog, sombong ndak sopan juga ndak ngerti terima kasih. Ndak bisa kerja, cuma pinter 'debat'. Kayak mereka . . .

Dan dikira juga, mereka belajar semua itu dari Agama Islam !

Bikin malu, ngisin-ngisini . . .

Nanti tak cari 'dalil'nya. Kriteria orang yang suka menista agama tapi ndak ngrasa.

Seingat saya ada, 'Hanya keledai yang dua kali jatuh ke dalam satu lubang yang sama, apalagi sering dan berkali-kali. Jatuh dan jatuh, tapi sambil ketawa-ketawa, karena ndak ngrasa '

Tuesday, February 25, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: