Kisah Para Pengkhianat

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Di setiap gelombang jaman, dalam bernegara, selalu muncul kelompok yang bergerak berlawanan. Mereka menyebutnya kelompok oposisi. Berbeda tentu bukanlah dosa. Seorang oposan, adalah orang yang memiliki perbedaan pandangan dari tingkat mendasar. Bahkan dari tingkat ideologi politik. Mereka punya tujuan-tujuan yang tak mungkin diseragamkan.

Tapi mereka bukan ancaman. Karena posisinya jelas. Kritikannya jelas. Mereka ada di seberang barisan. Mereka adalah sisi lain dari sekeping mata uang.

Ada kelompok lain yang tak terlihat di permukaan, tapi berbahaya. Mereka adalah orang-orang yang menjadi bagian dari struktur Pemerintah. Sel-sel yang membentuk tubuh pemerintahan. Hidup dari dan untuk suksesnya kerja Pemerintah. Dari sana mereka makan, dan kepadanya mereka bersumpah-setia. Tapi mereka justru sibuk mencaci Pemerintah.

Dari tingkat atas bisa ditunjuk sebagai kelompok koalisi pemerintahan. Partai-partai dan ormas yang dirangkul Pemerintah. Mendapat posisi dan fasilitas dari Pemerintah. Tapi nyinyir dan suka mencari celah. Orang-orang tak tahu diri ini hatinya terbelah. Ingin jadi oposisi tapi tak kuasa menolak jatah kue kekuasaan.

Dari tingkat dasar, ada PNS yang menganggap Pemerintah sebagai thoghut. Pancasila dan UUD 45 sebagai berhala. Setiap hari mengunggah berita hoax dan fitnah pada juragannya. Lebih mengindamkan khilafah daripada demokrasi Pancasila. Orang-orang ini mirip penumpang kapal yang membuat lubang di mana-mana.

Para pengkhianat selalu lahir di setiap jaman. Mereka mengambil rupa berbeda, tapi cara kerjanya sama. Senang menggunting dalam lipatan. Gemar menepuk air di dulang. Mereka parasit yang mengganggu inangnya.

Menjadi oposan yang menjengkelkan jauh lebih terhormat daripada menjadi pengkhianat. Orang-orang yang lahir sebagai pengkhianat telah menghina diri mereka sendiri. Meletakkan harkat dan martabat di dasar paling rendah.

Misalnya di tingkat atas kita sebut Gerindra dan PKS. Betapapun kasar kritikan mereka, toh mereka memang pihak oposisi. Ketidak-senangannya pada Pemerintah sudah mendarah daging sejak awal terbentuknya. Kesalahan bisa dicari. Kritik bisa muncul dari perkara sepele. Hidup dan keberadaan mereka memang untuk berbeda.

Tapi untuk partai koalisi seperti PAN atau ormas Muhamadiyah. Kritis melampaui batas adalah anomali. Contohnya gugatan yang pernah dilayangkan dulu. Jika tak suka dengan Pemerintah gampang, tarik Muhadjir. Begitu juga dengan Nasdem, Golkar, PPP, plus ormas-ormas lain. Biarkan Pemerintah bekerja. Jangan ikut melubangi perahu tempat mereka menumpang di dalamnya.

Kalau tidak cocok, keluar dari himpunan. Berdiri sebagai lawan. Bukan kawan yang menikam dari belakang.

Untuk tingkat bawah, PNS yang jijik dengan juragannya juga bisa berbuat sama. Silakan keluar dari jajaran Pemerintah. Tinggalkan jabatan. Jaga kehormatan dengan sikap ksatria. Jika tak suka dari tataran Ideologinya, enyah dari Indonesia. Jangan mengacaukan Negara dengan ide basi. Ide itu telah ditolak sejak berdirinya negara. Ide itu telah menjadi ancaman di masa lalu. Karena revolusi sekalipun tak cukup dengan segelintir orang mabuk khilafah.

Pengkhianat hadir dalam setiap legenda, pada setiap perjuangan kelompok manusia. Mereka abadi. Kisah mereka bahkan ada di banyak kitab suci. Para pengkhianat lahir dari jiwa yang miskin. Dari kepengecutan yang akut. Bermuka banyak dan mengingkari jati diri. Jangan pula bertanya tentang kesetiaan, patriotisme. Pasti mereka tidak punya.

Dalam kajian agama, bukan orang ingkar yang menghuni kerak neraka. Tapi orang-orang munafik, para pengkhianat. Manusia yang bermuka manis, menikmati fasilitas, tapi menyimpan kebencian dalam hatinya. Para pengkhianat adalah serendah-rendahnya manusia. Mereka manusia-manusia tak tahu diri yang kotor, hina, dan dekil hatinya.

(Sumber: Status Facebook Kajitow Elkayeni)

Wednesday, December 21, 2016 - 00:45
Kategori Rubrik: