Kisah Pilu Di Pematangsiantar

ilustrasi
Oleh : Seruanhulu
Pasal penistaan agama kembali memakan korban. Ironisnya, kali ini yang jadi korban adalah tenaga nakes di salah satu RSUD di Pematangsiantar. Dimana ada empat orang tenaga nakes di RSUD tersebut harus berhadapan dengan hukum karena tuduhan penistaan agama.
Kasus ini bermula usai keempat petugas nakes RSUD Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar memandikan jenazah seorang perempuan yang berstatus suspek Covid-19.
Lalu kemudian suami dari jenazah perempuan tersebut tidak terima dan merasa keberatan. Adapun alasannya, karena keempat tenaga nakes yang memandikan jenazah istrinya bukanlah mukhrimnya.
Mengingat penanganan jenazah pasien Covid-19 memang harus melewati protokol kesehatan yang ketat agar keluarga korban tidak tertular. Maka tenaga nakes memang harus bekerja sesuai dengan prosedur, termasuk memandikan dan membersihkan jenazah.
Namun, di titik inilah kisah pilu itu dimulai. Ketika pengorbanan tenaga nakes yang memandikan jenazah perempuan tersebut dibalas dengan ancaman pasal penistaan agama.
Logikanya, jika karena bukan mukhrim yang jadi alasan kenapa keempat nakes itu dijerat pasal penistaan agama, terus apa bedanya mereka dengan dokter bedah dan dokter kandungan laki-laki yang menangani dan menolong pasien perempuan yang dibedah dan melahirkan?
Artinya, dalam kasus ini ada sesuatu yang tidak beres.
Dan benar saja, setelah kasus ini ditangani oleh pihak kepolisian, tak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba saja ada segerombolan orang yang melakukan aksi tuntutan terhadap keempat tenaga nakes yang memandikan jenazah perempuan tersebut.
Mereka kembali melakukan pola yang dulu pernah dilakukan pada kasus Ahok dan kasus Meiliana di Tanjung Balai dengan memberikan tekanan kepada pihak aparat penegak hukum agar keempat tenaga nakes tersebut dijerat dengan pasal penistaan agama.
Sayangnya, penegak hukum kita juga selalu saja tak berkutik jika berhadapan dengan kelompok ini. Bahkan pada saat mereka melakukan aksi saja, aparat keamanan seolah tutup mata dan membiarkan meskipun hal itu melanggar protokol covid.
Akibat dari kejadian ini, tentu saja berdampak kepada petugas-petugas kesehatan lainnya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa kasus ini bisa membawa trauma baru bagi dunia kesehatan kita.
Bagaimana tidak, sesungguhnya tenaga kesehatan itu adalah pahlawan kemanusiaan yang bahkan mereka terkadang lebih mementingkan keselamatan nyawa pasien dibanding nyawa mereka. Apalagi di masa pandemi seperti ini.
Namun lihat apa yang mereka dapat? Sungguh memilukan. Mereka sudah berjuang di garda terdepan melawan pandemi, tapi sekarang malah dijadikan sebagai tersangka kasus penistaan agama. Coba bayangkan betapa kecaunya penegakkan hukum seperti ini.
Entah sampai kapan penegakan hukum di negeri ini bisa bebas dari tekanan gerombolan manusia-manusia yang gila agama seperti ini? Dan entah berapa banyak lagi yang harus jadi korban pasal-pasal multi tafsir yang terdapat dalam UU Penistaan Agama ini, baru kemudian direvisi?
Entahlah....!!
Sumber : Status Facebook Seruanhulu
Wednesday, February 24, 2021 - 08:30
Kategori Rubrik: