Kisah Tragis Islam Politik Prabowo

ilustrasi

Oleh : Abu Maryam

Hubungan azan dengan Pilpres sebenarnya tidak ada. Jokowi mau salat, Prabowo enggak, itu hak asasi. Ketika mendengar azan, Jokowi memilih berdoa atau Prabowo milih ngopi, itu juga pilihan. Kontribusinya untuk negara tidak ada. Namun jika menimbang lebih jauh, karena Pilpres ini persoalan jualan figur, masalah azan ini sangat krusial.

Ia adalah cerminan dari kebiasaan masing-masing Capres. Berdoa ketika mendengar azan, kemudian salat di awal waktu, sudah menjadi kebiasaan Jokowi. Keislaman Jokowi telah mengurat-daging. Meski bukan jebolan pesantren, ritual keagamaan Jokowi tak kalah dengan anak pesantren. Wiridan dan puasa Senin-Kamis sesuatu yang rutin dilakukannya. Bukan karena disorot kamera. Ia melakukannya sejak dulu kala.

Sementara Prabowo terpaksa masuk Islam karena pernikahan. Islam yang dipahami Prabowo adalah Islam dari luar bingkai. Ia melihat orang salat, orang wudlu, orang salaman. Tapi untuk membaca sholawat saja tidak bisa. Untuk baca surat pendek Al-quran tidak tahu.

Prabowo adalah gambaran tepat dari istilah Islam KTP.

Sebenarnya, kalau Prabowo terbuka, tahu diri, keislaman KTP-nya itu bisa dijadikan modal jualan figur. Sayangnya, Prabowo berambisi ingin menjadi yang terdepan. Selalu ingin tampil serba sempurna. Oleh sebab itu, ketika kualitas keislamannya diragukan ijtima’ ulama, Prabowo menggebrak meja. Di hadapan para ulama ia meninju meja keras-keras lima kali. Itu artinya, ijitma’ ulama hanya kendaraan yang ditumpanginya agar disebut muslim sempurna.

Sayangnya, barang imitasi tak mungkin sekuat aslinya. Keislaman yang serba pura-pura itu dikuliti oleh kenyataan. Di luar ritual, dalam Islam (atau agama manapun) sebenarnya ada etika keagamaan. Ketika masuk masjid dan mendengar azan misalnya, etikanya orang berdiri menghormati azan sambil membalasnya. Ada contoh lain, ketika di dalam masjid, orang akan berzikir sir (dalam hati) dengan niat I’tikaf (diam di dalam masjid).

Prabowo tidak memahami hal-hal intrinsik di luar panduan umum ini. Ia hanya tahu Islam secara tekstual. Islam yang ia lihat di televisi dan dia baca di koran-koran tempo dulu. Maka ketika melakukan ritual keagamaan, ia terlihat kaku dan tidak menjiwainya.

Gerakan fisiknya tidak tembus ke hati. Ketika ia salat, yang dilakukannya hanya olah raga, tanpa olah jiwa. Padahal hakikatnya, salat itu meditasinya umat islam.

Figur muslim pilihan ijtima’ ulama yang hendak dijual Prabowo gagal total. Padahal seorang ustad gadungan seperti Sugi Nur Raharja saja bisa berpura-pura jadi ulama, tanpa pengetahuan agama. Dus Nur (panggilan akrab Sugi) menjiwai sandiwara keagamaannya dengan baik. Ia fasih mengucapkan penggalan istilah Arab. Sesekali mengutip ayat, meski kadang salah tempat.

Prabowo mestinya belajar banyak dari Dus Nur mengenai cara berpura-pura Islam di depan publik. Agar jualan figur muslimnya itu tepat sasaran.

Ngopi ketika azan bukan cara yang baik untuk menghormatinya. Itu sama saja menganggap azan sesuatu yang harus dihindari. Panggilan salat yang dianggap suci oleh banyak orang itu sekadar jadi pengganggu acara kampanyenya.

BPN memang telah menjelaskan, Prabowo salat setelah kampanye digelar. Tapi jawaban itu tidak menggugurkan fakta, Prabowo mengabailkan panggilan salat. Ia lebih mementingkan ngopi daripada penghormatan terhadap azan. Itu berarti Prabowo tidak memahami substansi azan. Yang barangkali dianggapnya hanya teriakan orang kurang kerjaan di siang hari.

Untuk ukuran orang pada umumnya, soal etiket azan ini tidak perlu dibesar-besarkan. Orang mau ngorok ketika azan ya urusan dia. Mau jungkir balik, terserah dia. Mau karaokean itu pilihan dia. Namun menyangkut figur penting yang akan memimpin Indonesia, ini aib yang sangat besar. Prabowo menampakkan diri sebagai seorang pemimpin hasil ijtima’ ulama yang tak beretika.

Etika adalah hal mendasar. Ia membentuk karakter seseorang. Barbarisme keislaman yang ditunjukkan Prabowo adalah negasi jelas tentang kualitas keislaman politiknya. Dan itu adalah tamparan yang sangat keras bagi seluruh umat Islam Indonesia. Begitu gampangnya umat islam dibodohi oleh islam politiknya Prabowo.

Umat islam sudah persis seperti buih di lautan. Banyak, bergerombol, tak punya ketetapan. Bahkan untuk melihat hal mendasar seperti ini saja tak mampu.

Islam dicabik-cabik oleh penganutnya sendiri. Dirobohkan dan dibodohkan. Prabowo sebenarnya tidak bersalah. Ia hanya jualan figur, post truth yang dikemas rapi. Pemujanya, terutama kalangan ekstrem kanan, membeli jualan itu. Mereka sangat yakin bahwa kamuflase Prabowo itu asli. Padahal jika mereka mau merenung sebentar saja, tentu mata hati mereka akan melihat gelagat buruk itu.

Tuhan menciptakan segumpal daging dalam tubuh manusia. Selain sebagai alat kontrol, segumpal daging itu juga detektor kepalsuan yang andal. Ketika manusia mau mengosongkan pikiran, merenung, bercakap-cakap dengan segumpal daging dalam tubuhnya, ia akan mendapatkan bisikan yang murni. Segumpal daging itu adalah hati.

Orang-orang Islam Indonesia banyak yang sudah kehilangan kepekaan hatinya. Mereka takjub dengan gambaran luar yang gagah, maco, bombastis. Padahal mereka terjebak kepalsuan. Prabowo adalah gambaran paling nyata dari tragedi tersebut. Ia sibuk menjual islam politiknya, padahal baca sholawat untuk Nabi saja tak bisa. Dan ironisnya, etiket menghormati azan yang sangat mudah saja tidak tahu.

Ngopi saat azan itu adalah kisah tragis keislaman politiknya Prabowo. Anehnya, kok ya banyak yang percaya drama keislamannya. Indonesia, Indonesia...

Sumber : Status Facebook Abu Maryam

 
Sunday, March 31, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: