Kita Bukan Generasi Terbaik?

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Ada ustadz yang bilang bahwa generasi terbaik adalah yang hidup di jaman rosululloh. Semakin ke sini kehidupan semakin buruk. Rasanya hal2 begitu tidak perlu disampaikan.
Semakin maju dunia, semakin banyak hal yang membaik. Di masa lalu populasi manusia sering cepat berkurang dengan drastis gegara perang, wabah penyakit menular, dan kelaparan. Beberapa tahun terakhir menurut Yuval Noah Harari, professor sejarah di Hebrew University jarang terjadi perang besar, wabah penyakit menular, dan kelaparan massal.

Perkembangan teknologi kesehatan memungkinkan manusia untuk mengatasi munculnya wabah, yaitu sejak penemuan penisilin oleh Alexander Flemming. Tidak terdengar lagi pagebluk ribuan atau jutaan orang mati dalam waktu singkat. Teknologi pangan sudah bisa mencegah kelaparan yang luas, sejak penemuan pupuk buatan (yang bisa mengikat nitrogen dari udara menjadi molekul pupuk, proses Haber-Bosch). Pupuk buatan berhasil meningkatkan produktivitas pertanian. Hubungan antar bangsa dan kerjasama internasional berhasil mencegah perang dunia atau perang besar antar bangsa. Juga ditemukannya banyak varietas bibit unggul bahan pangan yang meningkatkan produktivitas hasil panen. Itulah kenapa populasi dunia membesar dengan cepat.

Para pemikir modern mengajak untuk menuju visi masa depan manusia (ulimate goal): kebahagiaan bersama.
Bukan lagi kebahagiaan pribadi, kelompok atau bangsa. Tidak ada gunanya kita bahagia di atas penderitaan orang, kelompok atau bangsa lain. Ajaran-ajaran mengajak perang atau menyebarkan kebencian semakin tidak laku. Kita harus hidup saling membantu, saling bekerjasama. Kita nggak bisa hidup sendiri.

Di Eropa masyarakat sudah bertekad pada tahun 2050 seluruh energi yang dipakai adalah renewable dan zero carbon cycle.
Tekad seperti itu belum kita pikirkan secara serius. Fokus kita masih ke hal2 dasar yang nggak habis2 dibicarakan. Pada tahun 2050 ekonomi kita berada pada urutan ke 4 dunia di bawah China, AS dan India. Kita sudah mengalahkan Jepang pada tahun tersebut.
Ramalan Pricewater House ini tidak dibantah oleh lembaga lain. Masuk akal dilihat dari ukuran ekonomi kita. Kita akan bergerak maju dan membaik. Orang-orang yang berpikir ke belakang akan makin tersisih. Hanya mereka yang berorientasi ke masa depan akan bisa mengikuti perkembangan dunia.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Thursday, November 21, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: