Kita dan Israel

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Dalam bentuk nya berupa nilai budaya yang hidup di suku-suku bangsa Nusantara, sebelum Bung Karno pidato di Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan 1Juni 1945 ia belum punya nama. Dalam pidato itu disebutlah bahwa nilai yang digali dari bangsa Nusantara itu namanya Gotong royong.

Suku Lani di Papua menamakannya Yabu Eeruwok. Orang suku Sunda menamakannya Gotong Rojong/Sa uyunan. Di suku Melayu ada yang menyebutnya Kerja Bakti. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Di suku Jawa ada tradisi Rewang. Sinoman, Parhobas dan segala macam bahasa daerah yang mencerminkan kekuatan bangsa kita yang tak dimiliki bangsa lain adalah budaya Gotong Royong, diambil dari bahasa Sunda Gotong Rojong (Diangkat bersama-sama).

Suku Kurais di Mekah tak punya budaya Gotong Royong. Usai memugar Ka'bah dan hendak menaikkan Hajar Aswad mereka berdebat tiada henti. Sampai kemudian Nabi Muhammad datang dan mengajak mereka Gotong royong. Nabi menghampar sorbannya, batu Hajar Aswad diletakkan lalu diangkat bersama-sama. Perdebatan pun berakhir.

Di Mekkah Nabi mengajarkan Gotong-Royong kepada masyarakat Arab. Sedangkan Bung Karno menemukan ini dalam budaya masyarakat Nusantara yang kemudian ia namakan Gotong Royong. Pandangan Dunia Gotong Royong ini lah yang kemudian disepakati sebagai celupan (Sibghah) bangsa Indonesia. Hakikat bangsa Indonesia adalah Gotong-royong itu sendiri. Kalau Gotong Royong makin kurang tandanya Indonesia sedang sakit.

Oleh Tim Sambilan perumus manifesto filosofis disepakati bahwa Bangsa Indonesia membuat negara Indonesia bukan negara agama. Tapi negara falsafah. Namun demikian Indonesia tetap negara tauhid, dengan ketuhanan yang maha esa.

Jati diri bangsa Gotong royong itu dicarikan proposisi filosofisnya jadilah Kelima sila yang sekarang ini ada. Setelah melalui adu argumentasi para pendiri bangsa. Teks akhir melalui proses mistisisme/dzauq, shalat istiharah, shalat hajat dan puasa tiga hari KH Hasyim Asy'ari.

Di era Sukarno, manifesto filosofis bernama Pancasila itu diturunkan hanya memakai ilmu logika. Kejadiannya hampir seperti teks wahyu diintrepretasi oleh ilmu kalam/teologia. Hasilnya indoktrinasi dan dogmatisasi. Ruslan Abdul Ghani indoktrener terbaik di jamannya. Di era Soeharto Kepres tentang P4 ditandatanganinya. Lewat Kepres inilah Soeharto membuat garis dengan orang-orang yang dianggap musuhnya. Di eranya westernisasi terjadi kencang bahkan lebih dari masa penjajahan Belanda. Bangsa indonesia diajak matre. Ramai memang pengajar Pancasila di perguruan tinggi dan BP7. Frofesor Kaelan bikin buku Pancasila tebal-tebal. Hasilnya buat rakyat Indonesia apa, begitu kalau ilmu sebatas knowledge. Mung weruh tok. Rakyat tanya manfaate untuk rayat opo ?

Santri Kalong :
Jadi tafsir atas Pancasila harus bongkar ulang dengan alat yang lebih kayak : filsafat metafisika. Begitukah atau bagaimana Kang.

Yang Mat :
Seluruh rakyat Indonesia harus sadar akan satu hal : bahwa yang dimufakati oleh moyangnya pendiri bangsa adalah manifesto filosofis bernama Pancasila. Inilah jiwa bangsa Indonesia. Inilah timbangan utama untuk mengevaluasi apakah bangsa ini bergerak ke arah tujuannya ?

Manifesto filosofis bernama Pancasila itu isinya kesatuan pandangan dunia keesaan, dan peradaban. Kebangsaan akan lebur dalam tujuan peradaban. Wliayah peradaban adalah seluruh manusia. Ruh peradaban adalah keadilan Tuhan. Poros peradaban bangsa-bangsa adalah penentang kebiadaban. Inilah hakikat bangsamu.

Banyak bangsa-bangsa menjalankan kebiadaban para penjajah misalnya, itu pasti bukan bangsa teman kita. Kita berindonesia bukan untuk selesai sampai Sabang-Merauke tapi untuk bersatu dengan bangsa-bangsa yang menolak kebiadaban. Karena kita bangsa berporos pada peradaban. Ini kita main non-blok terus sementara blok komunis-kapitalis perangnya sudah bubar. Dunia hari ini dunia unilaterian yang hegemoninya dipegang Barat, komandonya Amerika. Non-blok yang goblok, tidak ada hujan dan panas pakai payung.

Kita sebagai bangsa sudah bersepakat atas ketuhanan yang maha esa. Kita bangsa Indonesia berpandangan bahwa kita bagian tak terpisahkan dari keesaan itu. Bahkan tidak tepat juga sebenarnya dikatakan bagian, karena hakikatnya tak pernah terbagi. Tak bisa dibagi. Tak akan terbagi. Tak akan pernah bisa terbagi. Demikian pula kata terpisahkan dari keesaan, hal itu tak mungkin. Tak ada satu ruang sekecil debu pun yang terpisah dari keesaan. Tak ada ruang buat dua, tiga dan seterusnya kecuali pada abstraksi benak saja.

Santri Kalong : Bagaimana dengan tafsiran masing-masing agama yang ada di Indonesia.

Kang Mat :
Makna beragama di Indonesia atau bahkan di peradaban manusia, banyak diambil alih oleh teologia/ilmu kalam. Beragama dan berteologi dua hal yang tidak persis sama. Dari tuhan satu mustahil manifestonya banyak. Dari Tuhan yang tak terbatas mustahil juga keluar
makna kitab sucinya yang terbatas.

Fahaman manusia yang terbatas inilah yang kemudian menjadikan agama yang nilainya tak terbatas itu menjadi batasan-batasan karena setiap ilmu membutuhkan misdaq. Termasuk teologi. Selanjutnya doktren. Selanjutnya dogma. Di titik ini akal tak diperlukan lagi. Dipaksa ikut dengan hidangan dogma yang sudah ada. Timbul pernyataan beragama tak perlu akal. Kalau begitu pohon, kambing, batu di kali yang suruh pergi ke mesjid dan ke gereja.

Santri Kalong :
Dari mana sambungannya negara ini punya menteri Agama ?

Kang Mat :
Tanyakan saja sama bapak nya Gus Dur. Ia yang usul kita punya menteri agama. Di dunia ini hanya dua negara yang punya menteri agama : kita dan Israel.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Thursday, November 14, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: