Kita dan Mereka

Oleh: Muhammad Ilham Fadli

 

“Bukan pada benar atau tidak benarnya sebuah teori, tapi apakah teori tersebut mampu memberikan perubahan pada masyarakat !”, setidaknya demikian kata Karl Marx sekitar satru abad yang lalu. Perubahan ke arah yang lebih baik. Implikatif. Memberikan daya untuk merangsang masyarakat melakukan perbaikan ke rah yang lebih baik. Dalam bahasa teologis, “kehadiran yang diharapkan”, inspiratif, rahmat bagi alam semesta raya. Karena itu saya paling suka mempublikasikan capaian-capaian inspiratif inovatif yang dilakukan ummat manusia di muka bumi ini. Tanpa sekat agama. Tanpa sekat suku. Tanpa sekat wilayah. Selagi itu dihasilkan oleh manusia, untuk kebaikan dan kebahagiaan ummat manusia dan alam semesta, wajib kita memberikan tepuk tangan. Karena memang tugas manusia itu adalah sebagai khalifah di muka bumi. Pemakmur bumi. Penjaga bumi. Pemakmur dan penjaga berkonotasi positif. Membuat bumi dan segala isinya nyaman, berkembang dan sejenisnya dalam spektrum, ibadah kepada-Nya.

Itulah jawaban yang sering saya berikan kepada beberapa kawan. Mereka protes, “mengapa kamu suka mempublikasikan capaian-capaian ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh orang yang bukan berasal dari kelompok kita. Kenapa kamu bertepuk tangan pada mereka ?”.

 

 

Temuan mereka, membahagiakan kita. Membuat kita menjadi “dijaga”, menjadi nyaman. Temuan-temuan di bidang medis yang tiap tahun kita dengar. Para penemu itu diberi hadiah nobel. Temuan di bidang teknologi informatika. Eksplorasi di angkasa luar. Penelitian yang demikian massif untuk kebahagiaan ummat manusia. Semua itu, mayoritas dilakukan oleh mereka, yang harus kita akui secara jujur, bukan berasal dari “in-group”. Lalu dimana letak salahnya bila kita terinspirasi. Temuan mereka memberikan perubahan bagi ummat manusia. Perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan berbasis efisiensi waktu dan tempat. Harusnya kita berterima kasih.

Harusnya kita terinspirasi untuk “menampar” muka kita sendiri, “mengapa kita tak mampu seperti mereka’.

Selayaknya kita “menjitak kepala sendiri”, mengapa kita justru banyak disuguhi berita-berita tentang perang sesama saudara, teriakan kemarahan, pembahasan tentang bedil dan senapan, siapa yang berhak “dekat” dengan Tuhan dan seterusnya.

Dulu, orang Barat sana, belajar pada tradisi Islam. Setelah mereka melewati yang namanya “Abad Kegelapan”. Berperang diantara mereka sendiri. Mereka kemudian menolehkan pandangan pada peradaban Islam. Bukan pada teklnik berperang. Bukan pada aroma politik kekuasaan. Tapi pada capaian ilmu pengetahuan.

Bukan apologia, tapi sejarah "sepakat", bahwa pada abad ke-12 M., Eropa mulai belajar dari peradaban Islam. Tercatat, beberapa nama tokoh Eropa masa itu, menjadi "murid intelektual" peradaban Islam sebutlah seperti pendeta terkenal Gerbert d'Aurillac yang kemudian menjadi Paus. Lalu ada nama Adelard of Bath yang kemudian mempelopori gerakan keilmuan di Inggris. Ia dianggap sebagai ilmuan Inggris pertama, menterjemahkan buku matematika Al-Khawarizmi. Lalu ada Gerard of Cremoda yang menterjemahkan buku astronomi karya Al-Zarqaly, yang kemudian menjadi karya astronomi paling akurat Eropa masa itu.

Lalu siapa yang tak kenal dengan Ibnu Khaldun. Tak hanya dikenal sebagai ahli sejarah dunia dan sosiologi, ia juga tajam dalam analisa ekonomi. Muqaddimah menjadi salah satu "mahakarya"nya yang selalu jadi sebutan hingga sekarang. Tak salah, jika kemudian Adam Smith, sang Bapak Kapitalisme dunia dalam bukunya yang (asli) menjadi "kitab suci para kaum kapitalis", Nation of Wealth mencantumkan Ibnu Khaldun sebagai inspirator. Lalu pandanglah angka "Nol". Angka ini memiliki daya "pembeda" signifikan dalam deretan dan kumpulan angka-angka. Siapa penemunya ?. Ada yang mengatakan, angka Nol ditemukan tradisi-peradaban lembah Sungai Indus India. Tapi, mayoritas ahli sejarah Eropa dan dunia mengakui bahwa angka Nol merupakan kreasi dari ahli matematika muslim, Al-Khawarizmi namanya. Di gerbang masuk Universitas Paris Perancis, terpahat nama dan wajah Ibnu Sina. Karyanya Al-Qanun (the Cannon) menjadi rujukan kedokteran dunia hampir 700 tahun lamanya

Bila abad 21 M. ini, orang mengenal Harvard, Cambridge, MIT, Sorbonne dan Stanford sebagai pusat/univesitas ternama di planet bumi nan bulat ini, maka pada beberapa abad yang lalu, dunia mengenal tradisi peradaban Islam Damaskus (Dinasti Umayyah), Baghdad (Dinasti Abbasiyah) dan tradisi Islam Spanyol (Cordoba) sebagai "avant garde". Dinasti Abbasiyah menyulap Baghdad menjadi menjadi metropolis dunia, lalu di Spanyol, Cordoba, Toledo dan Malaga menjadi Cahaya Paeradaban Eropa. Henry Lucas, sejarawan Eropa klasik mengatakan bahwa kekhalifahan Abbasiyah barangkali merupakan periode yang makmur dalam sejarah ummat manusia pada masa itu. Baghdad tak hanya menjadi cahaya ilmu, tapi juga pusat perekonomian. Kota yang diapit Sungai Eufrat dan Tigris ini menjadi penghubung pusat-pusat ekonomi lainnya. baghdad bak pemilik Jalur Sutera (silk road). Baghdad, Bashrah dan Iskandariyah di Mesir seperti Tokyo, New York dan London di zaman sekarang.(ini kata Lucas, bukan kata saya). Mereka mengembangkan kertas dari China, berdagang sampai ke Nusantara, membangun industri dan pertanian.

Sementara Islam di Andalusia-pun ilmiah. Saking cintanya dengan ilmu, salah seorang khalifahnya, Al Hakam II, memiliki perpustakaan pribadi 400.000 koleksi buku. Pada masanya, Cordoba maju pesat. Kertas dan buku merupakan salah satu kunci kemajuannya. Dari peradaban Cordoba inilah kemudian lahir ilmuan besar seperti Ibnu Rusyd yang ahli filsafat, An-Nafis si penemu sirkulasi darah, Ibnu Haitam yang dikenal sebagai bapak optik, Ar-Razi penemu cacar, Al-Farabi si ahli musik, Al-Battani yang pakar astronomi, Ibnu Batuta penjelajah dunia dan ahli geografi, dan mungkin begitu banyak lagi yang pantas untuk diketengahkan. Marshal GS. Hodgson beserta William M. Watt, pernah menginventarisir nama-nama ilmuan yang berasal dari tradisi peradaban Islam klasik yang hingga hari ini, nama mereka masih dirujuk dan disebut oleh kalangan ilmuan dalam bidang mereka masing-masing.

Dulu, orang “sana” meniru (yang positif) orang “sini” karena capaian ilmu pengetahuan. Bukan pedang dan kelewang.

Tak ada inspiratif dari sebuah konflik. SemAoga kisah kita ke depan tidak didominasi oleh kisah konflik. Kisah berdarah. Tapi kisah yang bergairah. Kisah tentang pemenang hadiah nobel dari kita. Kisah anak cucu dan cicit kita yang membuat pesawat terbang jauh lebih cepat dibandingkan pesawat supersonik yang dibuat Boeing beberapa waktu lalu. Kisah tentang anak cucu kita yang mampu menjelajahi angkasa raya untuk kebahagiaan ummat manusia di bumi. Kisah tentang Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi top dan prestisius level dunia yang terdapat di negara-negara mayoritas muslim. Kisah tentang cinta damai dan gerakan cinta lingkungan yang dimotori oleh ..... “kita”, bukan (hanya) "mereka" saja. karena dunia yang bulat ini milik bersama.

Wallahu a'lam

 

(Sumber: Facebook Muhammad Ilham Fadli)

Wednesday, November 21, 2018 - 08:45
Kategori Rubrik: